Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.12


__ADS_3

Umi Nana yang hendak ke kamar mandi menghentikan langkahnya, lalu mengintip Fajar dan Indadari sholat subuh berjamaah, dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka. "Mereka berdua mes*m, di pos ronda ? Aku kok kurang percaya ya." gumamnya, dan kembali melanjutkan langkahnya.


Tak berselang lama, mereka berdua telah selesai berjamaah sholat subuh.


"Kenapa hampir setiap hal yang aku lakuin sama Mas Fajar, ngikutin aku sama Ayah ya ?" batin Indadari, menatap nanar punggung suaminya.


Indadari pun mengingat kebersamaannya dengan Ayah Rahman.


Flashback on.


"Sayang, udah dulu mainnya, kita sholat zhuhur dulu yuk !" panggil Ayah Rahman.


"Bental Yah !" jawab Indadari kecil, nan tengah asyik bermain sebuah boneka perempuan, di halaman depan rumahnya.


"Ayah punya hadiah lo !" bujuk Ayah Rahman.


'"Hadiah ! Jangan-jangan mainan balu ?" batin Indadari kecil tersenyum. "Hadiah apa Yah ?!" tanyanya antusias, berlari menuju ayahnya, yang berada di depan pintu masuk rumah.


"Nanti Ayah tunjukkin habis sholat." imbuh Ayah Rahman tersenyum.


"Ya udah, cepetan kita sholat Ayah !" ujar Indadari kecil semakin antusias, segera mendorong kursi roda ayahnya untuk masuk ke rumah.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Ayah dan anak itu sudah selesai melaksanakan sholat zhuhur berjamaah.


"Ayah, mana hadiahnya...." rengek Indadari kecil, sembari menggoyang-goyangkan lengan kiri ayahnya.


Ayah Rahman terkekeh, menoleh kepada bidadari kecilnya. "Iya-iya, hadiahnya ada di atas meja belajar kamu tuh." jelasnya, sambil menunjuk sebuah kotak mungil.


Indadari kecil pun bergegas mengambil hadiahnya, serta langsung membukanya.


"Wah, kalungnya bagus, telima kasih Yah !" ucapnya sangat senang.


"Sama-sama sayang. Eh iya, kamu habis sholat, belum salim kan sama Ayah ?" timpal Ayah Rahman.


"O iya." jawab Indadari kecil terkekeh, segera menuju ke depan kursi roda, lalu menarik tangan kanan ayahnya perlahan, dan (cup) mencium punggung tangannya.


Sementara Indadari mengingat kenangan bersama ayahnya, Fajar sedang menengadahkan kedua tangan, berdoa dalam hati "Ya Allah, jika engkau menakdirkan Indadari menjadi bidadari hamba, tolong bantulah hambamu yang penuh kekurangan ini untuk menjaganya, bantu juga hamba untuk melupakan Anisa, yang hingga sekarang masih hamba cintai ya Allah...." Ia pun mengusap wajah dengan kedua tangannya, setelah selesai memanjatkan doa-doa lainnya juga.


"Tiba-tiba kangen sama Ayah...." lirih Indadari dalam hati. "Mas Fajar." panggilnya.


"Iya, kenapa ?" tanya Fajar menoleh pada istrinya.


"Boleh salim Mas ?..." pinta Indadari, sembari mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


""Ha !?" pekik Fajar tertahan.


"Eengak boleh ya Mas ? Oke," cetus Indadari, menarik tangan kanannya mundur.


"Eh, Boleh-boleh." kata Fajar, langsung menyodorkan tangan kanannya.


Indadari pun mendekat ke sisi kiri kursi roda, lalu menarik perhatian tangan kanan suaminya, dan (cup) mencium punggung tangannya, persis yang ia lakukan kepada ayahnya.


Deg ! Fajar berdebar, bahkan sampai memejamkan mata karenanya.


Setelah itu Indadari mengangkat kepalanya pelan, nampak air mata yang menetes.


Fajar menghela nafas beberapa kali, sebelum membuka kedua matanya. "Ndari kenapa, kok kamu nangis ?" tanyanya heran.


"Emm, aku ing....' jawab Indadari terpotong, saat terdengar suara pintu yang dibuka.


Indadari pun cepat-cepat menghapus air mata, dengan kedua tangannya.


"Kalian udah selesai sholat-nya ? Sarapan dulu yuk, Umi udah siapin." tutur Umi Nana, setelah pintu tersebut terbuka lebar.


"Iya Umi." jawab Fajar dan Indadari kompak, membuat keduanya salah tingkah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2