Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.2


__ADS_3

Indadari kabur lewat jendela, utus 5 orang kita untuk cari dia !" perintah Nyai Mona.


"Siap Nyi." patuh Asisten Rio, segera melaksanakan tugasnya.


Saat ini Indadari sedang menyusuri kebun pisang yang ada di halaman belakang tempat lokalisasi.


"Untung tadi gak ada orang juga." gumam Indadari sembari terus berlari.


"Jangan lari kamu !"


"Keluar, jangan sembunyi !"


Para anak buah Nyai Mona juga membawa HP yang di gunakan sebagai senter.


"Astaga, ada yang ngejar aku !" batin Indadari panik saat menoleh ke belakang.


Indadari pun mempercepat langkahnya dan menyelusup di antara pohon pisang.


"Ular !" pekik Indadari, lalu menutup mulutnya.


Para Anak buah yang curiga pun sepakat untuk mendekat ke sumber suara.


"Hiyaaa !" teriak Indadari saat melemparkan ular hijau tersebut ke arah mereka.


"Ular-ular !" panik para anak buah tersebut, yang dimanfaatkan Indadari untuk menjauh.


Sesaat kemudian, ular hijau itu dilempar ke arah belakang oleh seorang anak buah. "Sial dia kabur lagi, kejar !" serunya.


Sementara itu, di salah satu kios permainan, Fajar sedang mencoba peruntungannya bermain (lempar kaleng susun).


"Fokus Fajar, fokus, demi hadiah boneka buat Anisa !" harapnya yang bersiap melempar bola.

__ADS_1


Klontang-klonteng !


Lemparan pertamanya menyisakan 1 buah kaleng.


"Aah hampir aja, coba lagi !" ujar Fajar pantang menyerah.


Ketika Fajar ingin bergeser dengan kursi roda otomatisnya ke kaleng susun yang ada di sebelah. "Aduh, kok bisa-bisanya sih aku lupa ngecas si kuda," sesal Fajar, yang akhirnya harus mengayuh kursi roda dengan kedua tangannya.


Fajar pun segera mengambil bola dan fokus melihat target tersebut. "Ayo kena semuanya, plis !" gumamnya.


Klontang-klonteng !


"Alhamdulillah, jatuh semua !" seru Fajar dengan mengangkat kedua tangannya ke udara.


Saat ini Fajar sedang terkekeh melihat tingkah ayah dan adiknya yang sedang menaiki wahana roller coaster, dengan tangan kanannya yang sudah memegang hadiah pernikahan tersebut, berupa boneka beruang mungil.


"Oh iya Ibu sama Tante Lia lama banget ke toiletnya." gumam Fajar melihat sekeliling.


Fajar meraih HP yang ada di saku bajunya lalu segera memotret, kemudian ia mengantongi boneka itu terlebih dahulu agar lebih mudah untuk mengetik chat.


"Oleh-oleh buat catri ku :)." chat Fajar untuk Anisa, yang dikirim bersamaan dengan foto boneka beruang mungil.


Duk ! Prak ! Tiba-tiba HP Fajar terjatuh saat ia ditabrak seseorang.


"Astaghfirullah hal adzim !" spontan Fajar, dan langsung menutup kedua mata dengan tangan kanannya saat melihat perempuan cantik memakai dress seksi, di belakangnya.


"Maaf Mas, saya lagi di kejar orang, tolong saya Mas tolong saya !"" mohon perempuan tersebut panik, yang ternyata adalah Indadari.


Dengan spontan Fajar segera mengalihkan tangan kanannya yang menutupi kedua mata, dan berkata "Saya tolongin !"


"Terima kasih Mas !" balas Indadari, lalu sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Fajar, kenapa bilang gitu sih !" batinnya setengah menyesal.


"Ayo dapat ide !" batin Fajar berulang-ulang sambil berfikir.


Sementara para anak buah Nyai Mona semakin mendekat.


"Aha !" Fajar pun memutar kursi rodanya ke arah anak buah tersebut. "Pinjam nya ya Pak !" imbuhnya, dan segera melempari mereka dengan bola-bola dari kios permainan tadi.


"Kena semua ?" Fajar justru heran ketika lemparannya berhasil mengenai 5 targetnya, membuat kepala para anak buah pusing.


'"Terima kasih Mas sudah membantu saya." ucap Indadari, menjabat tangan kanan Fajar sekilas.


"Sama-sama cantik." kata Fajar keceplosan lalu menutup rapat mulutnya, ketika melihat Indadari yang sedang tersenyum.


"Ha ! apa Mas ?" tanya Indadari memastikan.


"Duh aku ngomong apa sih, ingat ada Anisa !" batin Fajar.


"Ibu-ibu, bapak-bapak tangkap mereka, mereka penjahat !" seru Fajar kepada para pengunjung, sekaligus mengalihkan topik.


Lalu beberapa pengunjung pun mencoba menangkap para anak buah itu, tapi....


"Jangan ikut campur, kecuali kalian mau ditumbuk !" ancam salah satu anak buah, sambil mengepalkan tangan besarnya, yang ditiru oleh teman-temannya yang lain.


Beberapa pengunjung ada yang mundur, ada juga yang masih mencoba melawan, namun akhirnya kalah.


Para anak buah Nyai Mona pun bergegas untuk mengejar kembali.


"Mbak mereka ke sini, kabur mbak kabur !" panik Fajar melihat 5 orang itu kembali mendekat, ia langsung memutar balik arah kursi rodanya dan mengayuh dengan kedua tangannya cepat.


"Tunggu saya Mas !' seru Indadari, berlari menyusul Fajar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2