Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.18


__ADS_3

Menjelang tengah malam, Yusuf terbangun karena merasa haus, ia pun berjalan keluar kamar, hendak mengambil air dari (dispenser) dapur.


"Kak Fajar." gumam Yusuf ketika melihat sang kakak, berada di lantai bawah rumahnya.


Setelah menuruni tangga, Yusuf pun bertanya "Mau Kemana ?" melangkah ke arah si tunadaksa (kakaknya). "Udah malem loh Kak." lanjutnya, berdiri di belakang kursi roda.


Fajar yang terkejut, langsung menoleh. "Uusshh, jangan keras-keras ngomongnya !" pintanya lirih.


"Kak Fajar mau kemana ?" ulang Yusuf, sedikit berbisik.


"Aku mau nolongin orang yang diculik." lirih Fajar, berkata jujur..


"Ha ! Kakak ngapain tiba-tiba mau nolongin orang di culik ?!" gumam Yusuf mempertanyakan.


"Ceritanya panjang Suf, nanti deh Kakak ceritain." balas Fajar. "Ya udah, aku pergi dulu, o iya, jangan kasih tau siapa-siapa ya soal ini. Assalamualaikum." imbuhnya, segera mengayuh kursi roda.


"Waalaikumsalam. Tunggu Kak." cegah Yusuf, menahan kursi roda kakaknya. "Gak mau lapor polisi aja Kak ?" usulnya.


"Ya jawabannya sama, kayak pas aku nelpon Ibu di mobil tadi, nanti urusannya jadi panjang Suf." tutur Fajar.


"Tapi Kak...." "Ya udah ya."kata Fajar, memotong kalimat Yusuf.


"Bentar Kak." cegah Yusuf lagi.


"Apa lagi Suf." geram Fajar, masih bersuara lirih.


"Aku ambil kunci mobil sama jaket ku dulu Kak." cetus Yusuf, lalu bergegas.

__ADS_1


"Tunggu Suf." cegah Fajar. "Kenapa Kak ?" tanya Yusuf, menghentikan langkahnya.


"Kamu mau bantuin Kakak, buat nolongin orang yang di culik ?!" gumam Fajar antusias (memastikan). "He'em Kakak Fajar Ramadhan." pukas Yusuf menekankan kalimatnya.


Di lokalisasi, sedang dipenuhi gemerlap cahaya lampu warna-warni, dan suara musik berdentum kencang, karena tengah berlangsung pesta semalam suntuk, yang diadakan Tuan Damar.


Para pengunjung pesta disuguhi berbagai makanan, minuman, sampai obat-obatan terlarang juga ada.


Ketika para pengunjung diliputi kegembiraan, Indadari malah sebaliknya, diselimuti kesedihan serta tekanan.


"Sayang, stop nangisnya, nanti makeup-nya luntur loh." tegur Nyai Mona tersenyum, Indadari pun langsung menahan tangisnya.


Beberapa menit kemudian, Indadari telah selesai dirias oleh sang nyai. "Woow, kau cantik sekali sayang, pasti Tuan Damar terpesona deh nanti." pujinya masih tersenyum.


Setelah itu, Indadari diantarkan kembali menuju kamarnya, lalu ia didudukkan di pinggir ranjang.


"Ayah... Indadari pengen ikut Ayah aja...." lirihnya, kembali menangis.


"Ya Allah, tolong lindungi Ndari, serta ijinkan kami untuk menjemputnya." batin Fajar, yang sedang duduk di samping adiknya.


Yusuf yang sedang menyetir mobil, menoleh sejenak. "Yang diculik siapa sih, sampe bikin Kak Fajar diem gini ?" herannya dalam hati. "Sebenarnya kita mau nolongin siapa sih Kak ?" tanyanya, membuka pembicaraan.


"Nanti juga kamu tau." timpal Fajar datar, menatap lurus ke depan.


"Tinggal cerita aja susah amat Kak." protes Yusuf, semakin kepo.


"Nanti aku ceritain semuanya di rumah, biar sekeluarga denger sekalian." pukas Fajar.

__ADS_1


"Oke...." balas Yusuf, manggut-manggut.


"Lebih ngebut lagi Suf." perintah Fajar, masih datar.


"Oke Kak." ucap Yusuf, segera melajukan mobilnya.


(Ngeeg) pintu kamar terbuka, nampak Tuan Damar yang langsung menatap intens Indadari, nan memakai dress seksi dengan rambut panjang terurai.


"Halo cantik.": sapa Tuan Damar menyeringai, sebelum melangkah masuk ke ruangan tersebut.


Karena takut, Indadari mundur dan terus memundurkan tubuhnya, untuk menjauhi Tuan Damar, yang mendekat dan semakin mendekat, hingga istri Fajar itu terpojok di ujung ranjang (keduanya telah saling berdekatan).


"Jangan Tuan, jang...." (Cup) lirih Indadari terpotong, karena Tuan Damar tiba-tiba menci*m bibirnya dengan penuh nafsu.


Plak ! Tamparan Indadari, membela diri.


Sementara itu....


"Kemana lagi Kak jalannya ?" tanya Yusuf lagi, sembari memindai sekitar. "Ini bukannya jalan ke pasar malam kemarin ?" katanya dalam hati.


"Kemana lagi ya ?" kata Fajar pada diri sendiri, membuat Yusuf langsung menginjak rem mobilnya. "Jangan bilang Kakak belum tau tempatnya." tebaknya.


"Yaa, aku belum tau tempat pastinya dimana, tap...." "Astaghfirullah hal adzim...." ucap Yusuf, mengusap wajahnya kasar (memotong kalimat sang kakak).


"Kak Fajar gimana sih, mau nolongin orang tapi gak tau tempatnya...." sementara Yusuf terus mengoceh, Fajar seperti melihat sesuatu. "Ya Allah, itukan mobil yang nyulik Ndari tadi pagi !" batinnya yakin.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2