Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.21


__ADS_3

Sesampainya dalam kamar, tak ditemukan Indadari di sana. "Sial, dia kabur lagi !" geram Nyai Mona, lalu melanjutkan langkahnya lebih ke dalam, baru 2 langkah, kaki kanannya seperti menginjak sesuatu, ia pun berjongkok untuk mengambilnya, dengan tangan kiri. "Inikan kalungnya...." lirihnya (menggantung) dalam hati.


Flashback on.


"Assalamualaikum." salam seorang laki-laki berkursi roda, mendorong pintu rumah lalu memasukinya. "Kamu mau ke mana bawa tas gede begitu ?" tanyanya kepada sang istri.


"Aku mau pergi dari sini Mas." jawab istrinya ketus, yang membuat suaminya terkejut. "Mau pergi ke mana ?! Anak kita masih kecil, dia masih butuh kamu ibunya !" tanyanya lagi, dengan nada meninggi.


Sang istri terkekeh. "Aku gak peduli lagi Mas, aku capek ngurusin kamu yang lumpuh, aku bosen hidup susah Mas !" ujarnya, sebelum melangkah hendak keluar rumah, namun baru beberapa langkah, tangan kanannya ditahan sang suami. "Mau kemana ?" tanyanya untuk ke sekian kali.


Ia menghempaskan pegangan tangan suaminya, sebelum menjawab "Aku dapet tawaran kerja di luar kota, buat jadi pegawai kafe."


Suaminya nampak mengambil sebuah kotak kecil dari kantong baju. "Ini, aku udah beliin kalung buat kamu." tuturnya sembari menyerahkan benda tersebut.


Perempuan muda itu pun membukanya, mengangkat kalung di dalamnya, dan tertawa. "Nih, buat kamu aja, kalung jelek begitu di kasih ke aku " ucapnya, mengembalikan kotak kecil berserta isinya.


"Aku pergi Mas." pamit sang istri, berlalu meninggalkan pria berkursi roda itu.


"Mona ! Mona !" panggil suaminya, bersamaan dengan tangisan bayi mereka, yang tak dihiraukan.


Flashback off.


Nyai Mona tersadar dari lamunan. "Mas Rahman...." lirihnya, menatap nanar kalung nan ia pegang.


Tanpa memperdulikan Rio dan orang-orang yang sedari tadi memanggilnya, Nyai Mona pun berjalan cepat menuju ruangannya.


Di rumah sakit....

__ADS_1


""Kak Fajar gak coba jelasin ke merek...." kata Yusuf menggantung, karena HP-nya berbunyi.


"Siapa nelpon Suf ?" cemas Fajar.


"Ibu Kak," lemas Yusuf, menunjukkan tampilan layar.


Fajar mengusap wajahnya kasar, dengan tangan kanannya.


"Jawab Apa nih Kak ?" bingung Yusuf, sedikit panik


Baru Fajar ingin membuka mulutnya, pintu UGD terbuka, lalu sosok di balik pintu menghampiri mereka. "Keluarga Indadari ?" panggil seorang dokter bernama Indri (terlihat dari tanda pengenalnya).


"Saya suaminya Dok." balas Fajar, mengayuh kursi rodanya, sedikit mendekat kepada Dokter Indri.


"Begini Pak, pasien mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan, tingkat berat, jadi pasien harus diberikan infus guna memulihkan kondisinya." jelas Dokter Indri.


"Jadi dia harus dirawat inap Dok ?" tanya Fajar.


"Baik Dok." ucap Fajar mengerti.


"Kalau Bapak mau menjenguk, tunggu sampai dipindahkan ke rawat dahulu ya Pak." tutur dokter Dokter Indri.


Fajar mengangguk paham.


Setelah itu Dokter Indri pamit, sebelum berlalu pergi.


"Assalamualaikum Bu." Supaya ibunya tidak mendengar percakapan Fajar dan Dokter Indri, Yusuf mengangkat telepon di lobby rumah sakit.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Kamu sama Kakak mu kemana sih ?! Matahari aja belum muncul loh udah pergi aja, pake mobil lagi ! Kalian kemana ?!" omel Ibu Yuli panjang lebar.


"Ee... Kita lagi di rumah sakit suci medika Bu, jenguk temen." bohong Yusuf.


(Tut tut tut) sambungan telpon terputus, ketika omongan Yusuf belum selesai.


"Halo ! Halo Suf !" panggil Ibu Yuli khawatir.


"Kenapa Kak ?" kepo Tante Lia.


Ibu Yuli bergabung dengan adiknya duduk di sofa. "Belum selesai ngomong, telponnya keputus." jawabnya lesu.


"Tapi Yusuf sempet bilang gak Kak mereka dimana ?" tanya wanita berjilbab itu.


"Katanya mereka lagi di rumah sakit suci medika, habis itu, tut tut tut ," jawab Ibu Yuli lagi, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Mereka ngapain ya ke rumah sakit suci medika ? Itu lumayan jauh loh dari sini Kak." kata Tante Lia, juga khawatir.


"Astaghfirullah hal adzim ! Apa Yusuf nganterin kakaknya ya ? Tadi kan Fajar masih sakit Dek...." cetus Ibu Yuli, menatap nanar adiknya.


"Emm... Gini aja, daripada nebak-nebak, mendingan kita nyusulin mereka aja , gimana Kak ?" usul Tante Lia.


"Ide bagus Dek ! Ya udah, Kakak. siap-siap dulu ya, sekalian bangunin suami juga." balas Ibu Yuli, bergegas menuju kamarnya di lantai 2.


"Pake mobil ku aja ya Kak, aku yang nyetir !" ujar Tante Lia sedikit berteriak.


Ibu Yuli menoleh lalu mengangguk setuju.

__ADS_1


Tante Lia pun berjalan cepat, hendak bersiap-siap di kamarnya.


Bersambung....


__ADS_2