
Sore itu Alina kembali menghubungi Adira dan memintanya bertemu disebuah taman.
"Maaf aku terlambat" ucap Adira yang baru datang dan menghampiri Alina yang tengah duduk disebuah bangku di taman.
Alina yang melihat Adira pun langsung beranjak bangun. "Tidak apa-apa, aku juga baru datang karena baru pulang kerja"
"Ada apa lagi? Apa yang ingin kamu katakan lagi?" tanya Adira
"Apa kamu sudah memikirkan permintaanku tempo hari?" tanya Alina membuat Adira terdiam sejenak.
"Aku tidak memikirkannya secepat itu. Maafkan aku Alina..." jawaban Adira membuat Alina mulai kesal. Mungkin ia harus memikirkan cara lain untuk memisahkan Aaron dan Adira.
"Kalau begitu aku punya satu permintaan lain" ucap Alina
"Apa itu?" tanya Adira
"Ijinkan aku bermalam satu malam saja dengan suamimu!" seru Alina membuat Adira menatapnya dengan tajam.
"Permintaan konyol macam apa itu Alina!! Tidak!! Aku tidak akan menyetujuinya" Adira mulai berbicara dengan nada tinggi karena kesal dengan permintaan Alina tadi. Tidak mungkin ia akan memberikan ijin suaminya untuk bermalam dengan wanita lain.
"Kenapa?? Kamu takut Aaron akan tergoda dan jatuh cinta lagi padaku jika kami bisa menghabiskan malam bersama? Iya kan!!!" Alina pun mulai meninggikan suaranya.
Kedua wanita itu kini saling menatap tajam. Hati mereka kini sama-sama tengah diselimuti amarah dan kekesalan.
Alina mencekram lengan Adira
"Harusnya kamu menikah dengan kevin! Jika bukan karena harus menikahimu yang ditinggal oleh Kevin dipelaminan. Aku dan Aaron masih bisa bersama. Selama ini Aaron selalu menungguku! Sampai akhirnya dia merasa harus bertanggung jawab atas kamu karena telah menikahi kamu!! Pikirkan itu baik-baik Adira! Kamu tega mengorbankan kebahagiaan orang lain hanya untuk egomu sendiri!!" dilepaskannya lengan Adira dan Alina memandang ke arah lain.
"Kamu adalah wanita paling jahat yang pernah aku temui Adira" ucap Alina lagi.
"Alina aku tidak bermaksud..."
"Cukup!!!" Alina Kembali menatap ke arah Adira. "Pikirkan baik-baik, aku hanya meminta satu malam saja Adira! Satu malam...."
Alina pergi meninggalkan Adira yang masih berdiri terdiam disana.
Air mata pun menetes diwajah cantik Adira. Ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Bagaimana mungkin ia akan memberikan satu malam untuk suaminya dengan wanita lain. Adira benar-benar tidak mengerti kenapa Alina harus meminta hal seperti itu padanya.
Sementara itu Alina masuk ke dalam mobil dimana Stella sudah menunggunya dikursi pengemudi.
"Bagaimana? Apa Adira setuju?" tanya Stella pada Alina yang sudah duduk disampingnya.
"Apa aku tidak terlalu jahat meminta hal seperti itu padanya?" tanya Alina yang mulai gusar.
"Jangan bodoh Alina! Hanya ini satu-satunya jalan untuk memisahkan mereka berdua, dan kamu bisa mendapatkan cinta Aaron kembali" ucap Stella.
"Baiklah, aku akan mengikuti kata-katamu" ucap Alina.
💖💖💖
Di malam hari Adira pun masih menangis sambil duduk ditepi ranjang. Ia kembali teringat pertemuannya dengan Alina tadi sore. Pikirannya berkabut dan tidak tau tindakan apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi masalah ini.
Klekkkk
Pintu di buka oleh Aaron. Dilihatnya istrinya yang tengah duduk termenung ditepi ranjang.
Adira menghapus air matanya agar suaminya itu tidak khawatir. Ia pun bangun dan berjalan ke arah suaminya yang juga sedang berjalan ke arahnya.
Aaron bisa melihat jika istrinya itu habis menangis. Ia mengusap pipi istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kamu menangis?" tanya Aaron khawatir.
Adira tidak menjawab pertanyaan Aaron dan malah memeluknya.
"Apa kamu sakit?" Aaron semakin khawatir karena Adira memeluknya dengan sangat erat.
"Tidak kak.. aku hanya sedang ingin memelukmu saja" jawab Adira dengan suara sedikit serak menahan tangis dalam pelukan suaminya.
Aaron tau pasti ada yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Tapi Aaron tidak ingin memaksa Adira untuk bercerita sekarang. Ia akan menanyakannya nanti jika Adira sudah lebih tenang.
💖💖💖
Di hari berikutnya...
Aaron hendak pulang kerja dan mendapati panggilan masuk dari istrinya yang menyuruhnya untuk datang ke kamar hotel yang sudah Adira pesan. Aaron pun heran, tumben sekali istrinya itu memesankan kamar hotel untuk mereka menginap. Tapi Aaron tidak menaruh curiga sedikitpun, mungkin saja Adira sedang bosan dirumah dan ingin menghabiskan malam mereka dikamar hotel. Aaron pun menyuruh Jack untuk pulang lebih dulu. Nanti ia akan mengunjungi istrinya di hotel dengan mobil lain saja.
Sesampainya didepan kamar hotel, Aaron pun mengetuk pintu kamar yang diberitahukan oleh istrinya tadi di telefon.
Seseorang membukakan pintu dan itu adalah Alina disana.
Aaron terperanjat kaget karena yang ia dapati adalah Alina, bukan Adira.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamar ini sudah dipesan oleh istriku. Kenapa kamu juga bisa berada di dalam kamar ini?" tanya Aaron bingung.
"Masuklah dulu, kita bicara didalam saja" ajak Alina.
Aaron nampak ragu tapi akhirnya ia menuruti Alina dan masuk ke dalam. Aaron membalikkan tubuhnya dan kembali menghadap ke arah Alina yang sudah menutup pintunya dengan rapat.
"Katakan dimana Adira?" tanya Aaron.
"Adira tidak disini.. dia sengaja mengundang kita kemari agar kita bisa menghabiskan malam bersama disini. Adira tau kalau kita masih saling mencintai Aaron..." ucap Alina penuh dengan dusta.
"Omong kosong macam apa ini!! Adira tidak mungkin melakukan itu!" Aaron mulai terlihat kesal menanggapi omongan Alina.
"Buktinya! Adira sendiri bukan yang menelfonmu dan menyuruhmu untuk datang kemari??"
Aaron pun bertambah kesal mendengar kebenaran memang Adira yang menyuruhnya untuk datang ke hotel itu. Apakah Adira benar-benar masih meragukan cintanya hingga ia harus melakukan hal semacam ini.
Aaron hendak pergi ketika Alina menahan lengannya.
"Jangan pergi Aaron! Temani aku malam ini saja!" Pinta Alina
Aaron yang sudah sangat marah pun hanya melepaskan tangan Alina dari lengannya tanpa berbicara apapun. Ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel itu.
Alina hanya bisa menatapi kepergian Aaron.
"Maaf Aaron.. aku terpaksa melakukan ini agar kamu dan Adira berpisah..." gumam Alina.
Sementara itu Adira tengah duduk meringkuk diatas ranjangnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sudah ia lakukan. Bisa-bisanya ia menyuruh suaminya datang ke hotel untuk menemui wanita lain. Adira mulai menyalahkan kebodohannya sendiri.
"Aku harus kesana dan menemui mereka" gumam Adira
Adira pun beranjak bangun dari atas ranjangnya.
Terdengar suara langkah kaki dan pintu kamar terbuka. Aaron sudah berdiri disana dengan tatapan penuh kemarahan dan kekecewaan.
Mereka pun berjalan saling mendekat.
__ADS_1
"Kak.. aku...."
"Cukup!!!" Aaron menatap tajam mata istrinya itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika istrinya akan melakukan hal seperti itu padanya.
Aaron mencekram lengan Adira dan menatapnya penuh marah.
"Apa yang kamu pikirkan hah!!! Bisa-bisanya kamu melakukan hal serendah ini!! Apa kamu masih tidak percaya padaku dan meragukan cintaku!!"
Adira bisa melihat kemarahan untuknya di mata suaminya.
"Kak.. maafkan aku.. aku tidak bermaksud untuk menjebakmu bersama dengan Alina di kamar hotel.." Adira mencoba memberikan pembelaan.
"Aku benar-benar kecewa padamu Adira!" Aaron melepaskan tangan Adira dengan kasar.
Adira mencoba mengejar Aaron saat Aaron hendak pergi meninggalkan kamar dan memegang lengan suaminya.
"Kak jangan pergi kak! Maafkan aku..." Air mata pun mulai membasahi wajah cantiknya.
Aaron kembali melepaskan tangan Adira dari tangannya dan menatap mata istrinya itu masih dengan penuh kekecewaan.
"Baiklah! Jika ini yang kamu inginkan" Aaron menatap dalam mata istrinya itu dan melanjutkan kata-katanya. "Aku akan kembali pada Alina dan aku akan menceraikanmu!! Aku akan segera mengurus perceraian kita secepatnya!" ucap Aaron sebelum melenggang pergi meninggalkan kamar.
Seketika tubuh Adira terasa lemas mendengar ucapan Aaron barusan. Ia sadar ia sudah melakukan Kesalahan besar dengan menguji cinta suaminya. Ia tidak menyangka jika Aaron akan semarah ini padanya.
💖💖💖
Adira sudah siap dengan kopernya. sekarang ia harus benar-benar pergi dari rumah ini karena Aaron sudah bilang akan menceraikannya.
Adira naik ke lantai atas hendak menemui Aaron diruang kerjanya. Masih dengan wajah yang dibasahi air mata dan mata yang sudah mulai sembab, Adira memberanikan diri membuat pintu ruangan itu.
Aaron masih terduduk disana tanpa menoleh ke arahnya karena Aaron pasti tau jika Adira yang datang untuk menemuinya.
Adira berjalan mendekat..
"Kak... Aku akan pergi dari rumah ini..." ucap Adira sambil terisak namun Aaron masih tidak mau memandangnya.
"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud untuk menguji cintamu... hiks.. hiks... Sekali lagi maafkan aku kak.. semoga kamu bahagia tanpa aku... hiks...."
Adira segera berbalik dan pergi berlari meninggalkan ruangan kerja Aaron. Ia sudah tidak tahan lagi membendung air matanya lagi. Apalagi Aaron tidak mau melihat sedikitpun ke arahnya. Adira sadar ia memang sangat bersalah.
Aaron melihat ke arah pintu yang sudah ditutup kembali oleh Adira. Aaron mengusap wajahnya yang sudah dipenuhi oleh air mata lagi. Sungguh ia tidak ingin kehilangan Adira. Tapi apa yang sudah dilakukan Adira membuatnya tidak bisa menahan kepergian gadis itu.
Tak berselang lama Jack datang ke ruangan Aaron.
"Tuan. Apa anda tidak akan mencegah kepergian nona Adira? Ini sudah terlalu malam dan akan berbahaya jika nona pergi keluar seorang diri" ucap Jack yang juga merasa khawatir.
Aaron mengarahkan pandangannya pada Jack.
"Ikuti dia kemanapun dia pergi. Pastikan dia selalu aman dan baik-baik saja. Untuk saat ini aku tidak bisa mencegah kepergiannya" ucap Aaron.
"Baik tuan" Jack pun pergi meninggalkan ruangan Aaron dan hendak menyusul Adira.
Aaron menyenderkan tubuhnya di punggung kursi. Ia memejamkan matanya dan air matanya kembali menetes diwajahnya.
⭐⭐⭐
Hanya Visual versi author 🤭
__ADS_1