
"Emm saya boleh tau gak ya, orang-orang tadi itu siapa, kok Mbak sampai dikejar-kejar ?" tanya Fajar penasaran.
Indadari terdiam sejenak, dan menghela nafas sebelum menjawab "Sa...saya dikejar anak buah Bos saya dilokalisasi...."
Fajar sedikit terkejut, beberapa detik kemudian berkata"Oh begitu ya."
"Kenapa Mas Fajar cuma bilang, oh begitu ya ?" batin Indadari menatap bingung pria berkursi roda tersebut.
"Pantesan pakaian Mbak seperti itu. Tapi saya yakin Mbak pasti dikejar karena kabur kan ?" tebak Fajar.
"Kok Mas Fajar tau ?" ujar Indadari yang hanya dibalas senyuman oleh Fajar.
Tetes demi tetes gerimis air hujan mulai membasahi mereka berdua.
"Saya pamit dulu ya Mbak udah mau hujan nih, juga diri Mbak ya. Assalamualaikum." Fajar pun segera mengundurkan kursi rodanya dari balik pohon, lalu berbelok, dan menuju pasar malam kembali.
"Waalaikumsalam...." lirih Indrasari menatap nanar kepada Fajar.
Di setengah perjalanan, tiba-tiba....
(Kelip) cahaya kilat, spontan membuat Fajar menghentikan laju kursi rodanya dan menutup kedua telinganya sendiri. (Gleder !) suara petir menyambar. "Ibuuu !" pekiknya ketakutan.
Kemudian hujan turun lumayan deras.
"Mas Fajar !" Indadari pun berlari menghampiri. "Ada apa Mas ?! Tenang ya tenang." ucapnya ketika bersimpuh di hadapan Fajar, yang terdiam, namun masih menutupi kedua telinganya.
Saat Indadari sudah berdiri dibelakang kursi roda, dan hendak memegang kedua handle. "Siapa orang-orang itu ? Jangan-jangan anak buah Nyai lagi !" batinnya takut, ketika melihat bayangan beberapa orang, yang berada di jalan keluar pasar malam, yang ia dan Fajar lewati tadi.
Beberapa menit sebelumnya di dalam pasar malam.
__ADS_1
"Ayah kapok deh naik roller coaster, pusing !" keluh Ayah Anton di depan wahana tersebut
"Tadi yang minta naik siapa, Ayah kan ?!" batin Yusuf yang juga masih pusing.
Kring-kring, bunyi HP ayah dan anak itu bersamaan, yang segera diangkat keduanya juga bersamaan.
'Halo Bu, ada apa nelpon Aya...."
"Halo Tante, ada apa kok telp...."
Jawab Ayah Anton dan Yusuf setengah kompak, yang dipotong dengan kompak oleh Ibu Yuli dan Tante Lia "Ke kios permainan lempar kaleng susun, sekarang !" Lalu telpon ditutup secara dua pihak kembali kompak.
Ketika mereka berdua sampai, langsung dikejutkan oleh perkataan Bu Yuli "Fajar anak kita hilang Yah !"
"Apa !" kaget mereka berdua, kini dengan kompaknya.
"Kok bisa ?!" tanya Ayah Anton.
"Aku juga hampir ngijek HP-nya Fajar, yang udah pecah di sini...." imbuh Tante Lia, sambil menunjuk konblok di bawahnya, serta menunjukan HP tersebut.
"Kata yang punya kios ini, tadi Fajar main di sini, tapi gak lama, dia dikejar beberapa orang, karena dia nolongin perempuan yang di kejar orang-orang itu, mereka ke arah kiri katanya...." jelas Ibu Yuli berkaca-kaca.
"Ya udah, kita cari anak itu !" ujar Ayah Anton khawatir.
Keluarga itu mulai berlari kecil ke sisi kiri pasar malam.
"Ayo kita ke sana, ada banyak orang, semoga dia ada di sana !" cetus Ayah Anton ketika melihat tanjakan, yang sebelumnya Fajar tak bisa lewati.
"Sebentar Yah, aku nanya orang-orang sekitar sini dulu, siapa tau ada yang lihat Kak Fajar." cegah Yusuf.
__ADS_1
"Oke." jawab Pak Anton singkat.
Yusuf pun segera menanyai beberapa pedagang serta pengunjung, untuk memastikan.
"Dek, kayaknya sebentar lagi hujan, kalau nanti ada petir gimana ? Kasihan Fajar, kan kamu tau setiap ada petir dia selalu minta peluk aku...." lirih Ibu Yuli menangis di pelukan adiknya.
"Tentang aja ya Kak, insyaallah Fajar gak papa...." imbuh Tante Lia yang sebenarnya juga khawatir.
"Gimana Suf ?!" tanya Ayah Anton ketika Yusuf mendekat ke arahnya.
Intinya, tadi beberapa orang melihat Fajar dan Indadari sudah keluar dari pasar malam, setelahnya ada yang melihat para anak buah Nyai Mona yang telah berbalik arah serta pergi, tanpa mereka berdua.
Mulai gerimis, dan tak lama, (Kelip) cahaya kilat, yang spontan membuat keluarga tersebut menutup kedua telinga masing-masing. (Gleder !) suara petir menyambar.
"Ibuuu !" pekik Fajar yang samar terdengar.
Lalu hujan turun lumayan deras.
"Kalian denger gak ?!" seru Yusuf, yang dibalas anggukan oleh keluarganya.
Mereka pun bergegas menuju jalan keluar sisi samping kiri pasar malam.
"Sebentar, kita nyalain senter HP dulu Suf, gak kelihatan apa-apa." usul Ayah Anton menghentikan langkah mereka.
"Oke Yah." balas Yusuf.
Ayah dan anak itu pun mengambil HP masing-masing, segera mengaktifkan mode senter.
Duk !
__ADS_1
Bersambung....