Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.16


__ADS_3

"Astaghfirullah hal adzim... Maafin aku Nis... Aku udah mengkhianati cinta kamu, dengan menikahi perempuan lain... Maafin aku...." lirih Fajar dalam hati.


"Kamu kenapa Mas, kok nangis ? Ada yang sakit ya ?!" cetus Anisa khawatir.


"Nis, maaf ya, boneka yang aku kirimin fotonya ke WA kamu kemarin, udah aku kasih orang lain." ucap Fajar


Anisa nampak bingung. "WA yang mana Mas ? Orang chat aku aja belum kamu bales, tapi apapun itu gak masalah Mas, yang penting buat aku sekarang itu, kondisi kamu." timpalnya.


Perkataan Anisa semakin membuat Fajar merasa bersalah. "Ya Allah... Apakah ini hukuman untuk hamba, karena mengkhianati Anisa...." rintihnya dalam hati, dengan mata berkaca-kaca.


"Sakit banget ya Mas, mana yang sakit ? Biar aku kompres, tapi maaf ya Mas air yang buat ngompres udah agak dingin." kata Anisa kembali khawatir.


"Udah, aku gak papa kok Nis, makasih." balas Fajar. "O iya, kamu ke sini sendiri, kamu tau aku di sini dari siapa ?" tanya Fajar bertubi.


"Aku di kasih tau Yusuf, kalau kamu hilang pas dikejar orang, karena kamu nolongin perempuan." ringkas Anisa, sembari mengelap air matanya menggunakan kedua tangan. "Aku jadi penasaran Mas, kondisi perempuan itu gimana, dimana dia sekarang ?" tanyanya balik.


"Astaghfirullah, Ndari !" batin Fajar, teringat pada istrinya.


"Mas Fajar !" pekik Indadari, yang terbangun dari mimpi buruknya tentang kejadian tadi, masih di atas ranjang lokalisasi.


Indadari pun meneteskan air mata, saat mengingat kondisi terakhir suaminya, ditambah lagi malam ini, ia harus melayani nafsu laki-laki tua tersebut.


Perempuan itu beranjak dari tempat tidur, lalu menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci, sembari berseru "Bang Rio, Bang Rio, Bang Rio !..."

__ADS_1


Singkat cerita, orang yang dipanggilnya telah masuk. "Ada apa si !..." Plak ! Tampar Indadari tiba-tiba, memotong perkataan Rio.


Membuat 2 anak buah yang berjaga di depan pintu kamar itu ingin masuk, namun mereka di-stop tangan kiri Rio. "Kamu tampar saya !?" geramnya, sambil memegangi pipi bagian kiri juga.


"Iya, itu buat Bang Rio karena udah mukulin Mas Fajar." balas Indadari, yang kemudian (Duk !) menendang kejantanan Rio. "Aah !" pekiknya kesakitan. "Uuh...." desah kedua anak buah, ikut ngilu melihatnya.


"Kamu !" marah Rio, hendak membalas tamparannya. "Emang Bang Rio berani nampar aset Nyai Mona ini, hem ?" kata Indadari menyeringai. Akhirnya Rio pun menurunkan tangan kirinya.


Sebenarnya Indadari merasa takut kepada Rio, namun ia mencoba memberanikan diri untuk mengancamnya, dan berhasil kan.


"O iya, tolong ambilin boneka beruang saya dong Bang, kayaknya ketinggalan di mobil deh." perintahnya.


"Tidak ma...." "Oo jadi gak mau nih ?" Indadari memotong kalimat penolakan Rio, sembari memasang kuda-kuda.


Indadari pun mendudukkan diri di atas ranjang, dan menghela nafasnya beberapa kali, guna menetralkan rasa takutnya.


Tak berapa lama, sang asisten telah kembali dengan membawa boneka mungil tersebut. "Ini !" ujarnya kesal, sembari menyerahkan kepada Indadari. "Terima kasih Bang Rio." ucapnya, dengan senyum terpaksa.


Rio berdehem. "Itu boneka dari yang namanya Fajar tadi ya ?" tanyanya penasaran


"Iya." jawab Indadari singkat.


"Memang dia siapanya kamu sih ? Sepertinya kalian dekat sekali." imbuh Rio.

__ADS_1


"Kepo." ketus Indadari. "Udah sana pergi, saya mau istirahat, kata Nyai Mona kan malam ini saya harus melayani Tuan Damar." tuturnya panjang lebar.


Dengan kesal Rio meninggalkan kamar tersebut, menutup pintu (dak !) serta tak lupa menguncinya.


Indadari pun segera membaringkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. "Mas Fajar, gimana keadaan kamu sekarang ?.. Semoga jauh lebih baik ya, Ndari berharap, ada orang baik yang bisa nolongin Mas di sana, amin...." gumamnya, sambil menatap nanar boneka beruang mungil, nan ia pegang menggunakan kedua tangan.


Sementara itu....


"Jadi foto sama chat ku ke Anisa belum terkirim, apa ini pertanda ya, kalau boneka itu memang buat Indadari ?" pikir Fajar, yang duduk di jok belakang bersama Yusuf disampingnya.


"Kak !" panggil Yusuf, menepuk lengan kiri kakaknya. "Auw, sakit Suf !" protes Fajar.


"Gimana sih Suf, kakak kamu itu badannya lagi sakit semua, malah kamu pukul !" omel Anisa, sedang menyetir mobil.


"Nepuk Kak, bukan mukul." ralat Yusuf.


"Sama aja !" kukuh Anisa


"Oke, minta maaf ya Kak Fajar, atas pemukulan tadi." ucap Yusuf, nan menahan kesal. "Ingat Yusuf... Perempuan selalu benar." batinnya.


"Nah gitu dong." puji Anisa.


Fajar hanya menggelengkan kepala, menyaksikan kelauan adik dan... Calon istrinya ?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2