Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.26


__ADS_3

Sang Tante mendekat ke samping ranjang. "Kamu wanita malam ?" gumamnya memastikan.


Istri Fajar tersebut mengangguk pelan.


Tiba-tiba Ayah Anton mendorong pintu, hingga setengah terbuka.


"Ayah !" kaget Fajar. "Duh !.. Gimana nih ?..." risaunya dalam hati.


"Kak Anton !" panik Tante Lia, menoleh kepada iparnya.


"Kalian kenapa, kok kayak kaget begitu ?" tanya Ayah Anton heran.


Jantung Fajar dan Indadari bertalu kencang.


"Enggak, gak apa-apa Kak, kaget aja tiba-tiba pintunya kebuka." elak Tante Lia tersenyum kikuk.


"Iya Yah, aku juga." timpal Fajar.


"Emm, kondisi Kak Yuli gimana Kak ?" imbuh Tante Lia mengalihkan topik.


"Alhamdulillah, dia udah sadar, cuma syok aja anaknya tiba-tiba nikah." sindiran Ayah Anton yang menusuk kalbu.


"Oh, Alhamdulillah lah kalau begitu." ucap Tante Lia masih kikuk.


"Aku mau ngomong, tapi gak di sini." perintah Ayah Anton datar.


"Aku Yah ?" tanya Fajar, menunjuk diri sendiri.


"Menurut mu ?" kata Ayah Anton datar, lalu melangkah pergi.


Fajar menghembuskan nafas cepat, segera menyusul sang ayah.

__ADS_1


Tante Lia duduk di sisi ranjang, berdehem sebelum bertanya "Sejak kapan kamu jadi itu ?"


Indadari terdiam beberapa saat, dan malah menangis.


"Kok nangis, Tante salah ngomong ya ?" sesal Tante Lia.


Indadari menghentikan tangisannya, menghela nafas panjang lalu berkata "Enggak kok Tante."


"Terus kenapa ?" tanya Tante Lia semakin penasaran.


"Apa aku jujur aja ya sama tantenya Mas Fajar ?" bimbang Indadari dalam hati.


"Kok malah diem, kamu gak mau cerita ya ?" tebak Tante Lia. "Gak apa-apa, cerita aja, Tante gak akan menghakimi kamu kok." lanjutnya tersenyum.


Setelah menimbang-nimbang, Indadari pun membuka mulutnya. "Sebenarnya, saya belum tentang ini ke Mas Fajar Tante."


"Cerita apa emangnya ?" kepo Tante Lia.


Ayah Anton sudah duduk di kursi taman, menunggu kedatangan Fajar.


Tak berapa lama, kursi roda telah terparkir di hadapan sang ayah, tak lupa Fajar pun menguncinya (agar kursi roda tak dapat bergerak).


"Kenapa kamu ngelakuin hal yang menjijikan itu, padahal aku gak pernah ngajarin kamu, bahkan ngelarang kamu, mau bikin malu keluarga ?" ketus Ayah Anton panjang lebar.


"Aku gak pernah ngelakuin hal menjijikan itu Yah...." bantah Fajar meyakinkan.


Ayah Anton terkekeh. "Kalau kamu enggak ngelakuin hal itu, kenapa kamu tetep nikahin dia, ha ?" balasnya tak percaya.


"Kami berdua dipaksa buat nikah Yah, kami dikepung warga, mereka gak akan biarin aku sama Indadari pergi, sebelum sah jadi suami istri Yah !..." jelas Fajar sedikit menggebu.


"Ya kamu coba jelasin dong ke merek !..." "Udah Yah !.. Aku udah coba jelasin ke mereka, tapi setiap aku ngomong, dipotooong teruus !.. Dan kalaupun aku udah jelasin, mereka tetep aja gak percaya !" sahut Fajar, memotong kalimat ayahnya.

__ADS_1


Ayah Anton menghela nafas kasar, sembari mengusap wajah menggunakan tangan kanannya. "Oke, Ayah pegang kata-kata kamu." ucapnya seperti biasa. "Kalau menang kamu sama dia gak ngapa-ngapain, ceraikan dia." imbuhnya lugas.


Deg ! Fajar mematung dibuatnya.


(Tungting-tungting !) Terdengar nada dering HP dari kantong celana sang ayah, ia segera mengambilnya, lalu beranjak dari kursi taman.


Fajar menutup wajahnya dengan kedua tangan "Kalau menang kamu sama dia gak ngapa-ngapain, ceraikan dia." Fajar terngiang omongan ayahnya. "Aku mohon petunjuk mu ya Allah... Apakah aku harus mengakhiri apa yang baru kami mulai ?..." lirihnya dalam hati.


Di lokalisasi....


Sejak dini hari tadi, Nyai Mona hanya duduk di kursi kebesarannya, sambil sesekali memperhatikan kalung nan dipegangnya. "Aku gak mungkin salah inget, ini mirip banget kalungnya Mas Rahman !" batinnya yakin.


(Prok-prok !) Nyai Mona bertepuk tangan, guna memanggil sang asisten.


"Ada tugas untuk saya Nyai ?" sahut Rio, ketika menghadap.


Nyai Mona pun menunjukkan kalung emas itu. "Kau tau, ini punya siapa ?" tanyanya.


Rio menatap intens perhiasan tersebut, mencoba dingingat-ingat. "Sepertinya kalung itu milik Indadari Nyai." jawabnya kemudian.


"Apa ! Yang bener kau ?!" pekik Nyai Mona, menjatuhkan kalung ke atas meja.


"Iya Nyai." tegas Rio.


Nyai Mona terduduk lesu.


Ia baru sadar kalau Indadari memakai kalung di lehernya, karena liontin-nya hampir selalu tersembunyi di sebalik bajunya. ditambah lagi, sang nyai tidak terlalu memperhatikan bagian tersebut.


(Krek !) Nyai Mona membentangkan kipas lipatnya, kemudian dikibas-kibaskan. "Apa Indadari dan Mas Rahman saling kenal, apa mereka ada hubungan ?" batinnya ingin tau.


"Cari Indadari sampai ketemu," perintah Nyai Mona memejamkan kedua mata.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2