Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.19


__ADS_3

Plak ! Tamparan Indadari, membela diri.


Tuan Damar pun memegangi bekas tamparan di pipi kanannya yang memerah.


"Lepas Tuan, lepas !" pekik Indadari, berusaha melepaskan kedua tangannya, dari cengkraman laki-laki tua itu.


"Sebenarnya gak mau main kasar cantik, tapi berhubung kamu sudah main kasar sama aku, ya aku ikuti saja cara main kamu." jelas Tuan Damar panjang lebar, dengan seringainya. Duk ! "Aak !" pekiknya, saat kaki kiri perempuan itu, menghantam lato-lato miliknya.


Saat ini, Fajar dan Yusuf tengah memantau lokalisasi dari balik semak-semak.


"Kakak yakin dia diculik di sini ? Inikan warung biasa." tanya Yusuf memastikan.


"Itu cuman kedok Suf. Kamu tau gak ini tempat sebenernya apa ?" tanya balik Fajar, nan dijawab gelengan oleh Yusuf. "Lokalisasi." pukasnya.


"Ha, Kakak tau dari mana ?!" kaget Yusuf, belum percaya.


"Satu, mobil yang nyulik ada di sini, dua, alasan cewek di culik salah satunya untuk di, titik titik titik, kamu pasti paham lah." tutur Fajar, mengutarakan alasannya.


"Astaghfirullah hal adzim !" pekik Yusuf tertahan. "Bentar, jadi yang mau Kak Fajar tolongin itu cewek ?" imbuhnya memastikan. Fajar mengangguk.


"Kak Nisa udah Kakak kasih tau soal ini ?* kata Yusuf mengintrogasi.


"Emm... Belum, tapi secepatnya pasti aku kasih tau kok." jujur Fajar, sedikit gugup.


"Aku harap, Kakak gak lagi bermain api, di belakang Kak Anisa." ujar Yusuf mulai curiga, membuat Fajar sulit menelan ludahnya.


Yusuf berdehem, sebelum kembali bertanya

__ADS_1


"Terus, cara nolongin dia gimana ?"


"Sini, Kakak bisikin." balas Fajar, lalu membisikkan sesuatu ke telinga kanan sang adik. "Yakin nih Kak ?" Yusuf kembali memastikan.


"Insyaallah yakin." pukas Fajar.


"Oke, bismillah." ucap Yusuf, yang diikuti oleh Fajar "Iya, bismillah."


Keduanya memulai misi penyelamatan dengan, mencari jalan lain untuk menuju ke lokalisasi, berkedok warung itu.


"Makasih ya Suf, udah mau bantuin Kakak." ucap Fajar, sambil memegangi tangan kanan adiknya.


"Sama-sama Kak, ya sebenarnya aku masih bingung sih, kenapa Kak Fajar seniat ini mau nolongin orang diculik, tapi karena kayaknya Kakak pingin banget nolongin dia, jadi aku bantuin aja." jelas Yusuf panjang lebar. "Tapi ngomong-ngomong aku masih normal nih Kak, lepas dong tangannya." imbuhnya bergurau, yang membuat Fajar segera menghempaskan tangan kanannya.


Setelah berjalan beberapa saat, mereka berdua sepakat untuk melewati celah-celah perkebunan pisang (di halaman belakang lokalisasi), namun karena medan nan cukup terjal, Fajar hampir saja terjatuh dari kursi roda.


Di dalam kamar, Indadari sedang dikejar-kejar oleh Tuan Damar. "Kamu sudah aku bayar mahal loh cantik, ayo kesini !" serunya.


"Percuma kamu teriak-teriak cantik, aku sudah ngelarang semua orang, buat masuk ke sini soalnya. Apapun yang terjadi." seringai Tuan Damar dalam hati.


"Alhamdulillah bisa lewat juga." ucap Yusuf, sedikit ngos-ngosan.


"Iya alhamdulillah, kayaknya juga gak ada yang jaga." timpal Fajar, sembari memantau sekitar. "Oke, rencananya kit...." "Tolong, tolong !" imbuhnya menggantung, ketika samar-samar mendengar teriakkan istrinya.


"Kayak ada suara cewek minta tolong ?" cetus Yusuf, juga mendengarnya.


"Iya bener ! Kita bagi tugas, aku cari sumber suara, kamu cari alat yang buat bobol pintu atau jendela !" perintah Fajar, yang sedikit panik.

__ADS_1


"Oke Kak." jawab Yusuf.


Sementara itu....


Tuan Damar terus saja mengejar Indadari, sampai akhirnya dapat memiting bahunya. "Tenang cantik, aku akan lepasin kamu dengan syarat, kamu harus melayani aku setelah ini, gimana ?" tawarnya menyeringai.


"Lepas, lepasin saya !" pekik Indadari kembali menangis, dan Tuan Damar hanya tertawa saat mendengarnya.


Tak kehabisan akal, Indadari pun menggigit lengan kanan Tuan Damar. "Auw auw !" teriaknya kesakitan, lantas melepaskan perempuan tersebut.


Indadari yang terpojok, memutuskan berjalan cepat menuju jendela.


Masih coba meraih Indadari, laki-laki tua itu hanya bisa menarik kalung di lehernya, hingga terhempas ke sembarang arah.


"Siapapun tolong saya, tolong !" seru Indadari, semakin menangis.


"Ternyata kamu beneran suka main kasar ya cantik ? Okey." seringai Tuan Damar, perlahan mendekat.


Tiba-tiba jendela itu terbuka.


"Mas Fajar...." ucap Indadari terisak, lalu refleks memeluk suaminya erat.


"Ayo kita pulang Ndari." gumam Fajar, membalas pelukan istrinya, serta mengusap lembut rambut lurusnya.


"Kamu siapa ?!" sergah Tuan Damar, yang berhenti melangkah.


"Saya suaminya." lugas Fajar, mengagetkan

__ADS_1


Tuan Damar, termasuk juga adiknya.


Bersambung....


__ADS_2