Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.9 revisi


__ADS_3

"Kok diem Mas, saya berat ya ?" tanya Indadari, menoleh kepada suaminya. Senyap, kini keduanya malah saling menatap dengan intens.


Untuk beberapa saat Fajar termangu, melihat wajah cantik istrinya, namun sesaat berikutnya, ia teringat wajah Anisa yang juga cantik itu.


"Astaghfirullah !" ucap Fajar tersadar, yang membuat Indadari terkejut dan menyudahi lamunannya juga.


"Mas bikin kaget aja !" ujar Indadari sedikit kesal.


"Ma... Maaf Mbak. O iya bonekanya ketinggalan." kata Fajar mengalihkan topik. Istrinya pun beralih melihat boneka beruang mungil.


Lalu Fajar segera mengambil benda empuk tersebut dengan tangan kanannya, dan hendak diserahkan kepada istrinya.


"Ini beneran buat saya Mas ?" tanya Indadari, setelah menerima maskawin-nya itu.


"Ya, pada akhirnya." batin Fajar. "Iya, itu hak Mbak."' jawabnya.


Indadari membolak-balikkan boneka tersebut, serta memindainya dengan kedua mata. "Lucu." batinnya, sambil tersenyum.


Fajar menghela nafasnya, sebelum mengayuh kursi rodanya dengan kecepatan sedang.


Baru beberapa jangka, ia menghentikan kayuhannya, saat mendengar decakan Bu Yasmin, yang kemudian berujar "Mesra banget nih pasangan mes*m kita, iya gak ?" Membuat beberapa warga lain terkekeh.


Memang sejak tadi di pojok ruangan tersebut, beberapa warga sudah duduk di kursi panjang yang tersedia, sembari memperhatikan serta membicarakan Fajar dan Indadari, namun tidak terlalu mendengar obrolan keduanya, karena jarak yang lumayan jauh.

__ADS_1


Indadari ingin beranjak dari pangkuan, namun tangan kanannya ditahan oleh Fajar, yang juga menggeleng pelan.


"Kami kan sudah sah, seperti yang kalian mau kan ? Jadi kami permisi, assalamualaikum." ketus Fajar yang menahan emosinya. Ia pun segera membelokkan kursi roda ke kiri, dan menuju pintu keluar balai desa.


"Sok alim." gumam Bu Yasmin tersenyum sinis.


"Gua masih bingung, kok cewek itu mau ya, enak-enak sama orang cac*t itu ? Kayak enggak ada yang normal aja." ucap Pak Diman tanpa saringan. Lalu ia keluar melalui pintu lain, yang disusul beberapa warga.


Fajar yang sudah kenyang dengan ucapan pedas orang-orang tentang kondisinya, bereaksi biasa saja. Berbanding terbalik dengan istrinya, yang sudah mencengkram erat boneka beruang di tangan kanannya, untuk melampiaskan emosinya.


"Ah-ah !' pekik Fajar, kembali menghentikan kayuhannya. Ternyata, tangan kiri Indadari mencengkram erat lengan kiri suaminya. "Maaf-maaf Mas, saya gak sengaja !" sesalnya, langsung mengusap-usap lembut lengan yang telah berbekas itu.


"Kenapa Mbak remes lengan saya sih ?..." rintih Fajar.


"Maaf Mas, saya emosi denger omongan Bapak tadi. Emang Mas Fajar gak sakit hati apa dengernya ?" tanya balik Indadari.


"Tapi omongan Bapak itu ada benernya, mana mau Mbak mes*m sama saya." celetuk Fajar, lalu terkekeh sembari mengayuh kursi rodanya lagi. Sementara istrinya hanya terdiam.


Sementara itu di lokalisasi....


Prok-prok ! Tepukan tangan Nyai Mona, untuk memanggil asistennya, Rio.


Tak berapa lama, Rio telah menghadap Nyai Mona, yang tengah duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Kau sudah bereskan akibat kekacauan semalam ?" tanya Nyai Mona, sambil mengibas-ngibaskan kipas lipatnya.


"Sudah Nyi." jawab Rio singkat.


"Oke. Terus, kau segera kerjakan, apa yang costumer utama kita minta semalam. Kau juga dengar kan ?" imbuh Nyai Mona.


"Dengar Nyi, segera saya kerjakan." jawab sang asisten lagi.


"Bagus. Oh ya satu lagi, segera cari anak buah baru, buat gantikan 5 anak buah bodoh kau, yang sudah ku pecat itu !" imbuh Nyai Mona lagi. "Bisa-bisanya muncul di pasar malam, tempat umum, ditambah malah buat masalah di sana, bodoh !" lanjutnya.


"Maaf Nyi, saya akan cari anak buah yang lebih cerdik lagi." ujar si asisten menunduk.


"Kau sudah pastikan, orang-orang bodoh itu tutup mulut, terutama ke aparat ?" Nyai Mona memastikan.


"Sudah Nyi." jawab Rio lagi, masih menunduk.


"Bagus." puji Nyai Mona.


Flashback on.


Setelah beberapa menit mengamuk, akhirnya Tuan Damar berhasil dipegangi oleh Rio dan 3 anak buah (2 diantaranya yang mengejar Indadari dan Fajar sebelumnya), Nyai Mona pun berusaha menenangkan costumer utamanya tersebut. "Te... Te... Tenang Tuan, tenang." bujuknya.


"He ! Pesanan ku kabur, tau gak !?" pekik Tuan Damar yang sedang mabuk.

__ADS_1


"I...Iya Tuan, saya usahakan, secepatnya In... Indadari, segera ada di... Di sini lagi Tuan." ujar Nyai Mona, lumayan takut.


Bersambung....


__ADS_2