
"Didesak, Kok kalian bisa didesak buat nikah ?* tanya Tante Lia penasaran.
"Ka... Kami dibilang mes*m di po... Pos ronda Tan." ucap perempuan nan masih ber-mukena tersebut.
"Astaghfirullah...." gumam Ibu Yuli, sebelum pingsan.
Beruntung, Tante Lia menangkap tubuhnya.
"Kak, Kakak, bangun Kak !" panggilnya khawatir.
Ayah Anton pun menoleh. "Ya Allah, Ibu !" paniknya, segera membopong tubuh sang istri. "Liat ini Jar, liat !" imbuhnya kesal, kemudian berlalu menuju pintu keluar (ruang rawat).
Spontan Fajar mengayuh kursi rodanya, guna mengikuti orang tuanya.
Ketika sadar ia sedang diikuti, Ayah Anton berhenti. "Kamu gak usah ikut, jagain aja tuh, istri kamu !" ujarnya, menekan kalimat istri kamu.
"Aku ikut ya Kak ?!" izin Tante Lia khawatir.
"Kamu di sini aja Lia, jagain Fajar sama istrinya, jangan biarin mereka kemana-mana." tolak Ayah Anton bernada dingin. "Aku biar ditemenin Yusuf aja, anak yang masih nganggep orang tuanya." lanjutnya, sebelum kembali melangkah.
"Maaf ya Kak." ucap Yusuf datar, lalu menyusul sang ayah.
"Ya Allah, kayaknya Ayah kecewa banget sama aku." batin Fajar berkaca-kaca.
Karena letih dengan semua drama yang terjadi, Tante Lia mendudukkan dirinya di sofa nan tersedia,
Wanita berjilbab itu menghela nafas kasar, dan kembali bertanya "Apa benar, kalian mes*m di pos ronda ?"
Fajar mendekat. "Demi Allah enggak Tante !" jawab Fajar penuh keyakinan.
"Laterus, kenapa kalian bisa dikira mes*m ?" imbuh Tante Lia.
"Gini Tan, Tante pernah gak , lagi tidur, terus bangun-bangun posisinya berubah ?" tanya balik Fajar.
"Pernah." jawab Tante Lia singkat.
__ADS_1
"Nah gitu juga yang terjadi sama kami berdua Tan, bangun-bangun kami udah pelukan, tiba-tiba udah banyak orang aja." tutur Fajar.
"Lah, kalian tidur bareng di pos ronda ?!" celetuk Tante Lia.
Fajar menggaruk kepalanya yang tak gatal. ", Gini-gini Tan, aku ceritain dari awal, biar gak salah paham." cetusnya, mulai bercerita.
Sementara itu, Ibu Yuli tengah diperiksa di ruangan lainnya.
"Alhamdulillah, kamu udah sadar sayang." syukur Ayah Anton.
"Istri Bapak tidak apa-apa kok, hanya syok saja." jelas Bu Dokter sopan.
"Terima kasih Dok." ucap Ayah Anton tanah.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi ya, mari." pamit sang dokter.
"Mari." sahut kedua orang tua tersebut kompak.
Dokter pun berlalu pergi.
Ayah Anton menggeser kursi yang ada, agar bisa duduk di samping ranjang. "Kemungkinan besar, iya Bu, kalau emang enggak gak mes*m, ngapain mereka nikah segala." jawabnya.
"Astaghfirullah hal adzim ya Allah...." lirih Ibu Yuli meneteskan air mata.
Kembali ke ruang rawat....
"Tiba-tiba ada petir. Tante tau sendiri kan, aku trauma sama petir ? ujar Fajar.
"Oh ! Itu beneran kamu yang teriak ?" timpal Tante Lia.
"He'em." Fajar mengangguk. "Maksudnya Tante denger teriakan aku ?" sambungnya.
"Iya, tapi pas kita mau cek itu beneran kamu atau bukan, tempatnya kan gelap banget, jadi ayah sama adik kamu mau nyalain senter HP dulu, tapi Yusuf malah ditimpuk batu." jelas Tante Lia.
Indadari menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. "Ya ampun !" peliknya dalam hati.
__ADS_1
Flashback on.
Siapa orang-orang itu ? Jangan-jangan anak buah Nyai lagi !" batin Indadari takut, ketika melihat bayangan beberapa orang, yang berada di jalan keluar samping kiri pasar malam.
Indadari pun mengedarkan pandangannya, untuk mencari sesuatu.
"Itu dia !" seru Indadari tertahan, saat melihat batu berukuran sedang, nan segera ia raih.
Indadari mengambil posisi di depan kursi roda, bersiap menirukan gaya lemparan Fajar, dan....
Duk ! "Auw !" pekik seseorang, yang kepalanya terkena batu.
Flashback off.
"Ternyata adiknya Mas Fajar !" batin Indadari tak enak hati. "Maafin saya Tante." ucapnya kemudian.
"Maaf kenapa ?" bingung Tante Lia.
"Yang ngelempar batu itu... Sa... Saya Tan," jujur Indadari.
"Ha, kenapa kamu numpuk batu ke Yusuf ?!" kesal Tante Lia, berdiri dari duduknya.
”Tan, Tan sabar Tan." bujuk Fajar, memegangi tangan kirinya.
"Ma... Maaf Tante, sa... Saya kira, Ka... Kalian anak buah bos saya. " jawab Indadari tergagap.
Tante Lia menghela nafas kasar, kembali duduk di sofa, dan berkata. "Sebenarnya profesimu apa sih ?"
Indadari pun menghela nafas panjang, guna meringankan kegugupannya. "Saya kerja di... Lokalisasi Ta... Tante, tap...." "Lokalisasi ?!" pekik Tante Lia tertahan, memotong kalimat Indadari.
Sang Tante mendekat ke samping ranjang. "Kamu wanita malam ?" gumamnya memastikan.
Istri Fajar tersebut, mengangguk pelan.
Bersambung....
__ADS_1