Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna

Tak Ada Yang Suci Dan Sempurna
Bab.10


__ADS_3

"He ! Pesanan ku kabur, tau gak !?" pekik Tuan Damar yang sedang mabuk.


"I... Iya Tuan, saya usahakan, secepatnya In... Indadari, segera ada di... Di sini lagi Tuan." ujar Nyai Mona, lumayan gugup.


Tuan Damar tertawa, lalu berucap "Kalau pesanan ku besok malam sudah ada, aku akan bayar sebanyak yang kamu mau !"


Dari tegang menjadi sumringah. "Kalau begitu baik Tuan, besok malam Indadari sudah ada di sini !" ujar Nyai Mona meyakinkan.


Flashback off.


Beberapa saat setelah keluar dari balai desa, Fajar yang masih memangku istrinya itu, membelokkan kursi rodanya ke kiri dan menghentikannya. "Pos ronda tadi ke arah sana kan Mbak ?" tanya Fajar, sambil menunjuk dengan tangan kanannya.


"Kayaknya iya Mas. Tapi ngomong-ngomong, kita kan udah kenalan, kok Mas masih panggil saya Mbak sih ?" tanya balik Indadari, menoleh kepada suaminya.


"Iya juga. Emm, gimana kalau aku panggil, Ndari ?" cetus Fajar tersenyum.


Indadari memalingkan wajah, sebelum mengangguk pelan dengan yang pipi memerah.


"Berati mulai sekarang, kita panggil nama masing-masing nih ?" Fajar memastikan.


Ia kembali menoleh pada suaminya.


"Kalau saya tetep panggil Mas Fajar ya ? Soalnya kata Pak Penghulu tadi, saya harus hormat sama suami." tutur Indadari malu-malu.


Fajar yang terenyuh sekaligus gemas, refleks mengusap lembut pipi istrinya, menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang pinggiran kursi roda.

__ADS_1


"Kursi rodanya Mas !" panik Indadari, saat menyadari kendaraan suaminya itu mulai mundur, karena jalanan yang melandai.


"Astaghfirullah !" pekik Fajar yang baru menyadarinya juga.


"Haaa !" teriak mereka berdua bersamaan, dengan Indadari yang menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, serta memeluknya erat. Begitu pula Fajar yang memeluk istrinya erat.


""Fajar !" panggil Ibu Yuli, yang berada di kamarnya, terbangun dari tidurnya.


Ayah Anton terbangun saat mendengarnya. "Ada apa Bu," tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


"Ibu tadi mimpi, Fajar anak kita dalam bahaya Yah...." lirih Ibu Yuli, sambil menangis.


"Itu cuman mimpi Bu, udah jangan nangis ya, nanti kita cari Fajar lagi sama-sama." kata Ayah Anton menenangkan, lalu menghapus air mata istrinya, dengan kedua tangan.


Suara khomad berkumandang.


Di tempat berbeda....


""Auw...." rintih Indadari, karena kaki kirinya ditarik seseorang.


"Wah, bukan cuma kecapean aja ini Neng, otot kakinya juga ketarik." jelas Umi Nana, berlanjut memijat kaki Indadari.


Indadari dipijat bukan karena kecelakaan kursi roda ya, ingat kan ? Ia sudah dipangku suaminya sejak dari balai desa, karena kedua kakinya terasa sakit.


Beberapa menit berlalu....

__ADS_1


(Ngeeg) suara pintu dibuka, nampak Fajar yang mulai merangkak keluar, dari salah satu kamar di rumah sederhana itu.


"Nak Fajar udah selesai gantinya, gimana kaos dan celana anaknya Umi, pas enggak di kamu ?" tanya Umi Nana, masih duduk dan memijat kaki Indadari.


"Kaos sama celananya sedikit kebesaran Umi, tapi gak apa-apa, terima kasih banyak Umi." balas Fajar, yang sudah duduk bersimpuh di depan sofa, nan ditiduri istrinya.


Umi Nana mengangguk tersenyum, lalu menatap kembali Indadari, dan berujar "Sekarang Neng coba gerakin kakinya." Ia pun melakukannya. "Sudah enakan Umi, terima kasih." ucap Indadari kemudian.


""Alhamdulillah.” syukur Umi Nana dan Fajar hampir bersamaan, lalu diikuti Indadari.


"Umi sebenarnya penasaran, kalau boleh tau, hubungan kalian itu saudara atau apa ya ?" tanya Umi Nana, yang memang belum tau kejadian tersebut.


Fajar berpikir sejenak. "Ceritanya rumit bin panjang Umi, tapi kurang lebihnya, kami baru ketemu kemarin di pasar malam, singkatnya, kami dituduh mes*m di pos ronda, jadi kami diarak ke balai desa dan dinikahkan di sana." jawabnya sedikit curhat.


"Astaghfirullah hal adzim !" gumam Umi Nana terkejut, sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan.


"Habis itu, kursi roda saya malah mundur tadi di turunan, untung ada Umi yang nahan. Sekali lagi terima kasih tapi juga maaf ya, malah Umi yang jatuh tadi." imbuh Fajar.


Umi Nana berdehem, sebelum berbicara "Sama-sama Nak, gak papa. Oh iya, kalian belum sholat subuh ya, kamu gak lagi datang bulan seperti Umi kan Neng ? Apa lagi kamu Nak Fajar."


"Ya enggak lah Umi." timpal Fajar terkekeh.


"Kalau gitu, kamar anaknya Umi bisa kalian pakai, buat sholat berjamaah." imbuh Umi Nana.


"Sholat berjamaah !?" batin keduanya bersamaan. "Aku harus jadi imam dong !?" sambung Fajar. "Gimana nih aku udah lama gak sholat...." lanjut Indadari.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2