
"Ha? Tidak juga, aku tidak tahu jika kamu sedang menyamar," jawab Fiqan.
"Aku tebak mereka pasti ada di salah satu ruangan VIP, kita akan mencari ruang VIP di sampingnya, aku sudah membawa penyadap, nanti kita berpura-pura salah masuk kamar lalu kamu sebisanya meletakkan penyadap itu di kamar itu," ucap Stella.
"Ha? Kenapa kamu memberikan tugas yang berat itu kepadaku?" tanya Fiqan.
"Karena kamu laki-laki," jawab Stella seenaknya.
"Justru jika kamu yang meletakkannya mereka tidak akan curiga karena suka dengan perempuan," ucap Fiqan.
"Itulah masalahnya, meskipun mereka suka bermain dengan perempuan, mereka justru lebih tidak mempercayai perempuan karena kebanyakan perempuan adalah salah satu strategi untuk mencari informasi," jawab Stella.
Fiqan mengangguk-angguk. "Berati kamu sudah mengerti di dunia mafia juga ya?" tanya Fiqan.
"Hm… tidak juga, aku hanya pernah ikut ayahku memergoki sebuah organisasi, dan malah jadi umpan nya, sayangnya mereka tidak percaya denganku dan saat itu aku hampir saja di lecehkan, untungnya ayah dan para polisi yang lain langsung menangkap para penjahat itu atas dasar pelecehan, dan saat di bawa ke kantor polisi, para polisi yang lain mencari bukti yang lebih dalam lagi dan akhirnya mereka menemukan kejahatan lainnya, makanya aku menyuruhmu melakukan itu," jelas Stella.
Fiqan mengangguk-angguk. "Begitu rupanya, tapi kenapa kamu ingin melakukannya lagi? Bagaimana jika kejadian itu terulang lagi?" tanya Fiqan penasaran.
"Tenang saja, aku sudah membawa peralatan yang di butuhkan, aku sudah membawa parasut, tali yang sangat panjang, senjata api, dan juga pakaian pelindung," jawab Stella tersenyum.
__ADS_1
"Berapa buah yang kamu bawa setiap barang?" tanya Fiqan.
"Satu," jawab Stella singkat.
Fiqan langsung manyun dan memutar bola matanya. "Itu sama saja menyelamatkan diri sendiri saja, jika tertangkap dia bisa mengunakan peralatannya sendiri, lalu kami bagaimana?" ucap Fiqan dengan suara kecil sambil menatap ke jendela mobil.
"Kamu bilang apa?" tanya Stella melihat Fiqan komat Kamit.
"Eh… bukan apa-apa, jadi? Apa masih jauh?" tanya Fiqan mengalihkan pembicaraan, jika di dengar oleh Stella, wanita kan sangat sensitif.
"Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Stella.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di club malam, Stella memarkirkan mobilnya di depan club malam itu.
"Iya, karena ini sudah termasuk larut malam," ucap Stella.
"Mereka nggak perlu tidur malam kah?" tanya Fiqan.
"Mereka orang kaya, bisa tidur kapanpun. Ya udah ayo masuk, ingat! Jangan sampai mencurigakan," ucap Stella mengingatkan.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah," jawab Fiqan.
Mereka pun masuk ke dalam club tersebut, Stella menghampiri pegawai pria yang sedang menunggu di depan meja.
"Ada yang bisa kami bantu Nona?" tanya pegawai itu.
"Hm... kami butuh satu ruang VIP, berapa harganya permalam?" tanya Stella.
"Permalamnya 2 juta," jawab pegawai itu. Stella membuka dompetnya lalu menyerahkan uang 2 juta dan menaruhnya di meja.
"Terima kasih Nona, ini kartu untuk membuka kunci dan nomor kamar Anda," ucap pegawai itu menyerahkan sebuah kartu kepada Stella dengan kedua tangannya.
"Terima kasih. Hm... bolehkah aku bertanya?" tanya Stella.
"Silakan Nona," jawab pegawai itu.
Stella mengeluarkan sebuah foto dari tasnya. "Apa kamu kenal dengan orang ini? Dia sekarang berada di kamar nomor berapa? Soalnya dia menyuruhku untuk datang ke ruangannya," ucap Stella memperlihatkan foto tersebut dengan karyawan itu.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih