Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.27


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang, Indadari pun membuka mulutnya. "Sebenarnya, saya belum ceritain ini ke siapa-siapa Tante,"


"Cerita apa emangnya ?" kepo Tante Lia.


Flashback on.


Pada suatu siang menjelang sore....


"Indadari, Indadari !" panggil pria paruh baya bernama Satyo, yang merupakan bapak angkat gadis tersebut. "Kemanaa lagi tu bocah ?" imbuhnya membatin.


Ia pun menyusuri satu-persatu ruangan di rumahnya, namun Indadari belum juga diketemukan.


Satyo menghembuskan nafas kasar, saat melihat Indadari yang baru memasuki rumah. "Kamu dari mana ?! Bapak cari-cari juga !" tanyanya kesal.


"Indadari abis dari warung Pak," jawabnya sedikit menunduk. "Apa, Bapak butuh sesuatu ?" imbuhnya.


Satyo mendudukkan diri di kursi kayu ruang tamu, lalu berujar "Hari ini, Bapak mau ngajak kamu jalan-jalan."


"Jalan-jalan, ke mana Pak ?!" tanya Indadari antusias.


"Ada laah, nanti juga tau,sana, siap-siap dulu." timpal Satyo.


"Iya Pak !" ucap Indadari mengangguk semangat, bergegas menuju kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Indadari pun membonceng ke motor bapak angkatnya.


"Ayo Pak." katanya bersemangat.


Satyo tersenyum menyeringai, sebelum melajukan kendaraan beroda dua tersebut.


Setelah perjalanan yang lumayan panjang,


akhirnya Satyo mengentikan motor hasil kerja Indadari itu di samping kolom jembatan, nan terlihat begitu sepi.

__ADS_1


"Kita berhenti di sini Pak, ini di mana ?" cicit Indadari memindai sekeliling.


Tiba-tiba Satyo menarik kasar tangan kanannya menuju kolom jembatan. "Auw, Pak sakit Pak !" rintih Indadari kesakitan.


Sesampainya di kolom jembatan, terlihat beberapa pria berdiri kokoh, dengan sebuah mobil terparkir dibelakangnya.


"Me... Mereka siapa ?..." lirih Indadari mulai curiga.


"Cantik, sesuai sama fotonya." seringai salah satu pria, nan memegang secarik kertas berfotokan Indadari.


Pria itu melemparkan amplop tebal ke arah Satyo, yang segera di tangkapnya. "Terima kasih Bos !" ucapnya tersenyum senang.


Pelempar amplop itu mengangguk, dan berkata "Bawa Dia !"


"Bapak jual aku ?!" tanya Indadari tak percaya.


'Iya." jawab Satyo santai.


"Ikut !"


Seru kedua pria, nan menyeret Indadari untuk masuk ke dalam mobil. "Lepas, lepasin saya ! Bapak jahat ! Bapak jahat...!" peliknya berderai air mata.


Satyo cuek (tak perduli), meninggalkan Indadari.


Flashback off.


"... Habis itu saya gak sadarkan diri, bangun-bangun udah di lokalisasi Tante...." tutur Indadari apa adanya, lalu menutupi tangisnya menggunakan kedua tangan.


Karena tidak tega, Tante Lia langsung menarik tubuh Indadari ke pelukannya, dengan mata nan berkaca-kaca.


(Dek !) "Brengs*k !" pekik Fajar tertahan, sembari memukul pintu di sampingnya cukup keras,


"Astaghfirullah !" ucap Tante Lia terkejut, istri Fajar pun juga terkejut.

__ADS_1


"Mas Fajar kenapa ya kelihatan emosi gitu, apa karena dia denger ceritaku ?' tebak Indadari dalam hati.


"Fajar, Kamu kenapa ?" heran Tante Lia.


"Eng... Enggak papa kok Tante." jawab Fajar cengengesan. "Emm... Tante mau nengok Ibu gak ?" imbuhnya mengalihkan topik.


Tante Lia melepaskan dekapannya, lalu berkata "Iya, kamu di sini ya, jagain dia.".


Fajar mengangguk pelan.


"Nanti kita ngobrol lagi ya, Tante tinggal dulu." pamit Tante Lia tersenyum, sambil menyeka air mata keponakan mantunnya.


"I... Iya Tante." balas Indadari singkat.


Sebelum meninggalkan ruangan, sang tante menghampiri Fajar, guna mengusap pundaknya sekilas (tanda rasa bangga).


Kemudian, Fajar mengayuh kursi rodanya mendekat ke sisi kiri ranjang. "Mukena-nya mau dipakai terus tuh ?" tanyanya basa-basi.


Indadari pun menyentuh-nyentuh kepalanya (memastikan). "O iya." katanya terkekeh kecil, hendak melepaskan kain putih tersebut.


Untuk beberapa saat Fajar tersenyum, namun berubah datar seketika. "Aku denger semuanya." celetuknya tiba-tiba, membuat sang istri tertegun, berhenti melipat mukena.


"Aku gak nyangka, kisah hidup kamu serumit.itu." ungkap Fajar menatap istrinya.


Indadari tersenyum getir, membalas tatapannya sekilas. "Ya, begitu lah Mas," b


sahutnya tertunduk. "Maaf ya, kalau hidupmu jadi ikutan rumit Mas," imbuhnya.


"Ak... Aku gak bilang begitu." kata Fajar tak enak hati. "Duh, Aku salah ngomong nih," lanjutnya dalam hati.


Indadari menegabkan kepalanya, menatap lekat kepada Fajar. "Aku yang bilang begitu Mas, karena kamu nikahin aku, kamu jadi dimarahin, ditampar juga sama ayahnya Mas, bahkan ibu kamu sampai pingsan." tuturnya panjang lebar.


"Itu bukan salah kamu Ndari, itu salahku, aku yang ngucapin ijab kabul 2 hari lalu, tanpa seijin kamu." timpal Fajar.

__ADS_1


"Aku ngizinin kok Mas." jujur Indadari.


Bersambung....


__ADS_2