SYNCHRONICITY

SYNCHRONICITY
Bagian 15


__ADS_3

"Sebentar lagi ujian dan nilai kalian berada paling bawah di antara murid lain. Bahkan semua nilai kalian di bawah rata-rata, hah~"


Seorang guru terlihat sedang menceramahi Tsukasa dan Yurika.


Yah sebentar lagi memang ada ujian sebelum musim panas tiba.


Tsukasa dan Yurika adalah murid yang memiliki nilai paling buruk.


Karena guru tersebut khawatir maka ia meminta mereka untuk mengikuti pelajaran tambahan.


Namun mereka menolak.


Yah gosip yang beredar kalau pelajaran tambahan yang di berikan oleh guru akan sangat menyiksa jiwa dan raga.


"Kami akan belajar tapi jangan pelajaran tambahan. Anu, apa ada pilihan lain selain pelajaran tambahan pak?" Ucap Yurika.


"Hm, baiklah. Tunggu disini"


Guru itu pun berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Beberapa menit kemudian guru tersebut datang bersama dengan Ryo dan Yusuke.


Dua murid paling pintar yang selalu menduduki peringkat 1 dan 2.


"Nah, Ryo dan Yusuke. Bapak mau minta tolong pada kalian untuk membantu 2 orang ini belajar. Setidaknya sampai nilai mereka di atas rata-rata"


"Ha?!" Teriak mereka berempat secara bersamaan.


"Baiklah, Ryo akan mengajari Yurika dan Yusuke akan mengajari Tsukasa"


Yurika berdiri dan menggebrak meja.


"Pak apa tidak ada orang lain selain Ryo ?!"


"Hm? Ada, mungkin dengan bapak di pelajaran tambahan. Bagaimana?"


Yurika terdiam dan menerima keputusan pak guru tersebut dengan berat hati.


Jam istirahat, mereka berkumpul di atap sekolah.


"Yusuke, bagaimana kalau belajarnya di rumahku saja" ucap Tsukasa sambil memakan onigiri miliknya.


"Hm, terserah saja" jawab Tsukasa sambil bermain game.


Yurika masih terdiam melotot melihat Ryo yang tengah sibuk membaca buku.


Lalu Yurika sedikit menurunkan buku Ryo agar bisa melihat mata Ryo.


Tatapan Ryo begitu dingin.


"Bisakah kita bicara sebentar, patung berjalan?" Ucap Yurika.


"Tidak" jawab Ryo.


"Dasar, dengar aku juga tidak mau melakukan ini. Aku tidak mau sampai ikut pelajaran tambahan jadi aku terpaksa menyetujui permintaan pak guru"


"Kalau begitu kau hanya buang-buang waktuku untuk mengajari orang yang tidak ada niat belajar, selesai kan?"


Ryo menutup bukunya dan berjalan meninggalkan Yurika dan lainnya.


Yusuke membuang nafas dan pura-pura tidak melihat kejadian tersebut.


Pada jam pejaran selanjutnya Ryo terlihat sedang menuliskan sesuatu di sebuah buku.


Dan Yurika berusaha memperhatikan penjelasan guru sambil memegang kepalanya.


Lalu tiba-tiba guru tersebut meminta Yurika untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis.

__ADS_1


Yurika benar-benar hanya bisa terdiam melihat papan tulis tersebut.


Tangannya yang memegang kapur tulis itu hanya terus bergetar tiada henti.


Guru itu pun menepuk jidatnya.


"Saya kira kamu fokus karena paham dengan penjelasan saya. Baiklah duduklah dan Ryo tolong maju gantikan Yurika"


Yurika kembali ke bangkunya dan Ryo maju dan mulai menulis jawaban dari soal yang di berikan gurunya.


Gurunya cukup kaget dengan jawaban Ryo, soalnya dia menggunakan cara yang berbeda daei apa yang di jelaskan oleh gurunya.


"Ryo, itu bukan rumus yang bapak ajarkan" ujarnya.


Dengan wajah datarnya Ryo pun menjawab.


"Tapi jawabannya sama kan? Lagi pula susunan rumus saya lebih mudah dan ringkas. Apa salahnya kalau memilih jalan yang berbeda?"


Guru itu hanya terdiam, lalu Ryo kembali duduk di bangkunya.


"Putuskan pilihanmu Yurika, mau belajar atau tidak. Itu keputusanmu, aku tidak mau buang-buang waktu untuk orang yang tidak serius" ucap Ryo pada Yurika.


Seketika itu juga Yurika menoleh pada Ryo dengan wajahnya yang memerah dan berkata kalau dia mau belajar dengan Ryo.


Ryo kaget dan wajahnya ikut memerah.


"Kenapa dadaku berdetak kencang, aku benar-benar tidak mau jatuh pada masalah yang rumit"


Ucap Ryo dalam hati.


Akhirnya besok saat pulang sekolah mereka berdua berencana untuk belajar di rumah Yurika.


Malam harinya saat Ryo sedang menulis di sebuah buku.


Ibunya menelpon dirinya, ia memastikan keadaan anaknya tersebut.


"Tidak, bu. Tidak ada hal yang terlalu menarik untuk di ceritakan"


"Sebentar lagi ulang tahunmu kan? Apa yang kamu inginkan?"


"Tidak ada"


"Baiklah, ibu akan menutup telponnya. Segera istirahat ya"


Setelah menutup teleponnya, Ryo pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi.


Tapi tiba-tiba, Yusuke menelpon dirinya memintanya untuk bertemu.


****


Di sebuah taman malam itu.


Mereka berdua sedang duduk di bangku sambil meminum kopi kalengan.


Mereka masih terdiam, Ryo pun menunggu Yusuke untuk bercerita.


Tapi tiba-tiba Yusuke meremat kaleng kosong dengan sangat kuat.


"Ryo, apakah sebagai laki-laki kita tidak bisa memilih masa depan kita?"


"Entahlah, karena aku pernah berada di posisimu. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu sekarang ini aku sedang berjalan dengan kakiku sendiri atau tidak"


"Hey, mau menginap di rumahku?"


"Tidak, aku sibuk"


Ryo melempar kaleng kosongnya dan masuk dengan tepat ke tempat sampah.

__ADS_1


"Man is valued by this future. Cuma itu yang bisa ku katakan. Aku pulang"


Ryo pun berjalan meninggalkan Yusuke.


Yusuke berdiri dari bangkunya lalu berteriak pada Ryo.


"HEY RYO, AKU SANGAT KESAL SAAT INI. BAGAIMANA KALAU KITA BERTARUH, SIAPA DIANTARA KITA YANG BERHASIL MENGAJARI MEREKA MAKA YANG KALAH HARUS MENGABULKAN KEINGINAN YANG BERHASIL, BAGAIMANA?"


Ryo tidak menoleh ke belakang dan hanya memberikan acungan jempol yang menandakan Ryo setuju.


Yusuke tersenyum pada Ryo.


****


- Yusuke Kelas 2 SMA -


Aku selalu duduk di peringkat kedua dan orang tuaku tidak pernah bangga.


Mereka selalu berkata kalau aku harus berada di peringkat pertama.


Mereka selalu berkata aku anak yang gagal karena tidak bisa mengalahkan peringkat satu.


Aku sangat penasaran siapa yang sebenarnya duduk di peringkat teratas itu.


Tapi ku dengar dia tidak pernah datang ke sekolah, kenapa hidupnya begitu beruntung?


- Yusuke Kelas 3 SMA -


Hari itu di jalan aku tak sengaja melihat seseorang yang bahkan tidak pernah kulihat di sekolah.


Dan ternyata itu kamu peringkat satu!


Hingga hari dimana pertama kalinya kita saling berkenalan, entah kenapa aku merasakan kalau dia juga seperti diriku.


Hari-hari kita lalui bersama.


Di saat aku bersama denganmu aku bisa jadi diriku sendiri dan malah melupakan persaingan kita.


Apakah kamu juga merasa tersaingi olehku? Tapi kelihatannya kamu tidak peduli.


Tapi jika sekali saja aku bisa mengalahkanmu itu sudah sedikit memuaskan hatiku sendiri.


Meski aku sadar kamu bukan orang yang mudah di kalahkan, seakan kamu bisa melakukan segalanya.


Aku begitu iri denganmu, Ryo.


****


Di rumah Yusuke, gadis kecil itu sedang di cambuk oleh ibunya sendiri.


"Dasar anak tidak berguna, kenapa kamu harus cacat begitu ha? Merepotkan! Tidak punya masa depan! Sekarang kamu sudah tidak berjalan, anak sampah!!"


"Maafkan aku ibu, maafk-"


"Maaf?! Aku tidak membelikanmu kursi roda agar kamu mandiri bisa berjalan sendiri! Tapi malah kamu sekarang tidak bisa berjalan! Kamu tidak mau berusaha ya?! Tidak berguna!! Harusnya aku tidak melahirkanmu"


Lalu terdengar bunyi bel rumah.


Ibunya segera merapikan penampilan dan meminta anak perempuannya untuk tidak menangis.


Ibunya keluar dari kamar anaknya dan menutup pintunya.


Anak itu hanya tersedu-sedu menahan rasa panas yang ada di tubuhnya.


Dia menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakitnya, namun rasanya percuma.


Tapi dia terus memaksakan diri untuk menahan rasa sakitnya agar ibunya tidak semakin kecewa padanya.

__ADS_1


-------------------Bersambung------------------


__ADS_2