
"Kirain satu rumah ikutan tadi." ujar Fajar.
"Ibu sama Ayah lagi ke kantor polisi Kak, kalau Tante, baru jadi panitia pengajian katanya." jelas Yusuf.
"Astaghfirullah ! Kita lupa kabarin mereka kalau Mas Fajar udah ketemu." cetus Anisa, yang masih menyetir mobilnya.
"Oh, Iya ya." timpal Yusuf, menggaruk kepalanya.
"Bentar, mau ngapain ke kantor polisi ?" tanya Fajar.
"Ya mau ngelaporin kejadian semalem lah Kak." jawab Yusuf.
"Kayaknya aku harus cari tau tentang Ndari dulu deh, sebelum polisi ikut campur di kasus ini." pikir Fajar dalam hati. "Suf, pinjem HP mu dong, aku mau telpon Ibu." pintanya.
Yusuf pun merogoh saku celananya, untuk mengambil HP, lalu dipinjamkan kepada Kakaknya.
"Makasih." ucap Fajar, segera mencari nomer Ibunya di HP itu.
Beberapa menit kemudian, mobil Anisa telah sampai di halaman depan rumah Fajar.
Fajar dibantu adiknya, untuk menaiki dan mendorong kursi roda, menuju ke kamar.
"Yak, terima kasih Suf." ucap Fajar lagi, setelah Yusuf berhasil membaringkan ia, di atas ranjang empuknya.
Yusuf meregangkan kedua tangannya, ke atas serta ke bawah. "Sama-sama Kak. Ngomong-ngomong berat Kakak lumayan juga ya, keberatan dosa ya ?" guraunya, lalu bergegas lari keluar, namun seperti biasa, timpukan batal dari Fajar hampir selalu mengenainya.
Pintu masuk rumah itu terbuka, nampak ibu dan ayah Fajar di sana. "Assalamualaikum." salam mereka berdua bersamaan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Tante, Om." jawab Anisa, yang beranjak dari sofa ruang tamu, guna menyalimi dua orang tersebut.
"Anisa, Fajar di kamarnya kan ?" tanya Ibu Yuli memastikan.
"Iya Tante." jawab Anisa lagi.
Ketiganya pun segera ke kamar Fajar.
"Astaghfirullah Fajar !..." kaget wanita berjilbab itu menangis, ketika melihat kondisi anaknya, dan spontan memeluknya.
"Sakit-sakit Bu !" pekik Fajar kesakitan.
"Astaghfirullah ! maaf-maaf Nak." sesal Ibu Yuli, langsung melepaskan pelukannya, lalu duduk di pinggir ranjang.
"Kemarin kamu ilang kemana, sampai bisa babak belur begitu, kenapa juga kamu gak mau bawa-bawa polisi di kasus semalem ?" cecar Ayah Anton datar, menyilangkan kedua tangannya.
"Udah Yah, nanti aja tanya-tanyanya, liat dong kondisi anak kita gimana !" omel Ibu Yuli, masih menangis.
Ayah Anton pun hanya merespon dengan decakan.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya ?" tawar Ibu Yuli, sambil mengusap lembut kepala putranya.
"Kalau ke rumah sakit, bisa-bisa disuruh nginep di sana lagi, malah gak bisa cari Ndari nanti." pikir Fajar.
"Kok bengong Nak ?" kata Ibu Yuli, menyadarkan Fajar. "Emm, aku mau di rawat di rumah aja ya Bu." tolaknya.
Ayah Anton kembali berdetak. "Kamu itu maunya apa ?! Lapor polisi gak mau, ke rumah sakit juga gak mau !" kesalnya.
__ADS_1
"Ayah !" tegur Ibu Yuli, menatap tajam sang suami.
"Fajar maunya bisa jemput istriku Yah." jawabnya dalam hati. "Tolong jaga Ndari di sana ya Allah...." lanjutnya.
Akhirnya seorang dokter pun didatangkan ke rumah.
Di lokalisasi, Indadari sedang sibuk mencari peniti, guna membuka kunci jendela kamar, agar dapat kabur seperti sebelumnya.
"Kau cari ini sayang ?" seringai Nyai Mona, sambil menunjukkan sesuatu nan ia pegang.
Indadari pun refleks berbalik badan karena terkejut, dan semakin terkejut, saat melihat sebuah peniti di tangan kiri bosnya.
Nyai Mona pun mendekat. "Kan udah ku bilang, jangan harap kau bisa kabur dari sini lagi sayang." ujarnya tersenyum, sembari mengibas-ngibaskan kipas lipatnya dengan tangan kanan. "Sekedar mengingatkan, malam ini kau harus melayani Tuan Damar dengan baik ya, buat dia puas, oke cantik." imbuhnya, sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Perlahan Indadari menjatuhkan dirinya, hingga terduduk di lantai beton, dengan bersandarkan almari kecil di belakangnya.
Terdengar adzan zuhur mulai berkumandang.
"Ya Allah, aku tau selama ini, aku banyak dosa kepada mu, tapi aku mohon... Bantu aku untuk keluar dari tempat ini... Aku mohon ya Allah...." gumam Indadari menangis, sambil menengadahkan kedua tangannya.
Malamnya kemudian....
Fajar tengah berbaring di atas ranjang, memikirkan sesuatu. "Bentar-bentar, kemarin waktu Ndari di kejar-kejar, dia kan lari masuk ke pasar malam. Berarti kemungkinan besar, lokalisasinya gak jauh dari situ, aku harus cari tempatnya !" batinnya antusias.
Dengan keadaan nan belum begitu pulih, Fajar diam-diam menaiki, lalu mengayuh kursi roda konvensional miliknya (non otomatis), menuju pintu keluar rumah, namun saat ia hendak menarik handle pintunya....
"Mau Kemana ?" tanya seseorang, melangkah ke arah si tunadaksa.
__ADS_1
Bersambung....