
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Indadari Putri Rahman binti Rahman Kusuma dengan maskawin boneka beruang dibayar tunai !" ucap Fajar lancar, dengan satu tarikan nafas, setelah yang pertama gagal kerena teringat dengan wajah Anisa.
"Bagaimana para saksi, sah ?!" tanya Pak Penghulu, lalu dijawab orang-orang di tempat tersebut dengan kata "Sah !"
Prak ! HP Anisa terjatuh di lantai kamarnya, sang pemilik pun segera mengambil dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya kembali. "Suf, jangan bercanda deh, HP-ku sampe jatuh nih !" omelnya kepada Yusuf lewat sambungan telpon.
"Siapa yang bercanda sih Kak, Kak Fajar beneran hilang, yang ketemu baru HP-nya, itu pun mati, makannya gak bisa dihubungi." jelas Yusuf.
"Kok bisa sih Suf, gimana ceritanya?!" tanya Anisa penasaran.
"Nanti aku ceritain semua, pas Kak Nisa ke sini aja ya ? Oiya, habis subuh aku mau cari Kak Fajar lagi, Kak Nisa mau ikut ?" tawar Yusuf.
"Mau-mau, habis sholat subuh aku ke sana !' ujar Anisa, yang sedari tadi perasaannya sudah tak enak.
"Oke Kak, tapi pake mobil Kak Nisa aja ya ? Kepalaku masih pusing, habis kena batu soalnya, bahaya juga kalau aku nyetir." usul Yusuf.
"Astaghfirullah ada-ada aja ! Oke udah dulu ya Suf, nanti aku yang bawa mobil, assalamualaikum." pamit Anisa.
"Waalaikumsalam Kak." balas Yusuf.
Sambungan telpon pun ditutup oleh Anisa, kemudian ia bergumam "Tolong lindungi calon suamiku, di manapun dia berada ya Allah...." Lalu mengusapkan kedua tangannya di wajah cantiknya.
Kembali ke balai desa....
__ADS_1
Pasangan suami istri baru tersebut, masih berada di posisi yang sama seperti sebelumnya, keduanya tengah menunduk diam, entah apa yang mereka pikirkan saat ini.
Sementara, beberapa warga sudah meninggalkan tempat, namun ada juga warga yang masih tinggal.
Sedangkan beberapa saat lalu, Pak Penghulu sudah pergi ke masjid bersama Pak RT.
Fajar yang sudah berkaca-kaca dan masih menunduk itu, memulai pembicaraan. "Maaf ya Mbak, saya lancang menikahi Mbak."
Indadari menoleh kepada Fajar, balik bertanya "Kenapa Mas jawab ijab kabul tadi ?..." dengan air mata yang telah jatuh.
Fajar pun mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. "Maaf Mbak, saya gak nemu cara lain, selain jawab ijab kabul tadi, karena kayaknya orang-orang itu, gak akan biarin kita pergi dari sini, sebelum kita sah Mbak, tap...." tuturnya menggantung, ia berhenti bicara karena adzan subuh sedang berkumandang.
"Tapi saya juga gak main-main, sama kalimat ijab kabul yang suci tadi Mbak, walaupun sulit, saya pingin coba jalanin pernikahan ini Mbak." sambung Fajar dalam hati, sembari menatap nanar Indadari, yang sudah menjadi istrinya, walaupn baru secara siri, karena dokumen pernikahan yang belum lengkap.
Tak berapa lama, adzan subuh selesai dikumandangkan.
Fajar pun berdehem. "Kita, pergi yuk Mbak." usulnya kemudian.
"Kemana Mas ?" tanya Indadari sambil mengusap air mata dengan kedua tangannya.
"Mau ke masjid, tapi baju kita kayak begini." batin Fajar. "Belum tau, yang penting pergi dari sini." ujarnya, yang di balas anggukkan pelan oleh istrinya.
Indadari pun gegas berdiri. "Aah !" teriaknya, lalu terduduk di kursi kembali.
__ADS_1
"Kenapa Mbak ?!" tanya Fajar panik.
"Kaki saya sakit Mas...." jawab Indadari meringis.
"Mbak lurusin kakinya, lurusin." perintah suaminya, dan langsung dilaksanakan oleh Indadari, ia meregangkan kedua kakinya untuk beberapa menit.
"Udah mendingan ?" tanya Fajar lagi, yang dijawab "Sedikit...." oleh istrinya sembari menarik kedua kakinya, untuk ditapakkan kembali.
"Aha ! Gini aja, Mbak saya pangku, terus kita keluar deh dari tempat ini." cetus Fajar
"Ha, pangku ?!." pekik Indadari tertahan, degan pipi memerah.
"Tenang aja, saya gak akan macam-macam kok." ujar Fajar cengengesan.
"Gak usah Mas, nanti Mas keberatan sama badan saya, lagian di sini ada banyak o...." "Saya gak papa kok Mbak, dan gak usah peduliin orang-orang di sini, mereka juga gak peduli kan sama penjelasan kita tadi ?" tutur Fajar memotong kalimat istrinya.
Fajar pun lebih mendekat ke indadari, lalu berujar "Ayo Mbak, emangnya masih mau di sini ?" Istrinya berpikir sejenak, sebelum kemudian berdiri, dan akhirnya duduk di pangkuannya.
"Duuh aku lupa, ada yang namanya, hawa nafsuu ! Tahan Jar, tahaan !" batin Fajar meronta.
"Kok diem Mas, saya berat ya ?" tanya Indadari, menoleh kepada suaminya. Senyap, kini keduanya malah saling menatap dengan intens.
Bersambung....
__ADS_1