Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.14


__ADS_3

Flashback on.


"Ya Allah... Gimana cara jelasin tentang Ndari ke semuanya...." batin Fajar, mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.


"O iya, sebelum cara jelasin, gimana cara pulangnya dulu nih ?" imbuhnya, mulai berpikir.


Sementara itu, Indadari telah kembali duduk depan di meja makan.


"Kenapa Neng, abis ketawa kok mukanya ditekuk begitu ?" tanya Umi Nana penasaran.


"Mas Fajar ngajak saya pulang ke rumahnya Umi, tapi kan Umi tau, saya sama Mas Fajar itu nikahnya dadakan." "Kamu sungkan sama keluarganya ?"' Umi Nana menimpali penjelasan Indadari. Istri Fajar itu pun mengangguk pelan.


"Umi paham perasaan Neng, tapi cepat atau lambat seluruh keluarga kalian pasti akan tau tentang pernikahan ini, dan lebih baik mereka tau dari mulut kalian langsung." tutur Umi Nana. "Nak Fajar pasti udah memikirkan ini mateng-mateng, dan kayaknya dia serius sama Neng." imbuhnya.


"Serius Umi ?" cetus Indadari.


"He'em. Umi kasih tau ya, walaupun dia punya kekurangan, tapi kayaknya Nak Fajar itu orangnya bertanggung jawab loh. Buktinya Neng dipangku kan, karena kaki Neng sakit ?" imbuh Umi Nana lagi, yang dibalas anggukan Indadari dengan pipi memerahnya.


Fajar tiba-tiba mengayuh kursi rodanya masuk, lalu mendekat ke meja makan, sambil bertanya "Umi, saya boleh ngerepotin Umi lagi gak ?" Indadari dan Umi Nana terkejut dibuatnya.


"Kenapa, kok kalian kaget gitu ?" bingung Fajar.


"Gak papa kok Nak. Oh iya ngomong-ngomong Nak Fajar mau minta tolong apa ? Gak ngerepotin kok, kalau Umi bisa bantu pasti Umi bantu." ujar Umi tersenyum, mengalihkan topik.


Fajar meminta tolong kepada Umi Nana agar memesankan taksi online, untuk Fajar dan Indadari pulang, lalu Umi Nana dengan senang hati menyanggupinya.


""Udah Umi pesankan tinggal nunggu aja." kata Umi Nana, sambil menaruh HP-nya di atas meja tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih Umi, secepatnya akan saya ganti, sekalian ngembaliin pakaian ini." ucap Fajar.


"Itu gak usah dipikirin Nak, tapi Umi harap kapan-kapan kalian mampir lagi ya ke sini." timpal Umi Nana.


"Insyaallah Umi." jawab Fajar tersenyum.


Beberapa saat kemudian, di sebuah mobil taksi online yang baru saja berhenti, sang supir membuka sebagian kaca mobilnya.


Nampak di sisi lain jalanan itu, ada sebuah mobil juga berhenti.


"Kita cari Indadari kemana lagi bos ?" tanya seorang anak buah.


"Kita kelilingi kampung ini, saya yakin Indadari ada di sekitar sini. Jadi pertajam pengelihatan dan pendengaran kalian !" jelas Rio, yang dijawab "Siap !" oleh para anak buahnya.


Rio menoleh saat mendengar perkataan seseorang yang sedang menelpon di sebuah mobil. "Oh jadi yang saya jemput itu, atas nama Fajar dan Indadari ya ?" tanya sang supir memastikan.


"Dia mau jemput Indadari ?" batin Rio. "Kalian tunggu di sini.": perintahnya kemudian.


Rio pun turun, lalu berlari menuju mobil tersebut.


Sang supir telah menyudahi sambungan teleponnya, serta hendak menjalankan kembali mobilnya.


"Tunggu !" pekik Rio sembari melambaikan tangan kirinya.


"Iya, ada apa Pak ?" balas sang supir.


"Tolong saya Mas, saya sedang mencari keluarga saya yang kabar dari rumah, dan kayaknya namanya sama kayak yang Mas bicarakan di telpon tadi." bohong Rio, dengan wajah melas yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Gimana ya Pak ?" bimbang sang supir.


"Begini saja, Mas bantu saya, saya bayar dua ratus ribu." tawar Rio.


"Emangnya saya bisa bantu apa Pak ?" tanya sang supir.


Rio terkekeh dalam hati dan berkata "Bilang saja kalau Mas tersesat, terus kalau mereka tanya. Mas di mana ? Bilang saja di sekitar pos ronda. Intinya bujuk mereka agar mau datang ke pos ronda. Oke." Sang supir mengangguk paham.


Sang supir kembali menelpon ke HP Umi Nana, setelah beberapa lama meyakinkan jika ia tersesat, dan membujuk mereka agar mau ke pos ronda, akhirnya ketiganya pun setuju.


Setelah itu, Rio membayar supir tersebut lalu memintanya untuk pergi, juga mengintruksikan anak buahnya supaya menyembunyikan mobil ke belakang semak-semak, nan tak jauh dari pos ronda.


Flashback off.


"Apa kabar Indadari ?" seringai Rio (asisten Nyai Mona), yang tiba-tiba muncul dari belakang pos ronda.


"Bang Rio !" gumam Indadari panik, lalu bersembunyi dibalik kursi roda suaminya.


"Dia siapa Ndari ?" tanya Fajar.


"Dia asisten bos saya Mas...." lirih Indadari.


Rio bersiul untuk memanggil para anak buahnya yang menaiki mobil.


Setelah sampai, 3 anak buah Rio turun dari mobil dan mengepung Indadari juga Fajar.


"Ayo Indadari, pulang ke lokalisasi." pinta Rio, nan dibalas gelengan oleh Indadari. "Seret Indadari !" imbuhnya.

__ADS_1


"Jangan macem-macem sama Ndari." ujar Fajar datar.


Bersambung....


__ADS_2