
Fajar mencongkel celah jendela menggunakan parang, yang ditemukan oleh Yusuf tergeletak di sekitar perkebunan pisang. Begitu terbobol, Fajar menjatuhkan benda tajam tersebut ke tanah.
"Bismillahirrahmanirrahim...." batin Fajar, sebelum membuka jendela dengan kedua tangannya (ngeeg).
"Mas Fajar...." ucap Indadari terisak, lalu refleks memeluk suaminya erat.
"Ayo kita pulang Ndari." gumam Fajar, membalas pelukan istrinya, serta mengusap lembut rambut lurusnya.
"Kamu siapa ?!" sergah Tuan Damar, yang berhenti melangkah.
"Saya suaminya." lugas Fajar, mengagetkan Tuan Damar, termasuk juga adiknya.
Tuan Damar tergelak tak percaya. "Orang cac*t kayak kamu punya istri secantik dia ?" ujarnya meremehkan, dan kembali tertawa.
Dengan senyuman senis, Fajar berkata "Itu Bapak tau saya orang cac*t, kalau emang Indadari bukan istri saya, ngapain orang cac*t ini, mau susah-susah ke sini, mbobol jendela lagi ?"
Tuan Damar mencerna omongan Fajar, sambil memperhatikan mereka berdua, nan tengah berpelukan.
"Apa ini triknya Kak Fajar ya, biar bisa pergi dari ini tempat ? Boleh juga triknya." batin Yusuf, tersenyum manggut-manggut. "Tapi kok pelukan segala ?" imbuhnya heran.
"Bengs*k, aku ditipu !" geram Tuan Damar, melempar boneka beruang yang ada di atas ranjang.
Fajar nan menyadarinya, segera menangkap benda mungil tersebut. "Dapet !" gumamnya.
Tiba-tiba saja Indadari pingsan di pelukan Fajar. "Astaghfirullah, Ndari ! Suf, tolong angkatin Suf !" serunya panik.
Walau ragu,Yusuf tetap mengangkat tubuh perempuan yang cukup berat baginya.
__ADS_1
"Biar aku pangku aja !"imbuh Fajar.
Meski heran, Yusuf pun mendudukkan Indadari ke pangkuan Fajar, karena ia sudah tidak kuat lagi mengangkat tubuhnya.
"Kita ke rumah sakit Suf." ajak Fajar sembari mengayuh kursi rodanya, menuju celah-celah perkebunan pisang nan cukup terjal tadi.
Yusuf yang menyusul di belakang, menatap curiga terhadap keduanya. "Ada yang aneh nih." katanya dalam hati.
Di dalam lokalisasi....
"Mona, Mona !" panggil Tuan Damar penuh amanah.
Dak ! Pintu ruangan Nyai Mona dibuka kasar.
Nyai Mona yang terkejut, spontan berdiri dari kursi kebesarannya. "Tu... Tuan Damar, ad... Ada apa ya ?" tanyanya gugup.
"Ni... Nipu bagaimana mak... Maksud Tuan ?" tanya Nyai Mona lagi.
Tuan Damar menghela nafas kasar. "Kata kamu Indadari masih disegel, tapi ternyata udah punya suami !" jelas Tuan Damar, yang membuat si nyai kembali terkejut. "Enggak mungkin Tuan, Indadari itu belum menikah, dan masih disegel kok." ujarnya tak percaya.
"Enggak mungkin bagaimana ! Dia sampai njebol jendela, buat ngambil Indadari, istrinya !" balas Tuan Damar, menekankan kata istrinya.
"Ha !" pekik Nyai Mona, bergegas lari menuju kamar Indadari, disusul Tuan Damar di belakangnya.
Sesampainya dalam kamar, tak ditemukan Indadari di sana. "Sial, dia kabur lagi !" geram Nyai Mona, lalu melanjutkan langkahnya lebih ke dalam, baru 2 langkah kaki kanannya seperti menginjak sesuatu, ia pun berjongkok untuk mengambilnya, dengan tangan kiri. "Inikan kalungnya...." lirihnya (menggantung) dalam hati.
"Bagaimana ini jadinya !?" kesal Tuan Damar meminta kejelasan, namun sang nyai masih saja termenung menatap kalung itu. "Bubarkan pesertanya !" pukas laki-laki tua, meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Sembari menyetir mobil, Yusuf bertanya dengan ketus "Dia siapanya Kakak ?"
Beberapa detik terdiam, Fajar menjawab "Dia istriku."
Yusuf pun refleks menginjak rem mobilnya, membuat tubuh sepasang suami istri, yang duduk berdampingan di jok belakang itu, terhuyung ke depan.
"Jadi beneran dia istri Kakak, kapan nikahnya, terus gimana sama Kak Nisa Kak ?!" tanya Yusuf beruntun.
"Nanti aku jawab pas udah di rumah sakit, kasihan Ndari, udah lemes banget kayaknya." kata Fajar (berusaha) santai.
Yusuf memukul stir mobilnya, sebelum melajukannya kembali dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah sakit, Indadari langsung dimasukkan ke UGD.
"Sekarang Kakak udah bisa jawab pertanyaan ku ?" tagih Yusuf. nan duduk di kursi tunggu.
Fajar mendekatkan kursi rodanya kepada sang adik, lalu menjawab "Bisa Suf, jadi gini...." ia pun menceritakan kejadian demi kejadian, hingga kalimatnya terpotong. "Jadi Kakak dinikahin sama dia karena mes*m ?!" pekik Yusuf tertahan.
"Dituduh mes*m Suf, Kakak gak sengaja meluk dia !" ralat Fajar, menahan kesalnya.
""Kak Fajar gak coba jelasin ke merek...." kata Yusuf menggantung, karena HP-nya berbunyi.
"Siapa nelpon Suf ?" tanya Fajar sedikit was-was.
"Ibu Kak," lemas Yusuf, menunjukkan tampilan layar.
Bersambung....
__ADS_1