System Kekayaan Super Box

System Kekayaan Super Box
BAB 61


__ADS_3

"Kenapa bisa kakak laki-laki mu melukainya?" tanya Fiqan.


"Aku… dia… dia menyukainya, di menelpon Syela, karena aku mendengarnya aku mengikutinya dan aku memang mendengar pertengkaran mereka, bahwa kakak laki-laki ku itu menyukai Syela namun Syela menolaknya dengan kasar, karena tak terima ia melukainya, aku berusaha bantu tapi sayang aku juga terluka, aku menyesal karena tidak bisa menyelamatkannya, aku menelpon polisi dan langsung membuang kartunya, setelah polisi datang aku pun pergi meninggalkan tempat itu dan berusaha pergi jauh, aku sendiri tidak tahu kamu mendapat nomor baru ku dari mana. Tapi sekali lagi, aku minta maaf, aku juga meminta maaf untuk saudara laki-laki ku, aku akan mencarinya dan akan menyuruhnya untuk mempertanggung jawabkan atas kesalahannya," ucap Boby.


"Aku tidak hanya ingin dia bertanggung jawab, aku juga ingin dia mati untuk menemani anakku!" teriak ibu Syela menangis tersedu-sedu.


"Tante, Tante jangan sedih donk, ayo duduk dulu," ucap Yumi memegang bahu ibu Syela dengan berurai air mata.


"Aku juga akan bertanggung jawab agar aku tidak menyesal seumur hidupku," ucap Boby menundukkan kepala dengan air mata jatuh ke lantai.


"Kau cukup jadi saksi saja, jadi saat ini kamu dalam pengawasan para petugas berwajib, aku harap kamu tidak lari," ucap Stella.


"Baiklah, untuk masalah pertama sudah selesai, sekarang kita lanjutkan korban kedua," ucap Stella melihat ke arah Fiqan.

__ADS_1


Fiqan menarik nafas. "Untuk korban kedua, aku tidak menemukan pelakunya," jawab Fiqan.


"Apa maksudmu? Kau tidak tahu siapa pelakunya? tapi katamu kau detektif hebat," ucap Stella menekuk alisnya.


"Siapa yang bilang aku detektif hebat, kamu sendiri yang bilang aku hebat. Aku tidak menemukan pelakunya karena pelakunya adalah dirinya sendiri," ucap Fiqan.


"Eh, apa maksudmu? Dia ingin membunuh seseorang tapi dia yang malah terbunuh?" tanya Stella penasaran.


"Tidak, dia bunuh diri," jawab Fiqan.


"Itu kan pendapat seseorang yang belum terbukti kebenarannya, tapi pada kenyataan ya aku melihat jika dia bunuh diri, tapi tidak tau apa yang dia pikirkan kenapa dia harus mati di sana, mungkin biar orang lain agar bisa menemukannya," ucap Fiqan.


"Apa kau punya bukti jika dia bunuh diri?" tanya Stella.

__ADS_1


"Aku menemukan serpihan kaca di bagian luka di lehernya, ini menandakan jika ia melukai lehernya," jelas Fiqan.


"Kan bisa saja jika pelaku yang melukainya lalu meletakkan di tempat itu," ucap Stella.


"Waktu di hari kejadian ia ada berpergian nggak?" tanya Fiqan kepada keluarga korban kedua.


"Iya, dia pamit, waktu itu dia seperti biasa dan tidak terjadi apa pun, cuma sebelum itu dia sempat menelpon, tapi aku tidak mendengar jika ponsel berdering, setelah ku telpon lagi, ponsel itu masuk tapi tidak di angkat dan keesokan harinya dia tidak pulang, aku pikir dia tidur di rumah tamannya dan saat aku melihat berita pada pagi harinya ternyata anakku yang sudah meninggal," jelas ibu sambil menangis.


"Apa dia punya pacar?" tanya Fiqan.


"Iya, tapi katanya sudah putus, tapi aku sering mendengar jika dia menelpon seseorang di dalam kamarnya, saat aku menanyainya dia tidak mau cerita," ucap ibu itu lagi sambil menyesal.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2