
Di salah satu ruangan balai desa, Fajar serta kursi rodanya telah terparkir di belakang meja, Indadari pun sudah duduk di kursi yang bersebelahan dengan tunadaksa tersebut.
"Dimana sih HP-ku, dicari-cari gak ketemu-temu ?!" batin Fajar panik, sembari kedua tangannya menjelajahi seluruh saku di pakaiannya.
"Oh iya, HP-ku kan jatuh pas aku ditabrak, dia," ucap Fajar, lalu menoleh kepada Indadari, yang tertunduk menangis tanpa suara.
Fajar terkejut ketika Pak RT tiba-tiba datang bersama seseorang, lalu berkata "Silahkan Pak Penghulu, ini calon pengantinnya."
"Baik Pak RT" ujar Pak Penghulu datar, langsung duduk di kursi yang ada, berhadapan dengan mereka berdua. "Jadi kalian ketahuan oleh warga, tidur berdua di pos ronda ?" tanyanya.
"Iya Pak, tap...." penjelasan Fajar dipotong oleh Bu Yasmin yang menunjukan foto di HP-nya dan berujar "Ini buktinya ! Mesra banget kan pelukannya Pak Penghulu ?"
"Astaghfirullah hal adzim." kaget Pak Penghulu.
Pak RT, para warga, bahkan Indadari dan Fajar pun masih terkejut melihatnya.
Pak Penghulu berdehem, sebelum ia bertanya kembali "Neng, apakah kamu masih punya, ayah ataupun saudara laki-laki, yang bisa menjadi wali nikah kamu ?"
"Saya sudah tidak punya keluarga...." lirih Indadari masih menangis.
Kalimat Indadari itu membuat Fajar menoleh kepadanya, beberapa saat.
"Kalau kamu Nak, apa ada keluargamu yang bisa datang ke sini ?" tanya Pak Penghulu lagi
Fajar, menjawab "HP saya jatuh Pak, jadi saya gak bisa menghubungi mereka."
"Apa kamu ingat nomer-nomer yang ada di HP-mu itu ?" imbuh Pak Penghulu, yang dibalas gelengan kepala oleh Fajar.
__ADS_1
"Maaf Pak, sebaiknya dipercepat saja, karena sudah mau masuk waktu subuh." gumam Pak RT yang berdiri di belakang Pak Penghulu
"Tapi orang tu...." ucap Pak Penghulu terpotong. "Cepat Pak Penghulu, nanti ada yang mau kabur lagi, bener gak para warga ?!" sarkas Bu Yasmin.
"Iya betul !"
"Setuju !"
Riuh beberapa warga di ruangan tersebut.
"Baik-baik, tenang semuanya !" seru Pak Penghulu, yang disertai oleh Pak RT "Tentang-tenang semuanya, tenang !"
"Ya sudah, kalian berdua silahkan tuliskan nama lengkap kalian dan ayah kandung masing-masing, di kertas ini " perintah Pak Penghulu, lalu menyerahkan pulpen miliknya.
Beberapa saat kemudian, dengan terpaksa Indadari dan Fajar telah menuliskan apa yang di minta oleh Pak Penghulu tadi.
"Maaf-maaf gua telat, tadi buang air kecil dulu di rumah." kata Pak Diman, yang baru masuk ke ruangan itu.
"Siapa yang peduli Pak Diman," ketus Bu Yasmin.
Pak Diman cuek dan mendekat ke meja, lalu menyodorkan boneka beruang mungil yang ia pegang di tangan kanan, kepada Indadari. "Apa ini punya lu ?" tanyanya.
Indadari menoleh untuk melihat boneka tersebut, kemudian menggeleng pelan.
"Masa, ini punya lu ?" tanya Pak Diman, kali ini kepada Fajar.
Fajar yang sedari tadi sudah menatap intens boneka itu pun, mengangguk perlahan..
__ADS_1
Beberapa warga menahan tawa dibuatnya, termasuk Pak Diman.
"Eh lu tau, apa bedanya boneka ini sama elu ? Kalau boneka ini gak punya mulut, kalau elu nggak punya malu, udah mes*m, punya boneka lagi." sarkas Pak Diman lalu tertawa, diikuti tawa beberapa warga yang akhirnya pecah.
"Kalau persamaan boneka itu dengan aku ? Sama-sama tak bisa bicara, mulut dibungkam !" batin Fajar kesal.
Pak Diman pun menaruh boneka itu di atas meja.
Sudah-sudah !" pekik Pak Penghulu. "Bagaimana kalau boneka ini jadi maskawin kalian ?' usulnya kemudian.
Dengan spontan, Indadari dan Fajar kembali melihat boneka tersebut
"Tapi Pak, it...." kata Fajar kembali dipotong oleh Bu Yasmin. "Tadi bilang gak bawa apa-apa yang bisa jadi maskawin, sekarang kan udah ada, gak usah alasan lagi deh !"
"Ya betul !"
"Gak usah alasan !"
Beberapa warga kembali riuh.
"Tenang Bapak-Bapak, Ibu-Ibu !" seru Pak RT lagi.
"Ya sudah, maskawin kalian apa yang ada saja ya. Saya mau tulisan dulu kalimat akad nikahnya, nanti Nak Fajar hafalkan dulu." cetus Pak Penghulu, lalu menulis di sebuah kertas.
"Ya Allah, aku bingung dengan situasi ini, apakah aku memang harus menikahi dia yang baru aku kenal ini, kalaupun tidak, bagiamana caranya menghindari pernikahan ini ya Allah ?..." batin Fajar berkaca-kaca. "Maafin aku Nis, kalau nanti boneka ini, bahkan aku pun tidak jadi kamu miliki...." lanjutnya.
"Apakah aku akan menikah, dengan laki-laki ini ya Tuhan ?..." batin Indadari masih menangis tanpa suara, sambil menatap Fajar.
__ADS_1
Bersambung....