
Adira turun dari dalam taxi dan berjalan ke arah rumah sederhana yang dulu ia tempati sebelum menikah dengan Aaron. Itu adalah rumah peninggalan kedua orang tuanya yang selama ini ia singgahi bersama paman dan bibinya.
Beberapa kali Adira mengetuk pintu rumah itu hingga akhirnya seorang wanita yang tidak ia kenal datang membukakan pintu.
"Cari siapa?" tanya wanita itu.
"Anda siapa? Ini adalah rumahku! Dimana paman dan bibiku?" tanya Adira yang kaget karena bukan paman atau bibinya yang membukakan pintu untuknya.
"Hei!! rumah ini sudah dijual padaku. Aku tidak tau pergi kemana pemilik sebelumnya. Jadi kalau sudah tidak ada urusan lagi, akan kututup pintunya"
Braakkk
Pintu pun ditutup kembali oleh pemilik baru rumah itu.
Adira hanya bisa mendengus pasrah karena rumah peninggalan orang tuanya telah dijual oleh paman dan bibinya.
"Keterlaluan sekali kalian berdua! rumah peninggalan orang tuaku kalian jual tanpa ijin dariku" gumam Adira dengan kesal.
Dilangkahkannya kembali kakinya meninggalkan area rumah itu. Ia menggeret kopernya menyusuri jalan dimalam yang cukup terang itu karena penerangan lampu disepanjang jalan.
Cukup lama Adira berjalan dan ia pun mulai merasa lelah. Ia duduk di pinggir jalan dan menaruh kopernya disampingnya.
Adira menatap ke langit, bintang-bintang bertebaran disana. Ia kembali teringat akan suaminya. Jika saja tidak ada pertengkaran diantara mereka, mungkin saja sekarang mereka sedang bercinta didalam kamar.
"Maafkan aku kak... Kamu pasti sangat kecewa padaku" Isak Adira kembali.
Adira melihat sekelilingnya yang sudah nampak sepi. Ia teringat akan sahabatnya Reni, mungkin malam ini ia akan bermalam dikontrakkan Reni saja.
Adira segera beranjak bangun dan mencari taxi. Tak berselang lama ada taxi datang dan Adira pun menyetopnya. Taxi itu pun membawa Adira sampai kedepan kontrakan Reni.
Kini Adira sudah berada didalam kontrakan Reni setelah sebelumnya mengetuk pintunya terlebih dahulu. Kebetulan Reni juga belum tidur karena baru saja telfonan dengan pacarnya.
Reni melihat koper yang dibawa oleh Adira.
"Ra, kamu kok bawa koper? Jangan bilang kamu pergi dari rumah??" tebak Reni yang dijawab anggukan oleh Adira.
"Kamu bertengkar dengan suami kamu?" Lanjut Reni.
"Iya Ren, aku sudah melakukan kesalahan besar yang membuat kak Aaron marah"
Adira pun mulai menceritakan pada Reni apa yang terjadi sebelumnya antara ia dan Aaron.
Setelah mendengar cerita Adira, Reni pun mengijinkannya untuk tinggal dikontrakkannya saja. Apalagi setelah mengetahui rumah Adira juga sudah dijual oleh paman dan bibinya.
Hari berganti hari... Tak terasa sudah seminggu lamanya Adira pergi meninggalkan rumah.
Aaron pun mulai merasa kesepian dan merindukan istrinya itu. Sesungguhnya ia juga tidak berniat untuk kembali pada Alina dan menceraikan Adira. Hari itu ia hanya terbawa emosi hingga bisa berucap seperti itu.
Jack datang keruangan Aaron siang itu.
"Tuan, sudah seminggu nona meninggalkan rumah. Apa anda tidak berniat untuk membawa nona kembali ke rumah?" tanya Jack.
Aaron tidak menjawab pertanyaan Jack dan masih tetap terdiam.
"Nona sekarang tinggal di kontrakan temannya, dan nona sudah beberapa kali datang ke cafe untuk meminta pekerjaan pada manajer cafe tempat nona dulu bekerja" sambung Jack.
Aaron menghela nafas panjang dan menatap ke arah Jack.
"Katakan pada manajer cafe itu untuk mempekerjakannya kembali. Nanti biar aku yang akan menggajinya setiap bulan" ucap Aaron.
"Apa tuan tidak akan membawa nona kembali saja?" tanya Jack kembali.
"Ikuti saja perintahku!"
"Baik tuan" Jack pun tidak berani berkomentar lagi. Ia tau tuannya mungkin masih belum bisa memaafkan kesalahan Adira. Tapi setidaknya tuannya masih tetap peduli dan perhatian pada istrinya itu.
💖💖💖
__ADS_1
Di pagi hari Adira dan Reni sudah siap untuk berangkat kerja setelah sebelumnya manajer cafe memberi tau pada Reni untuk mengajak Adira hari ini untuk mulai bekerja kembali.
"Ayo Ra kita berangkat" ajak Reni
"Ayo..."
Adira dan Reni melangkahkan kakinya keluar dari dalam kontrakan. Saat hendak menutup pintu Adira merasa perutnya tiba-tiba terasa mual.
"Hooeekkk.. hooeekkk..."
Adira menutup mulutnya dengan tangannya dan kembali berlari ke dalam kontrakan. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkannya disana.
Reni yang merasa khawatir pun menyusulnya kedalam. Tak berselang lama Adira berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamu gak apa-apa Ra?" tanya Reni khawatir sambil mengusap-usap punggung Adira.
"Gak apa-apa. Mungkin cuma masuk angin" jawab Adira sambil memegangi perutnya yang terus terasa mual.
Reni memandangi wajah Adira dan mulai berfikir.
"Ra... Apa jangan-jangan kamu hamil?" tebak Reni.
Adira nampak kaget dengan ucapan Reni dan memandang ke arah Reni.
"Hamil??" ucap Adira yang masih nampak tidak percaya.
Reni pun memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak tau, tapi aku memang sudah terlambat datang bulan" ucap Adira.
"Ya sudah nanti kita mampir beli testpack aja dijalan. Tapi apa kamu yakin mau bekerja dengan kondisi kamu yang seperti ini?" tanya Reni sedikit khawatir
"Iya gak apa-apa Ren. Aku harus tetap bekerja. Aku tidak mau tergantung pada kak Aaron terus" Sejak keluar dari rumah, Adira memang tidak pernah mau memakai kartu debit yang diberikan oleh Aaron dulu padanya.
Adira pun akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat kerja. Apalagi ini adalah hari pertamanya kembali bekerja.
Kevin meraih pergelangan tangan Adira.
"Lepaskan aku Kevin, aku sedang bekerja?" Adira mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kevin.
"Tidak Adira! Katakan dulu, bagaimana kamu bisa bekerja disini lagi? Apa yang terjadi? Apa kamu pergi dari rumah kak Aaron?" tanya Kevin penasaran.
"Itu bukan urusan kamu Kevin! Jangan campuri urusan rumah tanggaku" Adira menarik tangannya dengan sedikit kasar hingga terlepas dari genggaman tangan Kevin.
Adira berbalik dan melangkahkan kakinya kembali ketika kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Adira mencoba berpegangan pada meja disampingnya.
Brukkkkk
Adira pingsan dan terjatuh di pelukan Kevin. Beruntung Kevin dengan sigap menangkap tubuh Adira hingga tidak jatuh kelantai.
Reni yang melihatnya pun langsung berhambur ke arah mereka dan meminta Kevin untuk membawa Adira ke klinik terdekat karena khawatir dengan kondisi Adira yang pingsan.
Kevin membopong tubuh Adira dan membawanya ke dalam mobil. Ketiga orang itu pun akhirnya membawa Adira ke klinik untuk melakukan pemeriksaan.
Sesampainya diklinik, Sembari menunggu Adira yang sedang diperiksa. Kevin mencoba mengintogerasi Reni tentang kepergian Adira dari rumah Aaron. Namun Reni tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan Kevin karena merasa itu bukan urusannya. Kevin pun tak mendapatkan jawaban apapun dari Reni.
Tak berselang lama seorang dokter wanita pun keluar dan mereka langsung berhambur ke arah dokter itu.
"Dokter bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Kevin khawatir.
"Apa disini ada suaminya?" tanya dokter itu.
Ketiga orang itu pun hanya saling memandang.
"Saya suaminya Dok" jawab Kevin akhirnya tidak mau memperpanjang.
"Ibu Adira tidak apa-apa. Selamat ya pak, karena ibu Adira sedang hamil 3 minggu" ucap Dokter itu yang membuat Kevin terperangah kaget.
__ADS_1
Reni nampak biasa saja karena ia sudah menduganya jika Adira memang sedang hamil.
"Hamil dok??" tanya Kevin kembali yang masih nampak tak percaya.
"Iya pak. Tolong jaga kesehatan ibu Adira jangan sampai stress ya pak. Dan ibu Adira juga harus banyak istirahat. Kalau begitu saya permisi dulu" dokter itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan tiga orang itu.
Kevin masuk kedalam ruangan dimana Adira sedang berbaring disana. Brian dan Reni pun mengikuti dibelakangnya.
Adira sudah sadar saat ketiga orang itu masuk. Ia pun sempat mendengar ucapan dokter tadi pada tiga orang itu. Adira mencoba bangun dan duduk.
Kevin kini sudah berdiri disampingnya dan menatap wajahnya.
"Apa kak Aaron sudah tau?" tanya Kevin yang pasti Adira sudah tau maksudnya.
"Tidak Kevin. Aku mohon jangan memberi taunya sekarang. Setelah semuanya membaik, aku pasti akan memberi taunya" ucap Adira
"Tapi Adira, kak Aaron harus tau secepatnya!"
"Aku mohon Kevin! Dia berhak tau dan aku pasti akan memberi taunya. Tapi tidak untuk saat ini..." pinta Adira yang membuat Kevin akhirnya hanya bisa menuruti kemauan gadis itu.
"Aku ingin sekali memberi tau kak Aaron. Tapi dia pasti masih marah padaku. Buktinya dia tidak pernah mencariku selama seminggu ini" batin Adira.
💖💖💖
Di gedung Maxim Group...
Alina datang untuk mengajak Aaron makan siang bersama, tapi Aaron menolaknya. Ia sudah tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengan Alina sekalipun Adira sudah pergi sekarang.
"Tidak bisakah kamu melihat ke arahku dan mencoba untuk membuka hatimu kembali untukku?" ucap Alina yang merasa kesal dengan sikap dingin Aaron padanya.
Aaron menatap ke arah Alina. "Sekalipun Adira sudah tidak ada disisiku, aku sudah tidak akan pernah melihat ke arahmu lagi Alina! Jadi aku mohon, berhentilah!! Karena semua usahamu hanya akan sia-sia" ucap Aaron.
"Apa kamu benar-benar sangat mencintai gadis itu hingga kamu bisa melupakan aku begitu saja" ucap Alina lagi.
"Sekalipun hanya tinggal kamu satu-satunya wanita didunia ini, aku tidak akan pernah melihat ke arahmu. Karena hatiku hanya untuk Adira seorang, tidak akan ada yang lain lagi" ucap Aaron yang membuat mata Alina berkaca-kaca.
Sebegitu besar cinta Aaron pada Adira hingga bisa melupakan kenangan mereka selama 5 tahun dulu. Bahkan disaat Adira sudah melakukan kesalahan pun Aaron masih tetap mencintainya begitu dalam.
Alina pun keluar dari ruangan Aaron dengan air mata yang menetes di pipinya. Ia berpapasan dengan Jack di depan pintu.
Jack hanya melihat ke arah Alina sebentar sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan kerja Aaron.
"Tuan, saya ingin memberi kabar kalau tadi nona Adira pingsan saat sedang bekerja di cafe"
Aaron terlihat kaget dan menatap ke arah Jack.
"Dimana dia sekarang??" tanya Aaron khawatir.
"Tuan Kevin dan temannya sudah membawa nona ke klinik" Jawab Jack
"Kevin???"
"Benar tuan. Tadi tuan Kevin dan temannya juga sedang berada disana" ucap Jack.
Sebenarnya Aaron sangat khawatir dan ingin menyusul Adira. Tapi saat mendengar nama Kevin, Aaron mengurungkan niatnya. Ia masih sangat cemburu jika mengingat apa yang terakhir Kevin lakukan pada Adira dulu di rumah kakeknya. Ia akan menemui Adira tapi tidak sekarang karena ia tidak ingin melihat jika Adira sedang berduaan bersama Kevin disana. Itu hanya akan membuat suasana hatinya bertambah kacau.
Apalagi Aaron sudah mendengar jika kevin sudah mengajukan gugatan cerai pada Clara setelah Clara kehilangan janinnya dan ketauan berselingkuh dibelakang Kevin. Sekarang Kevin pasti akan mengambil kesempatan ini untuk mendekati Adira kembali. Apalagi jika Kevin tau mereka sedang bertengkar bahkan Adira sampai pergi dari rumah.
Dimalam hari, nampak Aaron tengah memandang dari jauh ke arah kontrakan yang sekarang ditempati oleh istrinya.
"Secepatnya aku akan membawamu kembali kesisiku. Aku tidak akan membiarkan Kevin atau siapapun mengambil kesempatan untuk mendekati mu" ucap Aaron.
⭐⭐⭐
Visual versi author 🤭
__ADS_1