
"Siapa orang-orang itu ? Jangan-jangan anak buah Nyai lagi !" batin Indadari takut, ketika melihat bayangan beberapa orang yang berada di jalan keluar pasar malam, yang ia dan Fajar lewati tadi.
Indadari pun mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu.
"Itu dia !" seru Indadari tertahan, saat melihat batu yang lumayan besar, lalu segera ia ambil.
Kemudian Indadari memposisikan diri di depan kursi roda, bersiap menirukan gaya melempar Fajar dan....
Duk ! "Auw !" pekik seseorang saat kepalanya terkena batu tersebut, yang ternyata....
"Yusuf !" pekik ayah, ibu dan tante nya bersamaan, ketika melihat ia terjatuh ke belakang.
"Kita pergi dari sini Mas." ujar Indadari, segera mendorong cepat kursi roda Fajar, berbelok menjauh.
"Siapa yang ngelempar batu tadi:?!" batin Ayah Anton lalu berlari, ingin mencari tau. "Oiya, senter !" imbuhnya, berhenti dan hendak menyalakan senter di HP-nya yang tadi belum sempat dilakukan. "Hah, malah lowbat segala !" gumamnya.
Karena gelap, hujan yang semakin deras dan tentunya faktor usia, Ayah Anton menjadi kesulitan untuk melihat, akhirnya ia memutuskan untuk kembali.
"Kita pulang dulu, obati Yusuf di rumah, biar besok aku laporkan masalah ini ke polisi !" teriak Ayah Anton agar terdengar di tengah guyuran hujan deras itu.
Setelah beberapa kali Ayah Anton membujuk keluarganya, dengan berat hati mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
(Gledar-gleder !) Suara petir yang bergemuruh.
"Ibuuu !..." pekik Fajar ketakutan, kemudian tertunduk pingsan.
"Mas, Mas Fajar !" panggil Indadari khawatir, sembari menepuk-nepuk pelan pipi tunadaksa tersebut.
__ADS_1
"Aku harus cari tempat neduh nih, kasihan Mas Fajar." cetus Indadari, kembali mendorong kursi roda, dengan salah satu tangannya memegangi pundak Fajar agar tidak terjatuh.
Tak lama, Indadari melihat secercah cahaya, ia pun bergegas ke sana.
Akhirnya mereka berdua keluar dari area pepohonan itu. "Syukurlah, ada tempat neduh !" kata Indadari berbinar, saat melihat tiang lampu yang terdapat pos ronda kayu di sebelah kirinya, di sebrang jalan nan sepi.
Ketika keduanya sampai di depan pos ronda tersebut. "Aku harus mindahin dia ke pos ronda nih, tapi kuat gak ya ?" ragu Indadari. "Ya tuhan beri aku kekuatan...." doanya kemudian.
"Tapi gimana ya ngangkatnya ? Emm... Coba dari depan aja deh." Lalu Indadari memutar kursi roda Fajar menghadap dirinya, kemudian memasang kuda-kuda. "1, 2, 3 heeg !" hitung Indadari sebelum memberdirikan, memeluk serta memundurkan tubuh Fajar menuju pos ronda, dengan susah payah.
"Huuhh, akhirnya !..." lega Indadari yang ngos-ngosan, saat berhasil menidurkan tubuh Fajar di pos ronda. "Tinggal kakinya." imbuhnya, dan mengangkat kedua kaki Fajar, menjadi bertumpu di atas lantai kayu tersebut.
Indadari yang sudah kelelahan serta mengantuk itu, spontan membaringkan tubuhnya di samping Fajar, dan beberapa saat kemudian tertidur pulas.
Di tempat lain....
"Kok Mas Fajar belum bales chat ku ya ?" gumam Anisa, yang sedang duduk di atas ranjang kamarnya.
"Ya Allah !" kaget Anisa, langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
(Gleder !) suara petir menyambar.
"Oh iya, dari kecil kan Mas Fajar takut sama petir, gara-gara...." batin Anisa tengah teringat sesuatu, dengan masih tertutup selimut.
Flashback on.
Pada suatu sore, anak laki-laki dan perempuan yang berbeda usia 2 tahun itu, sedang asik bermain masak-masakan di halaman rumah si anak laki-laki.
__ADS_1
"Mas Fajay, ayo macuk yumah, mau hujan, itu yangitnya udah geyap." kata Anisa kecil.
Fajar kecil yang duduk bersimpuh di atas tanah itu, masih ingin bermain, jadi ia menggeleng cepat.
"Ya udah, kayau Anisa mau macuk aja." imbuhnya, kemudian berlari ke dalam rumah tersebut.
Beberapa saat kemudian....
Kelip, gleder !
"Ibuuu !" pekik Fajar kecil, menangis.
Flashback off.
"Makannya jangan ngeyel Mas, di suruh masuk gak mau sih." batin Anisa tersenyum miris.
"Aku tebak dia lagi dipeluk ibunya sekarang." batin Anisa lagi, sambil menguap.
Anisa pun melepas hijabnya, lalu membaca doa, sebelum ia tidur.
Dini harinya, di pos ronda....
"He, bangun kalian, bangun !" teriak seseorang, sembari menggoyang-goyangkan tubuh Fajar dan Indadari bergantian.
Indadari mulai membuka kedua mata, di susul oleh Fajar, yang disertai sedikit pusing.
"Astaga !" pekik Indadari. "Astaghfirullah !" teriak Fajar, bersamaan, saat menyadari posisi tidur mereka saling berpelukan, lalu dengan keduanya spontan saling melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Kalian mes*m kan di sini !" tuduh salah satu dari beberapa warga, yang sudah berkumpul di sekitar pos ronda.
Bersambung....