
Umi Nana sedang duduk berhadapan dengan Fajar, serta Indadari yang duduk di sebelah kursi roda, tengah menikmati sarapan di piring masing-masing, dalam satu meja.
"Habis ini, rencana kalian apa ,?" tanya Umi Nana, sembari menyendok sarapannya.
"Emm, rencananya saya mau ngajak Ndari pulang ke rumah saya Umi." cetus Fajar, yang membuat istrinya terbatuk-batuk.
Spontan Fajar menuangkan air ke dalam gelas, kemudian diberikannya, dan langsung diminum istrinya.
Setelah itu, Indadari berdehem. "Maaf, sebentar ya Umi." izinnya, lalu mendorong kursi roda suaminya menuju teras rumah.
"Mas mau ngajak saya pulang ke rumahnya Mas ?" tanya Indadari memastikan, berdiri di hadapan suaminya.
"Iya." jawab Fajar singkat, membuat Indadari menutup mulut dengan tangan kanannya.
"Gak usah Mas, kita kan nikahnya cuma karena salah paham." tolaknya.
"Saya tau Ndari, tapi kan pernikahan itu bukan permainan, saya udah njawab ijab kabul itu, berarti saya juga udah berjanji kepada Allah, buat bertanggung jawab terhadap kamu, saya yakin kamu juga tau tentang itu." tutur Fajar panjang lebar.
"Tapi Mas...." "Apa kereta saya cacat, jadi kamu gak mau ikut saya pulang ?" Fajar memotong kalimat istrinya.
"Bukan gitu Mas, saya cuma gak enak sama keluarga kamu." jelas Indadari.
__ADS_1
"Kalau gak enak, kasih ke Kukang aja." gurau Fajar.
"Iih Mas, malah becanda, lagian dimana-mana orang bilangnya kasih ke Kucing, bukan Kukang." timpal Indadari terkekeh.
"Ya udah ya udah, kamu masuk dulu ya, saya masih mau di sini." pinta Fajar, Indadari pun mengangguk, lalu berjalan masuk ke rumah tersebut.
"Ya Allah... Gimana cara jelasin tentang Ndari ke semuanya ?..." batin Fajar, mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. "O iya, sebelum cara jelasin, gimana cara pulangnya dulu nih ?!" imbuhnya, mulai berpikir.
Sementara itu, mobil Anisa baru saja berhenti di suatu parkiran.
"Tempatnya udah sepi Suf." kata Anisa, saat melihat suasana dari balik kaca mobilnya.
"Iya Kak.Kak Nisa ikutin aku aja ya." balas Yusuf, lalu bergegas turun dari mobil.
Mereka berdua pun berkeliling satu lapangan, bekas pasar malam kemarin, yang kini telah kosong melompong itu.
"Aku dilempar batunya di sini Kak, ini batunya." jelas Yusuf, sambil menunjuk batu yang lumayan besar.
Anisa mengangguk-angguk. "Kamu tau gak yang ngelempar siapa ?" tanyanya kemudian.
"Ya kan tadi aku udah bilang Kak, pas aku mau nyalain senter HP, tiba-tiba aku dilempar batu, lagian tempat ini gelap banget kemarin, jadi aku gak liat" tutur Yusuf sedikit kesal.
__ADS_1
"O iya ya." ujar Anisa tersenyum.
Keduanya memutuskan untuk menyusuri juga, tempat yang ditumbuhi pepohonan itu.
"Suf sini !" panggil Anisa, dan gegas dihampiri Yusuf. "Ini botol minumnya Mas Fajar kan ?" tanyanya memastikan, sembari mengambil benda tersebut.
"Iya Kak bener !" jawab Yusuf antusias.
Di sekitar pos ronda....
"Terima kasih ya Umi udah nganterin kami ke sini." ucap Fajar tersenyum.
"Iya Nak sama-sama, dari tadi terima kasih terus." timpal Umi Nama terkekeh, yang membuat Fajar dan Indadari ikut terkekeh. "Ya udah Umi tinggal dulu ya." lanjutnya.
Fajar pun meraih tangan kanan Umi Nana dan mencium punggung tangannya, nan diikuti Indadari setelahnya.
"Assalamualaikum". salam Umi Nana. "Waalaikumsalam." jawab mereka berdua kompak.
Kemudian Umi Nana melangkah pergi, tak lama setelah ia telah menghilang dari pandangan....
"Apa kabar Indadari ?" seringai Rio (asisten Nyai Mona), yang tiba-tiba muncul dari belakang pos ronda.
__ADS_1
Bersambung....