Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.23


__ADS_3

Indadari meraih tangan kiri sang suami. "Mas mau ninggalin aku di sini, sendiri ?! Aku takut Mas," keluhnya, menunduk.


"Pasti dia masih trauma." batin Fajar


"Sebentar aja Ndari, ya." bujuknya, menangkup wajah istrinya menggunakan tangan kanan.


(Ngeeg) pintu ruang rawat terbuka. "Permis...." ucap Yusuf menggantung, ketika melihat momen romantis tersebut.


Fajar serta Indadari yang menyadari kedatangan Yusuf pun, refleks menjauhkan diri satu sama lain, dengan pipi nan memerah.


Fajar berdehem, dan berkata "Suf kenalin, Ini Indadari, Indadari ini Yusuf, adik ku."


Mereka berdua saling mengangguk melempar senyum.


Yusuf mendekat, lalu membisikan sesuatu kepada kakaknya "Kak ikut gak, aku mau ke mushola ?"


"Iya, bentar." gumam Fajar.


Fajar mengayuh kursi rodanya, untuk menekan bel di belakang atas ranjang.


Tak berapa lama seorang suster pun datang "Ada yang bisa saya bantu ?" tanyanya ramah.


"Iya, titip istri saya sebentar ya Sus." balas Fajar, yang membuat pipi istrinya memerah.


"Baik Pak." jawab sang suster.


"Aku keluar bentar ya." pamit Fajar kepada istrinya.


Walau ragu, Indadari tetap mengangguk.


"Secepet itu Kak lupa sama Kak Nisa ? Tadi mesra banget kayaknya sama, istri tercinta." sindir Yusuf, di perjalanan menuju musholla rumah sakit.


Fajar tertawa sumbang. "Enggak lah Suf, aku masih inget kok soal perasaan ku sama Anisa, apalagi perasaan bersalah ku sama dia." tuturnya bernada sendu. "Soal yang tadi, mungkin aku kebawa suasana."imbuhnya.

__ADS_1


"Terus rencana ke depan Kakak gimana ?" tanya Yusuf.


"Aku belum tau Suf, jalanin aja dulu lah," jawab Fajar pasrah.


"Kalau Kak Nisa tau, terus mutusin perjodohannya sama Kakak gimana ?" imbuh Yusuf.


"Ya udah, gimana lagi." pasrah Fajar lagi.


Yusuf pun menahan kursi roda kakaknya. "Dari tadi Kak Fajar kok pasrah banget sih, jangan-jangan Kakak mulai suka ya sama dia ?!" cetusnya curiga.


Fajar menghela nafas kasar. "Yang aku rasain sekarang, rasa tanggung jawab ku ke dia Suf, kalau perasaan yang lain... Belum tau." ujarnya jujur.


"Tanggung jawab Kak, tanggung jawab apa, katanya gak pernah mes*m sama dia ?!" timpal Yusuf salah paham.


"Maksudnya... Tanggung jawab karena udah njawab ijab kabul, karena udah menikahi dia... Adikku Yusuf...." gemas Fajar.


"Oalah...." kata Yusuf nan baru mengerti. "Oke, sekarang kalau aku tanya, pilih Kak Anisa apa Indadari, pilih mana ?" lanjutnya.


"Kalau kamu tanya begitu, aku masih bingung Suf." balas Fajar. "Udah ah, ayo ke mushola, malah wawancara !" imbuhnya kesal.


Beberapa menit kemudian....


""Assalamualaikum." salam Fajar, setelah membuka pintu ruang rawat.


"Waalaikumsalam Mas !" balas Indadari, membangunkan tubuhnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Pak, Bu." pamit suster itu, nan dibalas anggukan oleh keduanya.


"Adik kamu gak ikut ke sini lagi Mas ?" tanya Indadari penasaran, karena tak melihat lagi sang adik ipar.


"Ooh, dia subuhan di mushola." jelas Fajar. "Ndari, pake dulu nih mukena-nya." pintanya, sambil menyerahkannya kepada sang istri.


Indadari pun segera memakainya.

__ADS_1


"Rambutnya jangan kelihatan dong Ndari." tegur Fajar, sembari merapikan rambut istrinya ke dalam mukena.


Perlakuan tersebut membuat Indadari berdesir, hingga memegangi dadanya. "Kenapa jantungku berontak gini ya ?" batinnya.


Setelah itu, Fajar membimbing istrinya untuk ber-tayamum, lalu mengerjakan sholat subuh bersama.


(Tak sadar, wudhu atau tayamum mereka telah batal, ketika bersentuhan).


Di mushola rumah sakit....


Yusuf yang baru selesai berdoa, dikejutkan seseorang nan menepuk pundaknya. "Ayah, Ayah di sini ?!" ujarnya panik.


"Kakakmu mana, sakitnya kumat ?" tanya Ayah Anton datar.


"Ee...." bingung Yusuf. "Ya Allah !.. Jawab apaan nih !" batinnya.


"Ditanya malah diem. Fajar mana ?" desak Ayah Anton masih datar.


"Kak Fajar ada Yah. Ayah ke sini sendiri ?" kata Yusuf mengalihkan topik.


"Enggak, Ayah ke sini sama ibu dan tante kamu, itu mereka." jawab Ayah Anton, menatap keduanya yang berjalan mendekat.


Ibu Yuli meraih tangan kanan Yusuf. "Kakak mau mana Nak, dia gak apa-apa kan ?!.." tanyanya khawatir.


Yusuf menatap bergantian ayah, ibu dan tantenya. "Kakak... Lagi di ruang rawat." jujurnya was-was.


"Fajar di rawat !?" cetus Tante Lia.


"Kakak kamu dirawat di mana ?... Ayo anterin Ibu ke sana...." ajak Ibu Yuli menangis, menarik tangan kanan anaknya.


"Kak Fajar gak di rawat Bu." ralat Yusuf.


Perkataan Yusuf membuat ketiganya bingung. "Maksudnya ?" tanya mereka kompak.

__ADS_1


"Yang di rawat itu... Istrinya Kak Fajar." ungkap Yusuf.


Bersambung....


__ADS_2