
"Jangan macem-macem sama Ndari." ujar Fajar datar.
Rio dan anak buah tertawa mendengarnya.
"Memangnya kamu siapanya Indadari. Ha ?" tanya Rio terkekeh.
"Kamu gak perlu tau saya siapanya Ndari, yang pasti saya akan melindungi Ndari dari orang-orang seperti kalian !" tegas Fajar panjang lebar, sembari menunjuk Rio dan anak buahnya.
"Oke, kita buktikan saja anak cac*t, apa kamu bisa melindungi perempuan yang kamu panggil Ndari itu." balas Rio menyeringai.
Rio memberikan kode dengan gerakan kepala kepada 2 anak buahnya, untuk menangkap Indadari, sementara yang satunya disuruh menghajar Fajar bersamanya.
Duk dak duk ! Rio telah mendaratkan beberapa pukulan di pipi, perut serta dagunya, sebenarnya Fajar sempat bisa menahan serangan, sebelum kedua tangannya dipiting oleh si anak buah.
Tempat ini sedang sepi, jadi tidak ada yang bisa menolong keduanya.
"Mas Fajar !..." teriak Indadari menangis, dengan kedua lengannya di seret menuju mobil, namun tangan kanannya masih memegang erat boneka beruang (yang menjadi maskawin pernikahan mereka berdua).
"Ndari, aa !" pekik Fajar, nan masih dipukuli oleh Rio.
"Mas Fajar !..." teriak Indadari lagi sudah menangis sesenggukan, dan ia telah didudukkan di bangku mobil.
"Sudah masuk Bos !" seru salah satu anak buah, nan duduk di samping kiri Indadari. "Oke". pukas Rio.
__ADS_1
Dak ! Sebuah pukulan akhir dari Rio di perut, ia pun terkekeh meninggalkan Fajar. "Jalan." ucapnya, setelah masuk ke mobil, kendaraan beroda empat itu segera melaju.
Bruk ! Fajar jatuh tersungkur dari kursi roda. "Saya pasti njemput kamu Ndari, istriku...." batinnya, sebelum tak sadarkan diri di tengah jalan.
Di dalam mobil, Indadari terus memberontak. "Lepasin saya, lepasin !" pintanya, masih menangis sesenggukan.
"Buat dia tidur." perintah Rio, dan anak buahnya langsung membungkam mulut istri Fajar tersebut, dengan kain kecil nan sudah diberi obat bius.
Sementara itu di sekitar pos ronda....
"Astaghfirullah ! Itu Mas Fajar kan Suf ?" kaget Anisa, yang baru keluar dari daerah semi hutan itu bersama Yusuf. "Ya Allah, iya Kak !" timpalnya.
Keduanya pun bergegas mendekat kepada Fajar.
"Ya Allah, kamu kenapa Mas, kok bisa babak belur gini ?..." lirih Anisa menangis, lalu dengan spontan ia memegang pipi calon suaminya tersebut, padahal selama ini ia paling menghindari memegang lawan jenis, yang bukan muhrimnya.
"Suf, kita angkat Kakak kamu ke pos ronda itu yuk...." usul Anisa, sambil mengusap air matanya dengan tangan kanan. "Iya Kak." Yusuf setuju.
Mereka berdua menggotong Fajar, setelah berhasil membaringkan tunadaksa itu di pos ronda, Anisa pun duduk di sisi kanannya, dan Yusuf di sisi kirinya.
"Suf kamu masih pusing gak ?" tanya Anisa, dengan suara paraunya.
"Udah enggak terlalu sih Kak. Kenapa ?" tanya balik Yusuf.
__ADS_1
"Kamu ambil mobilku, terus bawa ke sini ya ? Soalnya aku gak hafal jalannya, biar aku yang jagain Mas Fajar di sini, sekalian ngobatin lukanya." pinta Anisa.
"Ee... Oke Kak. Kuncinya mana ?" kata Yusuf, kemudian menyodorkan tangan kanannya menengadah.
Anisa segera mengambil kunci mobil dari tas selempang-nya, lalu menyerahkannya kepada Yusuf.
Yusuf pun bergegas pergi menuju tempat parkir mobil.
Perempuan berhijab itu kembali merogoh tas miliknya, guna mencari sesuatu untuk mengobati Fajar.
"Ya Allah, siapa yang ngelakuin ini ke kamu sih Mas ?..." batin Anisa kembali menangis, sembari mengompres lebam di wajah Fajar, menggunakan sapu tangan yang telah dibasahi air dari botol minumnya.
Anisa beralih mengompres bibir yang nampak berdarah, tak disangka, hal itu malah membuat Fajar mulai membuka kedua mata.
"Kamu udah sadar Mas ?! Ini aku Anisa, calon istri kamu !..." ujarnya antusias, tapi masih dengan tangisan.
Deg ! Fajar berdebar mendengar kata-katanya. "Astaghfirullah hal adzim... Maafin aku Nis... Aku udah mengkhianati cinta kamu, dengan menikahi perempuan lain... Maafin aku...." lirihnya dalam hati.
Tak berapa lama, Indadari sudah terbaring di atas ranjang, di salah satu ruangan dalam lokalisasi. Perempuan berambut panjang tersebut, mulai mengerjabkan kedua mata, pertanda ia segera sadar.
"Selamat pagi menjelang siang aset cantik ku." seringai Nyai Mona, saat Indadari telah sadar sepenuhnya.
"Nya... Nyai Mona." ucap Indadari tergagap, ketika melihat bosnya serta para anak buah, berkumpul diharapkannya.
__ADS_1
Nyai Mona kembali menyeringai "Malam ini, kau harus jadi melayani Tuan Damar ya." ia pun mengusap lembut kepala Indadari, yang membuatnya ketakutan. "Dan kali ini, jangan harap kau bisa kabur lagi." imbuhnya.
Bersambung....