Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.11


__ADS_3

"Bismillah...." gumam Fajar, berusaha menaiki kursi roda.


(Ngeeg) pintu dibuka, nampak Indadari yang telah berganti pakaian, memakai kaos berlengan sebatas sikut, rok semata kaki, serta rambut diurai.


Fajar pun menoleh ke belakang, dan... Duk ! "Aduuh !.." Ia terjatuh, karena terpesona dengan penampilan istrinya, yang menurutnya lebih cantik dari sebelumnya.


"Mas Fajar !" panik Indadari, berlari menuju suaminya. "Kamu gak papa Mas ?!" imbuhnya setelah sampai.


"Gak papa gak papa." jawab Fajar, yang kini dibantu istrinya untuk duduk di kursi roda. "Terima kasih ya Mba... Ndari." ucapnya tersenyum, ketika sudah duduk manis.


"Sama-sama Mas." balas Indadari juga tersenyum.


Adegan saling menatap pun tak terhindarkan.


Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi sudah mengintip, dari pintu masuk dapur.


Umi Nana bergegas menghampiri Fajar. "Umi kayak denger ada yang jatuh tadi ?" tanyanya tiba-tiba, membuat Indadari dan Fajar sedikit tersentak.


Fajar berdehem untuk menetralkan rasa canggungnya "Saya yang jatuh Umi." jelasnya, dibarengi anggukan Indadari.


"Oalah, Nak Fajar gak papa kan, tapi kok bisa jatuh ?" tanya Umi Nana lagi.


"Ee... Ee... Gak apa-apa Umi. Oiya, air PAM-nya sudah nyala belum ya ?" kata Fajar mengalihkan topik.


Umi Nana menahan tawa dibuatnya, karena ia tau sebabnya. "Oo, airnya sampai sekarang belum nyala Nak." jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Tapi, apa ada sisa air buat wudhu Umi ?" imbuh Fajar.


"Kayaknya di ember kamar mandi masih ada. Tapi kalian bisa, wudhu gak pake keran ?" timpal Umi Nana, dibalas anggukan oleh Fajar.


'Ya Allah, masakan ku !" panik Umi Nana, lalu berlari menuju dapur.


Fajar tersenyum memperhatikan tingkah Umi Nana. "Jadi kangen Ibu." batinnya, teringat pada ibunya.


"Mas Fajar, Mas !" panggil Indadari sedikit berbisik, sembari menggoyang-goyangkan pundak suaminya.


Fajar tersentak. "Ada apa ?" tanyanya.


"Maaf Mas. Emm Sebenarnya, aku udah lama gak sholat, jadi aku lupa baca-bacaannya, termasuk cara wudhu-nya." gumam Indadari, sedikit membungkuk agar dapat didengar suaminya.


"Nanti aku kasih tau, sekarang kita wudhu dulu." tutur Fajar, mulai menggerakkan kursi rodanya menuju kamar mandi, disusul istrinya.


Setelah itu, Indadari dibimbing suaminya untuk praktek, serta giliran Fajar mengguyurkan air dari gayung, untuk istrinya berwudhu.


Diperjalanan pendek menuju kamar (anak kandung Umi Nana), Fajar memberi tau istrinya, apa yang perlu dilakukan dan tidak dilakukan saat sholat. "Salah satu yang wajib dibaca pas sholat itu, surat Al-fatihah." itulah sebagian penjelasannya.


Sesampainya di tempat tersebut, Fajar (termasuk kursi rodanya) dan Indadari langsung memposisikan diri di syaf masing-masing.


Sambil memakai mukenanya, Indadari bertanya "Mas, sebenarnya aku mau tanya ini, dari kemarin."


"Tanya apa sih Ndari, kayaknya serius banget." tanya balik Fajar, menoleh pada istrinya.

__ADS_1


"Apa Mas gak benci saya, setelah tau apa pekerjaan saya ?" imbuh Indadari.


Fajar kembali menoleh ke depan. "Pertama, saya tau kamu terpaksa kerja di tempat itu. Kedua, saya gak benci manusianya, tapi benci sifat dan kelakuan jeleknya. Terakhir, saya juga masih banyak salah dan dosa." jelasnya, membuat Indadari tersenyum manggut-manggut.


"Mas, saya udah nih pake mukena-nya." ujar Indadari.


"Oke... Subhanallah...." cetus Fajar, ketika menoleh lagi kepada istrinya, yang dilihatnya jauh-jauh lebih cantik memakai pakaian tertutup, seperti sekarang.


Karena kurang mendengarnya, Indadari berucap "Apa Mas ?"


"Ee... Gak papa. Ayo kita mulai sholat-nya." jawab Fajar sedikit gugup, nan dibalas anggukan istrinya.


"Bismillah...." batin Fajar, sebelum memulai sholat subuh berjamaah.


Dek ! Suara pintu mobil yang ditutup, oleh Yusuf. "Assalamualaikum Kak." salamnya, setelah duduk manis di kursi mobil.


"Waalaikumsalam Suf." balas Anisa. "Sekarang jelasin, gimana Mas Fajar bisa hilang, dan kenapa kepala kamu bonjol begitu ?!" cecarnya kemudian.


"Oke-oke, aku jelasin Kak, tapi sambil mobilnya jalan." pinta Yusuf, nan dijawab "Oke." oleh Anisa, ia pun segera menjalankan kendaraan beroda empat itu.


Beralih lagi, ke halaman depan lokalisasi.


Ada sebuah mobil, yang telah menampung Rio, 3 anak buah barunya, serta 1 supir.


"Kita harus dapatkan Indadari hari ini, atau tidak sama sekali ! Jalan !" tegas Rio, yang duduk di samping supir.

__ADS_1


Mobil itu pun melaju.


Bersambung....


__ADS_2