System Kekayaan Super Box

System Kekayaan Super Box
BAB 62


__ADS_3

"Itu sudah menunjukkan jika dia sangat putus asa dan memendamnya sendiri, seseorang apa bila frustasi maka jika tidak di dampingi maka dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya, contoh yang di alami oleh anak ibuk ini, dia masih dalam fase labil jadi emosinya naik turun, anak yang seperti ini harus terus di perhatikan," ucap Fiqan.


Sang ibu menangis dan sangat menyesal, ia menangis terisak-isak sambil menutup wajahnya.


"Maafkan ibu… ibu tidak berpikir begitu, ibu pikir kamu baik-baik saja, maafkan ibu," ucap ibu itu menangis.


"Semuanya sudah selesai kan? Jadi aku ingin pulang sekarang," ucap Fiqan.


"Baiklah, para petugas yang lain akan menyelesaikan tugasnya dan kamu… antar kan aku pulang," ucap Stella.


"Kamu tidak membawa mobil?" tanya Fiqan.


"Tadinya bawa, tapi mobilku rusak dan sekarang sedang di bengkel," jawab Stella.


"Jadi kamu nggak pulang dan nggak mandi?" tanya Fiqan mengangkat alisnya.


"Hey! Aku pulang dan sudah mandi, tapi aku minta jemput sama temanku dan sekarang dia sudah pulang," jawab Fiqan manyun.


"Hm… aku tau, kau pasti sengaja menyuruh temanmu pulang agar bisa di antar olehku kan?" goda Fiqan.


"Idih…ga ya jangan GR kamu, cepat antar kan aku, aku sudah mengantuk," ucap Stella pura-pura menguap dan menutup mulutnya.


"Baiklah, ayo pulang," ajak Fiqan menarik tangan Stella.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan Fiqan pun melajukan mobilnya.


Ding Ding

__ADS_1


Misi selesai


Anda mendapatkan box merah


Apa Anda yakin ingin membukanya?


[Ya]


[Tidak]


Fiqan menyentuh tulisan Ya


Ding Ding


Selamat Anda mendapatkan uang 300.000.000


Selamat Anda mendapatkan mobil Sport edisi terbatas


Ding Ding


"Rumah kamu di mana?" tanya Fiqan.


"Di jalan manggis blok C nomor 20," jawab Stella.


Fiqan mengangguk mengerti, ia menuju arah rumah Stella.


"Kamu… kamu kuliah di mana dan apa jurusan mu?" tanya Stella membuka pembicaraan setelah beberapa menit terdiam.

__ADS_1


"Aku kuliah di Hyawarang jurus manejemen," jawab Fiqan.


Stella mengangguk-angguk. "Kamu di jurus manajemen kenapa bisa melakukan deduksi? Menjadi detektif itu sulit, ia harus mencari bukti yang akurat baru bisa memberi keterangan, dan kamu sebentar saja sudah tahu jawabannya, kau malah lebih cocok jadi detektif saja," ucap Stella.


"Hm… anggap saja ini kerja sampingan, aku harus menikmati hidupku," ucap Fiqan.


"Hm… apa yang bisa kami nikmati?" tanya Stella memandang ke luar jendela.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Fiqan.


"Ha? Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Stella kaget.


"Apa aku salah menanyakan?" Fiqan Balik bertanya.


"Tidak, lalu kenapa jika aku tidak punya pacar," ucap Stella menarik sudut bibirnya.


"Jika kamu punya pacar kamu sudah pasti minta jemput sama pacarmu, tapi kamu malah merepotkan ku untuk mengantarmu," ucap Fiqan.


"Sialan! Kau benar-benar menyebalkan ya, wajah dan sifat mu sangat jauh berbeda, eh bukan, kamu dan wajahmu sangat menyebalkan ya, aku yakin saat ini kamu pasti jomblo, tidak ada yang menyukai pria yang menyebalkan sepertimu," umpat Stella kesal.


"Hahaha… laki-laki suka tidak suka denganmu karena kamu sangat cerewet," balas Fiqan.


"Kamu itu sangat menyebalkan!" ucap Stella mendengus kesal.


"Baiklah, baiklah aku memang menyebalkan, tapi orang menyebalkan yang tampan," ucap Fiqan terkekeh.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2