
Xxx
Malam pun tiba.
Triring
Triring
Triring
Ponsel milik Fiqan berbunyi.
"Halo," jawab Fiqan.
"Kamu di mana?" tanya Stella.
"Aku di rumah, ada apa?" tanya Fiqan.
"Apa kau lupa ingatan? Kita akan mengotopsi tubuh kedua wanita itu," ucap Stella.
"Oh, iya, aku mandi dulu," ucap Fiqan yang langsung memutuskan panggilannya.
"Dia ini ya, benar-benar, memutusakan panggil seenaknya saja," ucap Stella kesal.
Fiqan bangun dan segera mandi, malam ini ia mengunakan jaket hitam dan celana jins biru. Setelah selesai, Fiqan langsung menuju kantor polisi.
Ding ding
Anda mendapatkan box merah
Apa Anda yakin ingin membukanya?
[Ya]
[Tidak]
Fiqan menyentuh tulisan Ya
__ADS_1
Ding Ding
Misi baru
Temukan pelakunya
Status misi sedang berlangsung.
Mobil Fiqan berbelok mengarah ke kantor polisi berhenti tepat di depan Stella.
"Cepat juga kamu datangnya," ucap Stella menyengir.
"Jika tidak aku bakal di marah sama mak lampir," jawab Fiqan seenaknya.
"Kamu mengatai ku?" tanya Stella membelalakkan matanya.
"Kenapa kamu marah, aku tidak mengatai mu, apa kau merasa menjadi nenek lampir?" tanya Fiqan menyengir.
"Sialan kamu, Ayo cepat," ucap Stella masuk ke dalam mobil Fiqan.
"Tumben temanmu nggak ikut," ujar Stella tidak menggubris pertanyaan Fiqan.
"Ayahnya sakit sedang di rawat sekarang, rumah sakit mana ini?" tanya Fiqan duduk di kursi pengemudi.
"Rumah sakit kasih ibu," jawab Stella.
Fiqan langsung tancap gas melaju di jalanan menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ruang otopsi.
"Selamat datang," ucap penjaga ruangan tersebut.
"Ayo segera periksa, sebelumnya aku sudah meminta izin dengan mereka, aku mengatakan jika yang memeriksa ini adalah detektif terkenal, jadi kerjakan tugasmu dengan benar," ucap Stella.
"Kamu bicara seperti itu menyulitkan ku," ucap Fiqan. Stella menatap tajam ke arah Fiqan.
"Baiklah, baiklah, aku akan bekerja dengan baik," ucap Fiqan memakai sarung tangan, meskipun di dalam ruangan sudah ada lampu tapi ia tetap memakai lampu di kepalanya.
__ADS_1
Fiqan memeriksa dari atas sampai bawa. Akhirnya ia pun menemukan sesuatu pada tubuh pertama.
"Aku mendapatkannya," ucap Fiqan tersenyum.
Ia kembali memeriksa tubuh yang kedua, Fiqan juga menemukan sesuatu, ia pun menyimpannya.
"Hm... apa bisa kumpulkan keluarganya?" tanya Fiqan.
"Tapi ini sudah malam, apa tidak besok saja?" saran Stella.
"Aku sudah menemukan buktinya," ucap Fiqan.
"Apa kau serius? Wah kau benar-benar hebat, aku akan menelpon petugas yang lain," ucap Stella bersemangat.
"Halo," jawab suara di seberang sana.
"Temanku sudah menemukan bukti siapa pelakunya, dia minta untuk mengumpulkan anggota keluarganya saat ini," ucap Stella.
"Baiklah," jawab petugas itu memutuskan panggilannya.
"Hey! Siapa pelakunya?" tanya Stella penasaran.
"Tentu saja rahasia," jawab Fiqan tersenyum.
"Katakan saja pada ku, atau bisikkan saja jika kau tidak ingin orang lain mendengarkannya," pinta Stella.
Fiqan mendekati wajahnya ke arah telinga Stella, bukan bisikan yang terdengar, melainkan suara nafas membuat wajah Stella memerah. Stella tetap terdiam dan berharap mendapatkan jawaban.
Tiba-tiba saja Fiqan tertawa ngakak. "Sialan! Aku di kerjai," ucap Stella kesal.
"Haish … ini adalah rahasia bagi detektif, tidak boleh orang lain tau sebelum pelakunya ada di sini, ini namanya adalah privasi," ucap Fiqan terkekeh.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih.
__ADS_1