SYNCHRONICITY

SYNCHRONICITY
Bagian 5


__ADS_3

Malam hari itu, Tsukasa sedang membantu ayahnya melayani pelanggan.


Hari itu tidak banyak pelanggan yang datang karena semakin hari kedai tersebut semakin sepi.


Lalu tiba-tiba Ryo dan Yusuke datang ke kedai keluarga Tsukasa.


Tsukasa yang mengetahui mereka datang langsung menghampiri mereka.


Yusuke mengatakan kebetulan mereka lewat di daerah tersebut, dan Ryo ingin makan sesuatu.


Lalu Ryo menemukan kedai ini, ternyata kedai milik keluarga Tsukasa.


Lalu setelah mereka memilih tempat duduk, Ryo dan Yusuke memesan banyak sekali makanan.


Mereka makan dengan lahap karena makanan di kedai itu sangat enak.


Tsukasa duduk di dekat mereka dan memperhatikan tingkah mereka yang tidak terlihat mencurigakan.


"Kalian tidak merencanakan sesuatu?" Ucap Tsukasa.


"Tidak" dan lagi Ryo dan Yusuke menjawab secara bersamaan.


Lalu ayah Tsukasa menghampiri mereka dan memberikan bonus makanan.


Bonus makanan tersebut ia berikan karena mereka sudah mau menjadi teman Tsukasa.


Lalu ayah Tsukasa berkata kalau dia harus segera ke rumah sakit untuk menemani ibu Tsukasa, jadi dia menitipkan kedai pada Tsukasa.


Sembari menunggu mereka selesai makan, Tsukasa pun membereskan toko sedikit demi sedikit.


Setelah Ryo dan Yusuke selesai makan, Ryo hendak membayar makanan tersebut tapi dia tidak membawa uang.


Tsukasa tentu saja marah tapi Ryo menjelaskan pelan-pelan.


"Apa bisa ku transfer saja? Kalau dalam 24 jam aku tidak membayar kamu bisa datang kerumahku dan membunuhku disana"


Ryo memberikan kertas yang bertuliskan alamat rumahnya.


Karena dari mata Ryo tidak terlihat sedikit kebohongan, akhirnya Tsukasa percaya dan memberikan nomer rekeningnya.


Ryo dan Yusuke pun kembali kerumah mereka.


Saat mereka menunggu bis, Yusuke bertanya pada Ryo kenapa dia berbohong soal pembayaran tadi.


Karena nyatanya Ryo punya uang cash.


Namun Ryo mengatakan kalau itu rahasia.


"Tapi kenapa kamu bisa tahu alamat rumah Tsukasa?" Tanya Yusuke lagi.


"Hm, Rahasia"


Yusuke membuang nafas panjang, lalu bis yang mereka tunggu pun datang.


Mereka pun bergegas naik.


Yurika tampak sedang sibuk mengerjakan ujian susulan, dia yang tidak terlalu pintar sangat kesulitan saat mengerjakan soal tersebut.


Lalu dia membuka ponsel dan mencoba menelpon Aoi.


Sambil mengerjakan soal mereka pun saling berbincang.


Ryo tampak sudah sampai di rumahnya, ia bergegas mandi dan mengurung diri di kamar.


Tanpa ragu, Ryo mentransfer seluruh uang pemberian ibunya ke rekening kedai milik Tsukasa.

__ADS_1


"Kenapa bisa kebetulan begini ya, untung saja aku mendapat uang yang banyak dari pekerjaanku" ucap Ryo dalam hati.


Sambil berbaring di kasur, dia kembali membaca buku yang tadi ia pinjam.


Beberapa menit kemudian dia mendapat email dari seseorang yang meminta jasanya.


Dia membaca seluruh isi email tersebut di ponselnya.


Setelah membaca berulang kali Ryo memilih mengabaikan email teresebut dan kembali membaca buku.


Pagi harinya Ryo berangkat sekolah dengan menaiki sepedanya, namun entah karena apa ban sepeda miliknya bocor.


Padahal sebelum berangkat ke sekolah dia selalu mengecek kondisi sepedanya itu.


Akhirnya ia memutuskan untuk menuntun sepedanya, selang beberapa saat sebuah mobil berhenti di dekatnya.


Pintu di bangku belakang mobil terbuka dan terlihat Yurika yang duduk disana.


"Hey, patung hidup. Hitungan ketiga kalau tidak masuk ke dalam aku akan meminta supirku untuk tancap gas" ucap Yurika.


"Satu..."


Ryo terdiam.


"Dua..."


Ryo melanjutkan langkah kakinya tanpa memperdulikan Yurika.


"Tiiii...."


Masih tetap tidak mendengar Yurika.


"Tiiii...."


Melihat Ryo yang tidak merespon, Yurika turun dari mobil dan menarik Ryo untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Tenang saja, nanti ada pelayanku yang mengurusnya"


Ryo melirik dingin ke arah Yurika.


Karena Ryo yang malas mengobrol, dia membuka buku perpustakaan danĀ  membacanya.


Yurika yang memperhatikan Ryo yang membaca jadi teringat saat Yurika merebut buku miliknya.


Karena tidak mau terulang hal yang membuat dia kesal, Yurika mengambil buku di tasnya dan pura-pura membaca.


"Hey dengar, aku akan membaca jadi jangan mengganggu" ucap Yurika.


Ryo melirik ke arah Yurika.


"Bukunya terbalik" ucap Ryo.


Yurika yang seketika malu langsung membenarkan bukunya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Supir Rukika yang melihat mereka dari kaca mobil, hanya bisa menahan tawanya.


Sesampainya di sekolah mereka menuju kelas bersamaan, Ryo menutup bukunya dan mengucapkan terima kasih kepada Yurika.


Yurika terhenti dengan wajah terkejut mendengar ucapan terima kasih dari Ryo.


"He, aku hanya membalas perbuatan tidak sopanmu waktu itu" ucap Yurika sambil memalingkan wajah.


Ryo menghela nafas dan kembali berjalan menuju kelas sendirian.


Saat ia berjalan sambil membaca buku menuju kelasnya Ryo tidak sengaja menabrak seorang anak yang tengah berjalan dengan gengnya.

__ADS_1


"Ah Maaf aku-"


*Duagh*


Anak buahnya langsung memukul Ryo sampai jatuh.


"Beraninya kau menabrak bos kami!" Ucap anak itu.


Lalu Tsukasa dan Yusuke datang untung membantu Ryo berdiri.


"Ha, bos Tsukasa?" Ucap para anak buah itu.


Tsukasa memperhatikan mantan teman gengnya dan melirik sinis ke arah bos baru mereka.


Tsukasa mendekati anak itu.


"Jangan berani-berani menyakiti temanku" ucap Tsukasa


"Orang-orang culun lemah itu temanmu? Haha lihat mantan bos kalian, dia malah berteman dengan anak lemah itu. Tapi..."


Anak itu mendekat pada Tsukasa dan berbisik padanya.


"Keluargamu masih berhutang denganku loh"


Setelah mengatakan itu dia pun berjalan pergi, beberapa anak buahnya mengikuti anak tersebut kecuali satu orang yang ingin berbincang dengan Tsukasa.


"Tsukasa, kau yakin berteman dengan mereka?"


"Jauh lebih baik daripada aku harus berteman dengan orang yang membuatku menjadi anak yang durhaka"


"Baiklah, tapi aku harap kamu hati-hati dengan bos kami. Aku pergi"


Anak itu langsung berlari mengejar teman gengnya.


Tsukasa dan Yusuke membantu Ryo agar dia di obati di UKS.


Setelah selesai di obati, Tsukasa menyanyakan perihal uang pembayaran makanan yang sepertinya kelebihan.


Tapi anehnya, Tsukasa juga tidak mendapat pesan bukti transfer.


"Uang yang kuberikan pas, mungkin kamu tidak pernah mengecek keuangan kedaimu jadi kaget dengan jumlah yang bertambah banyak" ucap Ryo.


Tsukasa merasa apa yang di katakan Ryo benar, Yusuke menghela nafas dan menepuk kepala Ryo.


"Kenapa kamu bisa bermasalah dengan anak orang kaya itu sih"


"Aku tidak sengaja menabraknya saat aku membaca buku, eh tunggu dimana bukunya?"


Ryo mencari-cari buku yang ia pinjam di perpustakaan itu.


Tsukasa dan Yusuke juga baru sadar kalau Ryo memang selalu membawa buku tersebut.


Ryo tampak sedih padahal dia ingin membacanya untuk kedua puluh kalinya.


Ryo mencoba menenangkan diri dan memilih untuk kembali ke kelas saja.


Yusuke memegang pundak Tsukasa menahannya pergi dari UKS itu.


"Aku dengar kamu berhutang dengan keluarga anak itu?"


"Telingamu tajam juga, yang jelas jangan beritahu siapapun karena nyawa ibuku ada di tangan keluarganya"


Tsukasa berlari meninggalkan Yusuke.


"Keluarga itu benar-benar banyak masalah ya...." Ucap Yusuke dalam hati.

__ADS_1


-------------------Bersambung-----------------


__ADS_2