
"Astaga !" pekik Indadari. "Astaghfirullah !" teriak Fajar, bersamaan, saat menyadari posisi tidur mereka saling berpelukan, lalu dengan spontan keduanya saling melepaskan pelukan.
"Kalian mes*m kan di sini !" tuduh salah satu dari beberapa warga, yang sudah berkumpul di sekitar pos ronda.
Flashback on.
Saat hampir tengah malam tadi, sebenarnya Fajar sudah sadar dari pingsannya, ia pun mulai membuka kedua matanya perlahan, namun karena silau dengan cahaya lampu di tiang tersebut, masih mengantuk serta sedikit pusing, ia segera menutup kedua matanya kembali, bahkan membalikkan badannya menghadap Indadari.
Dengan keadaan setengah sadar, Fajar yang kedinginan karena hujan deras itu, memeluk Indadari yang ia kira ibunya, Yuli.
Biasanya saat turun hujan, Fajar memang sering tidur bersama ibunya, di kamar si tunadaksa tersebut, untuk berjaga-jaga jika ada petir yang ia takutkan sedang menyambar.
Indadari yang masih tertidur, merasakan pelukan hangat dan nyaman yang sudah lama tak ia dapatkan dari seseorang, dengan keadaan tidak sadar, ia membalas pelukan Fajar itu.
Flashback off.
Hujan mulai mereda, Fajar pun mulai bangun untuk duduk bersimpuh, begitu pula Indadari yang segera duduk, namun bersembunyi di belakang Fajar.
"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tenang dulu ya, tentang !" ujar Fajar, yang sebenarnya dirinya sendiri pun tidak tenang.
"Tenang-tenang, gak bisa ! Ayo kita arak mereka ke balai desa !" seru Pak Diman (warga), yang di setujui beberapa warga lainnya.
"Saya mohon, tenang dulu ya semua !" Fajar semakin panik. "Mbak tolong jelasin ke mereka, kejadian semalem gimana, kita gak ngapa-ngapain kan ?!" bisik Fajar memastikan, menoleh kepada Indadari.
__ADS_1
"Enggak Mas, saya juga tidur kok." bisik Indadari menggeleng cepat.
"Ya udah Mbak jel...."Takut Mas !' imbuh Indadari memotong bisikan Fajar.
"Gak usah takut, gini-gini, Mbak tarik nafas panjang dulu, biar lebih tenang. Oke !" bisik Fajar lagi.
Pak Diman memukul-mukul kentongan pos ronda, lalu berteriak "Malah bisik-bisik, diskusi cara kabur ya lu berdua !?"
"Ide ya bagus itu Pak." batin Fajar menyeringai. "Enggak kok Pak, ini teman saya mau jelasin kejadian sebenarnya." bantahnya.
"Mbak, tarik nafas panjang, bismillah." Fajar kembali berbisik. Indadari pun menghela nafas panjang, sebelum membatin "Bismillah...." dan mulai bercerita, walau dengan tergagap karena gugup.
Indadari bercerita dari kejadian Fajar pingsan, hingga ia tertidur di samping Fajar, lalu.... "Dan ma... Masalah... Pe... Pelukan itu enggak se... Sengaja." lanjutnya masih tergagap.
"Ya Allah ! Jadi bener, dia ndorong kursi rodaku ke sini, bahkan ngangkat aku ke pos ronda ini ?! Aku makin yakin, kalau sebenarnya dia orang baik." batin Fajar terenyuh, sembari menatap intens Indadari.
"Setuju !" kata beberapa warga lainnya.
"Ya udah, kita arak, terus nikahkan di belai desa !" timpal Pak Diman, juga setuju.
Sebenarnya ada juga beberapa warga yang tidak setuju, namun karena kalah jumlah, dan ada juga yang tidak berani, jadi mereka hanya mengikuti alurnya saja.
Kemudian beberapa warga menyeret Fajar dan Indadari, yang hendak di arak menuju balai desa itu.
__ADS_1
"Oke-oke ! kami ikut kalian, tapi jangan seret-seret kami begini dong, lihat kalian bikin cewek nangis, apa kalian tega ngeliat cewek nangis ?!" pekik Fajar geram, yang membuat semua orang di sekitar pos ronda tersebut diam.
Fajar pun bergegas naik ke kursi rodanya, lalu berkata "Ayo Mbak." kepada Indadari yang menangis tanpa suara. Indadari mendekat menuju kursi roda otomatis kehabisan baterai itu, kemudian memegang kedua handle-nya.
"Ini saatnya, bismillah !" batin Fajar. "Kabur Mbak !" serunya, lalu mengayuh kursi rodanya kencang, yang di ikuti Indadari di belakangnya.
Namun baru beberapa langkah berlari....
Bruk ! Indadari jatuh tersungkur, mungkin karena masih kelelahan, serta dari kemarin belum memakan apapun.
"Astaghfirullah, Mbak !" teriak Fajar segera menoleh ke belakang, dan menghentikan kayuhan kedua tangannya.
"Hayo, mau kabur kan !?"
"Mau kemana !?"
Ujar beberapa warga lagi, setelah berhasil memegangi tangan serta mengepung mereka berdua.
Akhirnya Indadari dan Fajar di arak menuju balai desa.
"Boneka, apa punyanya cewek itu ?" gumam Pak Diman, tak jadi melangkah ketika melihat benda mungil di pos ronda itu.
Boneka beruang itu terjatuh dari saku baju Fajar, saat ia hendak bangun dari posisi tiduran tadi.
__ADS_1
"Heeey ! Gua malah tinggal lagi, bawa aja dah bonekanya."" Lalu Pak Diman berlari cukup cepat.
Bersambung....