Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.22


__ADS_3

"Ha !" pekik Indadari pelan, terbangun dari mimpi buruknya. "Aku dimana nih ?!" ujarnya tolah-toleh.


"Mas Fajar...." lirih Indadari, saat menyadari sang suami ada di samping ranjangnya, tengah tertidur di kursi roda. "Astaga !" imbuhnya, ketika melihat posisi duduk Fajar yang melorot (hampir jatuh).


Indadari nan masih lemes, perlahan beranjak dari tempat pembaringan, kemudian meraih pinggang suaminya dengan kedua tangan, guna membenarkan posisi duduknya.


"Astaghfirullah !" kaget Fajar saat membuka kedua mata, yang membuat Indadari ikut terkejut, hingga kening mereka saling bertubrukan. "Auw !..." pekik keduanya, mengusap-usap kening masing-masing.


Fajar memundurkan pantatnya , lalu berkata "Kamu gak papa ?"


Indadari menggeleng pelan.


"Kamu mau ngapain sih tadi ?" tanya Fajar penasaran.


"Aku... Mau benerin posisi duduknya Mas." cicit Indadari, menunduk malu karena kejadian tadi.


"Ya Allah, segitu perhatiannya Ndari sama aku." batin Fajar. "Kalau gitu terima kasih ya, sekarang kamu tiduran lagi gih, takutnya infus mu bocor juga." ucapnya.


Indadari pun kembali menidurkan dirinya di ranjang ruang rawat. "Mas, ini di rumah sakit ya ?" tanyanya memastikan.


"Iya." jawab Fajar singkat.


"Ya ampun Mas, harusnya kamu gak usah repot-repot bawa aku ke rumah sakit, biayanya pasti mahal" ujar Indadari tak enak.


"Gak papa Ndari, aku ada uangnya kok buat bayar rumah sakit." timpal Fajar.

__ADS_1


"Tapi aku gak enak sama kamu Mas." ungkap Indadari.


Fajar tersenyum. "Kan aku bilang, kalau gak enak kasih Kukang aja." guraunya terkekeh. "Enggak-enggak. Ya gimanapun kan kamu istri aku sekarang, jadi udah tanggung jawab aku buat menjamin kesehatan kamu, salah satu caranya ya, bawa kartu ke rumah sakit ini." tuturnya.


Tanpa sadar Indadari meneteskan air mata.


"Kok nangis, ada yang sakit ?" cemas Fajar, yang spontan menyeka air mata sang istri.


"Aku ngerasa gak pantes Mas jadi istri kamu, aku ini cuma perempuan kotor, yang udah disentuh laki-laki lain... Bahkan, sebelum suamiku sendiri menyentuh aku Mas...." ucap Indadari dalam tangis.


Karena tak tega melihat Indadari yang menangis, Fajar membangunkannya untuk kemudian dipeluknya "Sebagai manusia biasa, kita gak ada yang suci dan sempurna Ndari,termasuk aku dan kamu, pasti punya dosa dan kekurangan masing-masing." gumamnya berkaca-kaca.


Setelah beberapa menit saling memeluk, Fajar pun melepaskan tautannya. "Udah ya nangisnya, sayang koh infusnya, keluar jadi air mata doang." hibur Fajar terkekeh, kembali menyeka butiran bening di pipi istrinya.


Adzan subuh berkumandang.


Indadari mengangguk. "Tapi sholatnya boleh sambil duduk kan Mas ? Kayaknya aku belum bisa deh, kalau berdiri lama-lama." kata Indadari kemudian.


"Boleh dong, sholat kan sebisanya, kalau bisa berdiri ya berdiri, kalau bisanya duduk ya duduk, kalau gak bisa duduk ya tiduran, kalau masih gak bisa, pakai kedipan mata, tetap gak bisa juga, ya di sholatin." jelas Fajar. "Taukan artinya ?" lanjutnya.


Indadari menelan ludahnya. "Kok jadi nakut-nakutin aku sih." keluh Indadari, cemberut.


"Itu faktanya Ndari." balas Fajar.


"Terus, wudhu-nya di mana ? Kan gak ada kamar mandi." tanya Indadari sedikit ketus.

__ADS_1


"Kok nada ngomongnya gitu, kamu marah ?" tanya Fajar memastikan.


"Ya abis, Mas Fajar nakut-nakutin sih, aku belum mau di sholatin." kesal Indadari.


"Ya udah maaf," pinta Fajar.


Indadari terdiam, masih cemberut.


Fajar pun mengambil boneka beruang mungil, nan tadi ia taruh di kantong belakang kursi roda, lalu memainkannya menggunakan kedua tangan. "Indadari cantik, maafin Fajar ya udah bikin kamu takut, tapi aku yakin, maksud dia gak begitu kok, jadi maafin dia ya, ya, ya, pliiisss." celotehnya mengisi suara benda empuk tersebut.


"Iya aku maafin." kekeh Indadari. "Jadi, wudhu-nya di mana Mas ?" tanyanya lagi.


Fajar menaruh boneka itu di samping Indadari, dan menjawab "Kamu kan masih lemes, tempat wudhu juga jauh kayaknya, jadi kamu tayamum aja ya, insyaallah gak papa kok."


"Aku inget, tayamum itu bersuci pake debu kan Mas ? Tapi aku lupa caranya sih." celetuk Indadari.


Fajar mengangguk. "Nanti aku kasih tau caranya, sekarang aku tinggal dulu ya,, mau cari tempat wudhu, sekalian cari pinjaman mukena buat kamu." pamitnya.


Indadari meraih tangan kiri sang suami. "Mas mau ninggalin aku di sini, sendiri ?! Aku takut Mas," keluhnya, menunduk.


"Pasti dia masih trauma." batin Fajar


"Sebentar aja Ndari, ya." bujuknya, menangkup wajah istrinya menggunakan tangan kanan.


(Ngeeg) pintu ruang rawat terbuka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2