
"Berapa harganya dia ?" tanya Tuan Damar sembari memindai perempuan yang memakai dress seksi, di hadapannya.
"Harga pemula Tuan." jawab Nyai Mona menyeringai, sambil menggerakkan kipas lipat miliknya.
"Cantik. Masih disegel ?" imbuh Tuan Damar dengan seringainya.
"Yes, masih disegel Tuan !" jelas Nyai Mona antusias.
"Aku mau dia, tapi rias wajahnya dulu, dan hapus air matanya." pinta Tuan Damar, lalu bergegas masuk ke salah satu kamar.
"Siap Tuan." kata Nyai Mona mengangguk ramah.
Indadari pun membatin "Aku gak mau disentuh tua bangka itu Ayah, tolong aku...."
Nyai Mona pun berbalik dan berkata "Jangan nangis terus dong cantik, ya." tersenyum sembari menghapus air mata Indadari dengan kedua tangannya.
"Saya takut Nyi...." lirih Indadari yang masih menangis.
"Kau tenang saja ya, lama-lama juga terbiasa." tutur Nyai Mona dengan mengusap-usap pundak kanan Indadari.
Lalu Nyai Mona bergegas mengajak Indadari ke ruang rias.
Sementara itu, di dalam mobil yang menuju pasar malam, Fajar sedang melakukan video call bersama perempuan yang telah dijodohkan dengannya.
"Maaf ya Mas, aku gak jadi nemenin kamu ke ...." sesal Anisa (perempuan berhijab), dipotong oleh Fajar "Gak papa catri, kamu kan pilek, tuh suara kamu aja masih bindeng begitu."
"Catri, catri apa mas ?" tanya Anisa penasaran
"Catri, calon mantri." canda Fajar, kemudian tertawa kecil.
"Lumayan lah Mas." nilai Anisa yang terkekeh kecil.
Sebenarnya Anisa sudah tau kepanjangannya, ketika Fajar berkata calon mantri, namun Anisa ingin mendengarnya dari mulut Fajar.
__ADS_1
"Catri itu calon istri." larat Fajar, yang membuat pipi Anisa bersemu merah.
"Kita jadi nyamuk nih Bu Yah, Tan'." sindir Yusuf adik Fajar, yang sedang menyetir.
Semua orang di dalam mobil pun tertawa, karena perkataan Yusuf, kecuali Ayah Anton dan Fajar.
"Maaf ya Nis, ada nyamuk jomblo yang iri nih." sindir balik Fajar.
"Iri, iya juga sih." batin Yusuf merengut.
"Udah dulu ya Nis, nanti aku bawain sesuatu dari pasar malam. Cepat sembuh Nis." ujar Fajar dengan tersenyum,
"Oke Mas aku tunggu lamar... Eh maksudnya oleh-olehnya. Assalamualaikum." Kemudian Anisa langsung menutup video call-nya sepihak.
"Waalaikumsalam." jawab Fajar. "Gemesin banget sih." batinnya.
Beberapa menit kemudian, mobil keluarga Fajar telah sampai di parkiran pasar malam.
Semua orang pun bergegas keluar, kecuali Fajar, yang masih menunggu kursi rodanya diturunkan dari bagasi mobil.
"Thanks Suf." ucap Fajar yang berusaha turun dari dalam mobil.
"Mau dibantu Nak ?" tawar ibunda Fajar bernama Yuni.
"Gak usah dibantu Bu, biar dia turun sendiri !" protes Anton ayahanda Fajar.
"Tapi Yah...."
"Biarin aja Bu !"
Setelah beberapa menit, ayah dan ibu Fajar masih berdebat, Tante Lia pun menepuk-nepuk bahu kakak dan iparnya bersamaan.
"Hay kalian, udah debatnya ! Ponakanku udah duduk manis tuh." jelas Tante Lia sambil menatap Fajar yang sudah duduk di kursi rodanya.
__ADS_1
Di lokalisasi.
"Ayah, aku takut...." batin Indadari sedih, sambil mengusap liontin di kalungnya.
"Hey, jangan menangis terus cantik, nanti riasan kau luntur. " kata Nyai Mona sembari merias wajah Indadari.
Kring-kring ! HP Nyai Mona berbunyi, ia pun menaruh alat riasnya di atas meja.
"Kau tunggu di sini ya cantik." pinta Nyai Mona tersenyum, lalu pergi untuk menerima telepon.
"Apa lebih baik aku kabur aja ya ?" cetus Indadari, yang kemudian melihat-lihat sekeliling.
"Ada jendela !" batin Indadari senang.
Glek glek glek ! Bunyi jendela yang berusaha dibuka oleh Indadari, namun gagal.
"Ah masih dikunci lagi, gimana cara bukanya ya?" gumam Indadari berpikir keras, sambil mengedarkan kedua matanya ke segala arah.
Indadari melihat peniti di atas meja rias, membuatnya memiliki ide untuk memasukkannya itu ke lubang kunci jendela.
"Plis bisa dibuka, plis !" batin Indadari, terus memutar peniti-nya
Nyai Mona sudah menutup sambungan telponnya, dan bergegas kembali.
"Syukurlah terbuka !" batin Indadari lagi, menaruh peniti itu di atas meja rias tadi, lalu membuka jendela dengan kedua tangannya.
Beberapa saat kemudian...
"Cantik Nyai Mona kembal... Astaga !" kagetnya saat melihat jendela sudah terbuka dan Indadari pun sudah tak ada.
Ptok-prok ! Nyai Mona bertepuk tangan untuk memanggil asistennya, tak lama kemudian Rio pun datang.
"Indadari kabur lewat jendela, utus 5 orang kita untuk cari dia !" perintah Nyai Mona.
__ADS_1
"Siap Nyi." patuh Asisten Rio, segera melaksanakan tugasnya.
Bersambung....