
Aaron dan Adira kini tengah berada didalam mobil. Aaron melihat ke arah Adira yang masih diam tertunduk. Ia mendekat dan hendak memasang safety belt untuk Adira.
Deg! Jantung Adira langsung terpompa kencang saat wajah Aaron begitu dekat dengan wajahnya. Ia bisa merasakan nafas Aaron dan wangi tubuhnya. Adira mendongak dengan cepat menatap Aaron yang juga ikut menatapnya. Adira nampak sangat gugup tapi Aaron biasa saja. Adira kembali menundukkan kepalanya dan Aaron kembali duduk diposisinya lalu melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah, Aaron kembali membukakan safety belt dan pintu mobil untuk Adira
Aaron menatap wajah istrinya itu dan melihat penampilan istrinya yang sangat berantakan. Ia menghela nafas panjang dan mengangkat tubuh Adira
Adira memberontak dan memukuli dada Aaron.
"Turunkan aku kak! Aku bisa jalan sendiri!"
Aaron tak menghiraukan dan terus berjalan masuk. Sesampainya di dalam kamar, Aaron menjatuhkan tubuh Adira di atas ranjang dengan kasar.
Brruukkkk
Adira tercengang dengan perlakuan Aaron padanya.
"Kenapa kakak menjatuhkan ku!!" seru Adira sambil menatap kesal ke arah Aaron
"Mandi dan bersihkan dirimu!. Aku akan ke ruang kerjaku. Saat aku kembali, kamu harus sudah siap untuk makan malam" ucap Aaron yang juga terlihat kesal
Terdengar langkah kaki meninggalkan kamar dan pintu di tutup dengan kasar. Adira yang melihat sikap Aaron hanya mendengus kesal dan mulai mengumpat
"Kenapa jadi dia yang marah? Aku benar-benar heran bagaimana seorang Stella Elisabeth bisa menyukai pria seperti itu!!"
⚡⚡⚡
Di kediaman Arya Adiguna, Kevin kembali dengan wajah suram. Amira yang melihat kedatangannya langsung datang menghampirinya
"Kevin! Mama sudah melarang kamu untuk menemui Adira tapi kamu masih menemuinya juga hah!!! Dia itu sekarang kakak ipar kamu Kevin!!!"
Ucapan Amira semakin membuat Kevin naik pitam dan membuat darah Kevin semakin mendidih
"Mama menyuruh orang buat mata-matain Kevin hah!!!" teriak Kevin
"Kevin! Minggu depan mama sudah menyiapkan untuk acara pertunangan kamu dengan Clara. Mama tidak mau tau, kamu harus menyetujui pertunangan ini!"
Mata Kevin terlihat memerah karena marah. Hanya karena kekuasaan mamanya tega menjual kebahagiaannya
"Kalau kamu tidak mau dan masih terus mendekati Adira, jangan salahkan mama kalau mama bisa melakukan hal yang buruk pada gadis itu!"
Amira berbalik dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kevin yang masih dipenuhi amarah yang terpendam
"Aaakkkhhhhhh" Kevin menghantamkan tangannya ke udara
⚡⚡⚡
Adira berendam dalam bathtub yang sudah diisi dengan air hangat. Bayangan Aaron saat tadi di mobil kembali muncul. Ia teringat ucapan Reni saat dicafe tadi jika untuk memastikan perasaannya maka ia harus mencium Aaron.
Tapi Adira masih tetap mencoba untuk menyangkal perasaannya. Ia masih berharap bisa kembali pada Kevin. Tapi saat teringat perlakuan Clara padanya ia merasa akan sulit untuk menjalin hubungan kembali dengan Kevin karena sepertinya Clara menyukai Kevin. Apalagi jika keluarga besar Adiguna tau dia bercerai dengan Aaron lalu menjalin hubungan dengan adiknya maka tamatlah riwayatnya.
Membayangkan semua itu hanya membuat kepalanya terasa sakit. Lebih baik ia segera bersiap sebelum Aaron kembali. Adira mengambil sepasang baju dan segera memakainya. Setelah menyisir rambutnya ia duduk ditepi ranjang sambil menunggu Aaron.
Ting
__ADS_1
Handphonenya berbunyi tanda ada pesan masuk. Ia meraihnya dari atas meja dan membacanya. Itu adalah pesan dari Kevin. Sepertinya Kevin mendapatkan nomornya dari Reni karena Aaron telah mengganti nomor Adira di ponsel barunya.
"Adira, aku ingin bertemu berdua denganmu. Ada hal yang harus kita bicarakan. Ini sangat penting!!"
Belum sempat membalas pesan dari Kevin tiba-tiba pintu kamar terbuka
Ceklekkkkk
Adira menoleh dan melihat Aaron masuk. Aaron melihat ke arahnya dan berjalan menghampirinya. Aaron menatap Adira dan melihat ponsel ditangan Adira. Dengan cepat Aaron mengambil ponsel itu dan membaca pesan dari Kevin.
Aaron tersenyum simpul dan mengembalikan handphone itu ke tangan Adira
"Kamu mau terang-terangan menjalin hubungan dengan Kevin didepan suamimu!" sindir Aaron
Adira tergagap "aku tidak menjawab apapun. Lagi pula kalau iya kenapa? Kamu juga menjalin hubungan dengan Stella dibelakangku"
Aaron tersenyum karena berarti Adira tadi melihat saat Stella menciumnya dan dia mulai cemburu. Adira seperti mengutuk dirinya sendiri. Harusnya ia tidak berkata seperti itu tadi, Aaron pasti akan berfikir kalau ia cemburu pada Aaron dan Stella.
"Maksudku kamu dan Stella terlihat begitu serasi. Mungkin saja kalian menjalin hubungan" Adira mencoba mengklarifikasi ucapan sebelumnya
Aaron terlihat senang, ia tau Adira pasti sedang mencoba menutupi perasaannya. Ia melanjutkan untuk memancing reaksi istrinya itu
"Memangnya kenapa kalau aku punya hubungan dengan Stella? Kamu sendiri memiliki hubungan dengan Kevin bukan? Sekarang Kevin sudah kembali, jadi tidak masalah jika aku juga menjalin hubungan dengan Stella. Lagi pula hubungan kita karena terpaksa dan sangat hambar bukan?"
Adira terlihat gugup dan tidak berani menatap Aaron. ia tidak menyangka jika Aaron akan berkata terus terang seperti itu padanya
"A.. apa maksudmu terasa hambar?"
Aaron sedikit membungkuk dan meraih dagu Adira dan membuat gadis itu menatapnya.
Deg! Adira gelagapan dan tidak tau harus menjawab apa karena selama ini mereka memang hanya seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap dan satu kamar. Bahkan mereka belum pernah melakukan kontak fisik.
"Lagi pula kamu sendiri bukan yang bilang kalau Stella itu sangat cantik. Tentu saja sebagai pria aku juga melihatnya seperti itu. Dia sangat cantik dan menawan. Hanya pria bodoh yang akan menolaknya"
Adira menatap kesal pada Aaron. Aaron bisa melihat kalau Adira mulai terlihat kesal saat ia memuji-muji Stella didepannya.
Adira bangun dan mulai mengatai "cih, bisa-bisanya memuji wanita lain didepan istrimu sendiri"
Adira hendak melenggang pergi tapi Aaron menarik tangannya sehingga membuat wajah mereka kini saling berhadapan. Mata mereka saling bertemu dan menatap dalam. Jantung Adira meronta-ronta seperti minta keluar.
Aaron melihat bibir ranum Adira yang terlihat sangat menggoda dan membuatnya semakin mendekat. Ia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu yang sedikit memburu hingga membuatnya semakin ingin lebih dekat lagi.
🎶Du.. du..du...🎶
Bunyi suara handphone Aaron membuyarkan ketegangan diantara mereka. Mereka saling menjauhkan wajah mereka. Aaron bisa melihat wajah Adira yang seketika memerah. Adira berlari keluar dari dalam kamar dan Aaron mengambil handphone di sakunya dan mengangkat telefonnya.
Terdengar suara Arya Adiguna dari balik sambungan telefon
"Baiklah kami akan datang" jawab Aaron lalu sambungan telefon terputus.
Aaron nampak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyusul Adira keluar untuk makan malam
⚡⚡⚡
Pagi menjelang siang Adira sedang duduk sendiri menonton drama Korea di tv. Namun ia terlihat tidak fokus menonton tv. Bayangan Aaron semalam didalam kamar terus muncul
__ADS_1
"Apa semalam dia berniat untuk menciumku?" batin Adira
Adira segera menepis bayangan-bayangan itu. Ia kembali menyangkal jika semalam Aaron memuji Stella didepannya dan bahkan mereka sudah berciuman jadi tidak mungkin Aaron berniat untuk menciumnya.
Elsa datang dan membuyarkan lamunan Adira
"Nona, didepan ada nyonya Amira" ucap Elsa
Adira melihat ke arah Elsa "Oh baiklah. Aku akan menemuinya"
Adira bergegas bangun dan berjalan ke arah ruang tamu. Ia melihat Amira sudah berdiri disana dan tersenyum ke arahnya saat melihat kedatangannya.
"Mama Amira" ucap Adira
"Bagaimana kabar kamu Adira?" tanya Amira
"Dira baik ma. Silahkan duduk ma" ucap Adira
Mereka duduk di sofa panjang. Mereka duduk bersebelahan dan saling menghadap
"Ada apa mama datang kemari? Tumben sekali? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Adira
"Mama hanya ingin melihat keadaan menantu mama apa tidak boleh? Sudah sebulan lebih sejak kamu menikah dengan Aaron, bagaimana apa kamu bahagia?"
Adira menundukkan wajahnya. Ia tidak tau harus menjawab apa disaat ia sendiri tidak tau apa yang sedang ia rasakan sekarang.
"Adira.. mama tau pernikahan kamu dan Aaron karena terpaksa. Tapi mama mohon jangan berfikir untuk berpisah dengan Aaron ya?" Amira menjeda ucapannya dan melanjutkan "Lagi pula minggu depan Kevin akan bertunangan. Mama harap kamu dan Aaron bisa hadir"
Deg! Adira mendongak dan kembali menatap Amira
"Kevin akan bertunangan?" tanya Adira
Amira mengangguk "Iya Adira. Anggap saja kalian tidak berjodoh dan kamu harus bisa menerima takdir kamu yaitu Aaron"
Hati Adira seketika hancur. Selama ini ia menunggu Kevin kembali. Tapi disaat Kevin sudah kembali ia malah mendapat kabar seperti ini. Adira mencoba menahan sesak di dadanya dan menahan air matanya untuk tidak keluar.
"Adira maafkan mama harus mengatakan hal seperti ini"
"Iya tidak apa-apa ma, Dira ngerti kok" ucap Adira
"Ya sudah mama pamit dulu ya? Mama masih ada urusan, lain kali mama akan datang berkunjung kembali" ucap Amira sambil mengusap-usap bahu Adira
Amira beranjak bangun dan melangkahkan kakinya. Sebelum keluar pintu ia kembali menoleh ke arah Adira yang masih duduk terdiam. Amira tersenyum senang dan kembali melangkahkan kakinya keluar.
Elsa datang membawakan minuman untuk Amira tapi ia hanya melihat Adira yang duduk disana sendirian.
"Hiks.. hiks.. hiks...." Adira mulai menangis
"Loh non Adira kok nangis? Kenapa non?" tanya Elsa panik
Adira tidak menjawab dan beranjak bangun lalu berlari kekamarnya. Adira menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Adira berhambur ke atas ranjang dan mulai menangis kencang disana.
⚡⚡⚡
💞Mohon dukungannya buat author ya kakak-kakak. Biar author semangat untuk menulis dan mencari ide. Silahkan beri kritik dan saran untuk author. Jangan lupa like, subscribe, vote dan hadiahnya juga ya 🙏🤭💞
__ADS_1