Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.3


__ADS_3

"Mas, kita harus kemana nih ?!" tanya Indadari yang berhenti sejenak dan melihat sekeliling.


"Emm kita ke kiri aja, rame soalnya, semoga ada yang tolongin kita." usul Fajar, setelah memantau situasi.


Akhirnya keduanya sepakat untuk melanjutkan pelarian ke arah kanan, namun....


Duk ! "Yah ada tanjakan lagi," keluh Fajar saat kursi rodanya menabrak tanjakan yang cukup tinggi.


"Aku bantu ya Mas." Indadari pun mencoba memanjakan kursi roda Fajar.


"Maaf mas aku gak kuat." sesal Indadari yang sudah ngos-ngosan.


Keduanya semakin panik melihat jarak para anak buah Nyai Mona dengan mereka yang semakin dekat.


"Ya udah, saya lurus keluar aja, Mbak tetap ke belok ke kiri, oke !" saran Fajar yang juga ngos-ngosan.


"Saya ikut Mas aja ya, saya takut." tolak Indadari.


"Gimana nih, kalau dia ikutin aku, aku tetep dikejar sama orang-orang itu, tapi kasihan juga sih dia." pikir Fajar. "Oke deh." jawabnya, lalu mereka bergegas.


Bruk ! Beberapa anak buah malah menabrak pedagang kerak telor yang lewat. "Hati-hati dong !" pekik salah satu dari mereka. "Maaf Bang." balas si pedagang yang ketakutan.


Fajar dan Indadari telah keluar dari sisi samping kanan pasar malam, yang gelap, sunyi serta ditumbuhi cukup banyak pohon.


"Mbak, kita sembunyi di belakang pohon besar itu aja gimana ?" bisik Fajar memberi saran.


"Ide bagus tuh Mas." puji Indadari, juga berbisik.


"Oke. Mbak pegang handle kursi roda saya, supaya kita gak terpisah." imbuh Fajar.


Deg ! "Maksudnya Mas ?" bisik Indadari yang malah berdebar.


"Ya maksud saya, ini kan gelap, Mbak pegang handle kursi roda saya aja, biar kita gak mencar." jelas Fajar masih berbisik.


"Mikir apa sih Indadari !' batinnya, lalu mengangguk paham.

__ADS_1


Keduanya pun bergegas untuk sembunyi di balik pohon tersebut. Tak lama....


"Gila, gelap banget ini tempat."


"Semua nyalain senter HP !"


"Lebih baik kita mencar aja, supaya cepat ketemunya."


Para anak buah Nyai Nona pun mulai menyebar.


"Waduh, ada yang ke sini lagi Mas !" bisik Indadari yang mengintip sejenak dari balik pohon.


"Aku yakin kok matanya tuh udah rabun, jadi kalau pun dia ke sini aman, tenang aja." imbuh Fajar yang membuat Indadari harus menahan tawanya.


Anak buah itu semakin mendekat ke pohon tersebut, Fajar dan Indadari pun bertambah panik, membuat kedua tangan mereka saling bertautan.


Kring-kring ! Telpon dari Nyai Mona kepada salah satu anak buah. "Nyai Mona !" paniknya, namun segera ia angkat.


"Halo Nyi." jawab si anak buah.


"Hey kumpul semua !" panggil anak buah itu kepada teman-temannya.


Indadari dan Fajar sedikit bernafas lega, lalu keduanya menatap ke bawah, baru menyadari sesuatu, spontan mereka berdua pun saling melepaskan tautan tangan masing-masing, lalu salah tingkah dibuatnya.


"Pasti Indadari belum kau-kau ketemukan kan !?" ketus Nyai Mona.


"Maaf Nyi kit...." balas para anak buah terpotong.


"Kau semua balik ke sini, ada costumer yang mabuk ngamuk, karena Indadari malah kabur, cepat balik !" perintah Nyai Mona.


"Siap Nyi !" seru para anak buah.


Telpon pun ditutup oleh Nyai Mona.


Para anak tersebut langsung bergegas kembali ke lokalisasi.

__ADS_1


"Huuh akhirnya mereka pergi juga." gumam Indadari yang langsung terduduk di atas akar pohon.


"Alhamdulillah !" lega Fajar.


"Maksudnya, alhamdulilah." ralat Indadari yang sedikit malu.


Lalu Fajar mengambil sesuatu dari kantong belakang kursi rodanya.


"Mbak minum dulu." tawar Fajar kemudian, sambil menyodorkan botol minumnya.


"Gak usah Mas, terima kasih." tolak Indadari yang sebenarnya sangat haus.


"Yang bener nih ? Ya udah saya minum aja." goda Fajar terkekeh.


"Bismillah." doa Fajar, sambil membuka tutup botol, kemudian meminumnya, tanpa menempelkan bibirnya.


Gleg gleg gleg.


Indadari pun berulang kali menelan ludah sendiri karenanya.


"Nih sebelum saya berubah pikiran." Fajar kembali menyodorkan botol minumnya, yang segera disambar Indadari dari tangan kanannya.


"Mau baca bismillah dulu gak, biar air minumnya berkah ?" jeda Fajar saat Indadari sudah menempelkan bibirnya ke mulut botol.


"Bismillah." kata Indadari, yang membuat Fajar tersenyum.


Gleg gleg gleg. Indadari pun meminumnya sampai tandas.


"Aus apa aus Mbak." canda Fajar, membuat pipi Indadari memerah.


"Alhamdulillah." ucap Fajar yang spontan diikuti oleh Indadari.


"Oh iya dari tadi kita belum kenalan ya, nama saya Fajar." ujarnya. "Nama saya Indadari." balasnya, sambil berjabatan tangan sebentar.


"Emm saya boleh tau gak ya, orang-orang tadi itu siapa, kok Mbak sampai dikejar-kejar ?" tanya Fajar penasaran.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2