
"Kak Fajar gak di rawat Bu." ralat Yusuf.
Perkataan Yusuf membuat ketiganya bingung. "Maksudnya ?" tanya mereka kompak.
"Yang di rawat itu... Istrinya Kak Fajar." ungkap Yusuf.
"Calon istri kali Suf, ngelamar aja belum." timpal Tante Lia terkekeh kecil. " Emang Anisa sakit apa ?" imbuhnya.
"Bukan Kak Nisa yang sakit Tan," cicit Yusuf menunduk.
Tiga orang yang tengah duduk berjejer itu pun saling pandang, setelah mendengar ucapan Yusuf.
"Maksud kamu gimana sih ? Ngomong yang jelas." tuntut Ayah Anton.
"Ya maksudnya, istri Kak Fajar sakit, tapi bukan Kak Nisa," cicit Yusuf lagi, masih menunduk.
"Maksud kamu Fajar udah nikah sama orang lain gitu !" pekik Ayah Anton memastikan, yang membuat jamaah lain terusik.
"Kak Anton, jangan keras-keras ngomongnya, ngganggu jamaah lain tuh." tegur Tante Lia.
Ayah Anton berdiri. "Fajar di mana sekarang, kita ke sana." ucapnya datar, kemudian berjalan keluar mushola.
Tunggu Yah !" kata Ibu Yuli sedikit berteriak, berlari kecil menyusul suaminya.
Begitu pula Yusuf dan Tante Lia.
"Dimana Ruangannya ?" tanya Ayah Anton, memindai sekeliling.
"Ruangannya di ujung Yah," jawab Yusuf, *******-***** kedua tangannya.
Ayah Anton pun mempercepat langkahnya.
"Ya Allah Ayah, tunggu Yah !..." seru Ibu Yuli cemas, mengejar sang suami.
"Yang bener Fajar udah nikah Suf, sama siapa, kapan ?" cecar Tante Lia ngos-ngosan.
__ADS_1
"Beneran Tan, nama istrinya Indadari, buat lengkapnya, biar Kak Fajar aja yang cerita." timpal Yusuf.
Singkat cerita, mereka sampai di depan pintu ruang rawat.
"Inikan ruangannya ?" tebak Ayah Anton, menunjuk pintu tersebut.
Yusuf terdiam.
"Kalau diam, berati bener." pukas Ayah Anton, meraih handle pintu.
"Ayah-Ayah, tenang Yah, jangan pakai emosi." nasihat.Ibu Yuli, menahan tangan kanan suaminya.
"Lepasin Bu." pinta Ayah Anton, menghempaskan kedua tangan sang istri.
Pria berkacamata itu mendorong pintu tersebut, hingga sedikit terbuka.
Dilihatnya Fajar nan sedang mengimami sholat subuh, dengan perempuan asing sebagai makmumnya. "Astaghfirullah hal adzim Fajar !..." batin Ayah Anton, mencengkram handle pintu.
Pintu itu kembali ditutup olehnya, sebelum mendudukkan diri di kursi tunggu.
"Kenapa Yah ?" bingung Ibu Yuli, yang ikut duduk di samping kiri Ayah Anton.
"Fajar masih sholat berjamaah sama cewek, dan bukan Anisa." jawab Ayah Anton membungkuk, membuat istrinya menutup mulut menggunakan tangan kanannya.
Sedangkan Tante Lia bergumam "Astaghfirullah, jadi bener."
"Ya Allah Fajar... Kenapa kamu ngelakuin ini sih Nak ?.. Kenapa kamu tega sama Anisa... Padahal, dia tulus cinta sama kamu Fajar...." batin Ibu Yuli menangis.
Tante Lia berjalan menuju sang kakak, lalu mengusap-usap kedua pundaknya, agar lebih tenang.
Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba Ayah Anton beranjak dari duduknya, bergegas masuk ke ruang rawat.
"Ayah,, tenang Yah...." bujuk Ibu menangis, menyusul ke dalam.
Tante Lia dan Yusuf pun mengikutinya.
__ADS_1
"Udah selesai sholat, berjamaahnya ?" sindir Ayah Anton menekan kata berjamaahnya, di hadapan suami istri tersebut.
"Astaghfirullah, Ayah !" kaget Fajar.
"Ayah, om itu ayahnya Mas Fajar ?!" batin Indadari berdebar.
"Iya ini Ayah kamu. Kalau perempuan itu siapanya kamu ?" tanya Ayah Anton tersenyum sinis.
Fajar kembali dikagetkan dengan kedatangan ibu serta tantenya. "Ibu, Tante Lia !?" ucapnya.
"Jawab Jar, dia siapa ?" tagih Ayah Anton, masih datar.
Fajar menghela nafas, sebelum menjawab "Dia Indadari, istri aku Yah."
Plak ! Tamparan sang ayah kepada Fajar, dan semua terkejut karenanya.
"Ayah sabar Yah, sabar !" ujar Ibu Yuli menangis histeris, sembari memegangi lengan kiri suaminya.
"Fajar enggak nganggep kita lagi Bu, dia udah nikah di belakang kita !" kesal Ayah Anton, menunjuk-nunjuk wajah Fajar.
Tangan kanan sang ayah kembali melayang, menuju pipi anaknya, namun.... "Jangan Om !" cegah Indadari, dengan suara gemetar.
Semua mata tertuju pada Indadari, termasuk si ayah mertua. "Apa kamu !" balasnya.
"Ja... Jangan tampar Ma... Mas Fajar lagi, Om." pinta Indadari tergagap.
Ayah Anton menyeringai, lalu bertanya "kenapa kamu, bisa dan mau, dinikahi anak saya yang cac*t ini ?"
"Kita ditu...." "Ayah gak tanya kamu." kata Ayah Anton, memotong kalimat sang anak.
"Emm... Ka... Kami didesak warga, bu... Buat nikah Om." jawab Indadari.
"Didesak, Kok kalian bisa didesak buat nikah ?* tanya Tante Lia penasaran.
"Ka... Kami dibilang mes*m di po... Pos ronda Tan." ucap perempuan nan masih ber-mukena tersebut.
__ADS_1
"Astaghfirullah...." gumam Ibu Yuli, sebelum pingsan.
Bersambung....