Takdir Cinta Adira

Takdir Cinta Adira
Bab 21 : TCA


__ADS_3

Pagi itu masih didalam kamar. Adira memeluk suaminya yang sudah rapi dan siap untuk berangkat kerja. Kini ia bisa mencium wangi tubuh itu setiap saat tanpa harus meminta ijin.


"Kenapa? Apa kamu ingin aku menemanimu?" tanya Aaron sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.


Adira menggeleng dalam pelukan Aaron dan mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya itu.


"Tidak, aku hanya ingin memelukmu saja sebelum kamu pergi bekerja" ucap Adira


"Baiklah. Kalau begitu pejamkan matamu" perintah Aaron


"untuk apa?" tanya Adira heran


"Sudah pejamkan saja" ucap Aaron dan Adira pun menutup matanya


Aaron tersenyum melihat Adira yang sudah memejamkan matanya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke leher istrinya itu. Ia menciumnya dan memberi tanda disana.


Adira membuka matanya dan mendorong tubuh suaminya saat merasakan apa yang dilakukan suaminya pagi-pagi.


"Kak apa yang kamu.. " ucap Adira sambil memegangi lehernya dan berlari ke arah cermin.


Adira melihat tanda merah dilehernya dan mulai panik


"Aduh bagaimana ini...!!" ucap Adira sambil mengusap-usap lehernya mencoba menghapus tanda itu tapi tetap tidak bisa hilang.


Aaron mendekatinya dan memeluknya dari arah belakang.


"Kenapa begitu panik? Itu hanya tanda agar kamu tidak pergi kemana-mana sampai aku pulang nanti" ucap Aaron sambil kembali menciumi leher istrinya.


"Tapi aku kan malu kak. Bagaimana kalau Elsa dan Anna melihatnya" ucap Adira


"Mereka akan mengerti" jawab Aaron santai


Adira menghela nafas panjang "Baiklah. Ayo kita keluar untuk sarapan" Adira melepaskan tangan suaminya itu dari pinggangnya dan menarik tangannya membawanya keluar kamar sebelum Aaron terus menciuminya.


⚡⚡⚡


Siangnya di gedung Maxim Group, Aaron sedang duduk dikursi kebesarannya sambil sekali-kali tersenyum mengingat kejadian pagi tadi saat ia menggoda istrinya.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar suara pintu diketok dan Jack membuka pintu ruangan itu setelah Aaron mempersilahkannya masuk.


"Tuan, didepan ada tuan Denis" ucap Jack


"Baiklah biarkan dia masuk" jawab Aaron sambil beranjak bangun untuk menyambut teman lamanya itu.


Tak lama Denis pun masuk dan Aaron mempersilahkannya duduk di sofa.


"Jadi bagaimana? Kamu mau kan membantuku?" tanya Denis


"Kenapa tidak berusaha sendiri saja" jawab Aaron


"Dia selalu menolakku. Aku sudah berusaha mengejarnya sejak kita masih kuliah dulu, tapi dia malah mengejarmu. Padahal saat itu dia juga tau kalau kamu sudah punya pacar dan pacarnya adalah sahabatnya sendiri" ucap Denis membuat Aaron Kembali mengingat akan masa lalunya.

__ADS_1


"Oya, aku dengar kabar kalau Alina akan kembali ke kota ini. Apa kamu akan datang untuk bertemu dengannya?" ucap Denis membuat Aaron menatap Denis dengan tajam.


"Tidak. Dan aku tidak ingin bertemu dengannya lagi" ucap Aaron menegaskan


"Oke.. oke.. baiklah. Aku mengerti, kamu sudah punya istri. Alina hanya mantan kamu" ucap Denis tidak ingin memperpanjang karena ia tau Aaron sudah kecewa dengan Alina.


"Jadi tujuanmu datang kemari hanya untuk Stella?" tanya Aaron


"Tidak. Ada urusan pekerjaan juga yang ingin aku bahas. Tapi selagi bertemu denganmu, kenapa tidak sekalian. hehehehe" jawab Denis


Mereka terus mengobrol dan tak terasa sudah satu jam lebih Aaron dan Denis bertukar kata sampai seseorang datang membuka pintu dan menerobos masuk


"Aaron...." Stella tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Aaron sedang bersama Denis duduk di sofa sana.


Stella menghela nafas kasar saat melihat Denis.


"Ngapain kamu disini?" tanya Stella sewot membuat Denis tersenyum dan menyenderkan tubuhnya dipunggung sofa


"Kamu sendiri ngapain disini?" tanya Denis balik yang membuat Stella geram


"Bukan urusanmu!". Stella berjalan mendekat ke arah Aaron dan menatapnya "Aku ingin bicara berdua denganmu".


Aaron mengarahkan pandangannya pada Stella dan menatapnya "Tidak ada yang perlu dibicarakan denganmu". Kemudian Aaron menoleh ke arah Denis dan berkata "kalau sudah tidak ada yang dibicarakan. Aku akan pulang".


Denis mengangguk-anggukan kepalanya mengerti "Oke. Ayo kita turun".


Aaron dan Denis beranjak bangun berbarengan. Aaron kembali menatap ke arah Stella yang masih menatapnya dengan kesal.


"Kamu bisa menemui sekertaris ku kalau ada yang ingin disampaikan" ucap Aaron membuat Stella melongo tak percaya.


Di dalam Cafe


Adira tengah duduk sendirian dicafe karena Reni sedang bekerja.


"Ra, gpp kan aku tinggal-tinggal?" tanya Reni yang merasa tidak enak pada Adira karena tidak bisa menemaninya ngobrol


"Iya gpp santai aja" jawab Adira


Sebenarnya Aaron sudah melarangnya untuk keluar rumah tapi karena Adira merasa bosan jadi ia pikir akan pergi hanya sebentar untuk menemui sahabatnya.


Adira beranjak bangun dan berjalan ke arah toilet. Dimeja lain tampak Clara tengah duduk sendiri. Ia tidak melewatkan kesempatan itu untuk mendekati meja Adira dan memasukkan sesuatu pada minuman Adira.


"Kali ini elu bakalan benar-benar malu" gumam Clara pada dirinya sendiri. Lalu ia kembali ke mejanya sebelum ada yang memergokinya.


Tak lama kemudian Adira pun datang dan duduk kembali. Ia menyeruput minumannya. Adira melihat jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Sebaiknya aku pulang sekarang sebelum kak Aaron pulang" gumam Adira sambil beranjak bangun.


Adira terhenti dan mulai merasakan sesuatu didalam tubuhnya. Ia merasakan keringat dingin dan panas dalam tubuhnya. Adira kembali duduk dan merasakan seperti ada hasrat dalam dirinya yang tiba-tiba muncul.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa seperti ini" Adira mulai panik dan melihat sekelilingnya. Tidak mungkin kan dia merasa seperti ini didepan umum. Akan sangat memalukan jika ia sampai tidak bisa menahan dirinya.


Tapi obat perangsang itu sudah bereaksi dengan sempurna. Adira mengepalkan tangannya erat untuk menahan dirinya. Ia merogoh tasnya dan mencari ponselnya. Ia menghubungi seseorang saat ponsel itu sudah ditangannya.

__ADS_1


"Halo kak... tolong aku... aku di cafe..." ucap Adira dengan suara parau dan sedikit bergetar.


Didalam mobil, tak banyak bertanya Aaron langsung menyuruh Jack melajukan mobilnya ke arah cafe. Ia tau pasti terjadi sesuatu pada istrinya disana.


Kevin masuk ke dalam cafe dan melihat Adira yang tengah duduk sendirian seperti sangat gelisah. Ia pun datang menghampirinya dan melihat tubuh Adira bergetar dan keringat didahinya.


"Adira kamu kenapa?" Kevin memegang kedua lengan Adira karena mereka khawatir.


Adira yang merasakan sentuhan tangan Kevin pun seperti merasakan ingin lebih. Tapi ia coba untuk menahan dan melepaskan tangan Kevin dari tubuhnya.


"Jangan sentuh aku Kevin!" Adira mencoba untuk bangun dan berjalan keluar cafe. Ia tidak ingin Kevin kembali menyentuhnya.


Kevin mengikutinya keluar karena sangat khawatir.


Kevin menarik lengan Adira saat sudah diluar cafe. Adira mencoba melepaskan tangan Kevin dari tangannya. Ia takut tidak bisa mengontrol dirinya. Tapi Kevin tetap tidak mau melepaskan tangannya karena sangat khawatir.


"Kevin tolong lepaskan.. Jangan sentuh aku.." Adira memohon tapi Kevin tetap tidak melepaskannya.


"Lepaskan tangannya Kevin!!" teriak Aaron yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.


Aaron berjalan cepat ke arah mereka. Adira yang melihat Aaron langsung melepaskan tangan Kevin dari tangannya dan berhambur kepelukan Aaron. Adira mengalungkan tangannya di leher Aaron dan membenamkan wajahnya dileher suaminya itu.


Aaron bisa merasakan nafas Adira yang sangat memburu dan memeluknya dengan sangat erat. Ia merasakan bibir gadis itu mulai menciumi lehernya seperti tidak bisa mengontrol dirinya. Ia pun hanya bisa meneguk salivanya merasakan sentuhan dari bibir istrinya dilehernya. Dengan sigap ia langsung membopong tubuh istrinya itu dan membawanya masuk kedalam mobil.


Kevin yang melihat pemandangan didepannya tadi itu pun terlihat marah dan kesal. Ia masih tidak rela jika gadis pujaan hatinya harus disentuh oleh orang lain. Tiba-tiba ia teringat akan Clara yang sudah menunggunya di dalam cafe. Kevin menyadari ini pasti perbuatan Clara. Tidak mungkin Adira tiba-tiba bernafsu seperti itu tanpa sebab. Kevin melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe dengan kemarahan yang memuncak. Ia langsung menuju ke arah Clara yang sedang duduk disana dan menggeret tangannya keluar dari dalam cafe.


"Kevin sakit..." rengek Clara


Kevin menghempaskan dengan kasar tangan Clara dan mulai berteriak "Apa yang sudah kamu lakukan pada Adira hah!!'


"Apa maksud kamu Kevin? Aku tidak melakukan apa-apa. Aku juga tidak tau kalau Adira ada di cafe ini" ucap Clara penuh dusta.


Namun Kevin tidak langsung percaya begitu saja dengan ucapan Clara.


"Aaarrggghhhhhh" Kevin berteriak marah dan melenggang pergi meninggalkan Clara. Percuma juga berdebat dengan Clara. Ia mulai membayangkan jika saat ini gadis yang ia cintai itu pasti sedang di gagahi oleh kakaknya.


Hari sudah mulai malam, Kevin kembali meneguk minuman didepannya. Kali ini ia sudah benar-benar mabuk. Clara datang dan merebut gelas ditangan Kevin yang sudah hampir menempel dibibirnya.


"Cukup Kevin! Kamu sudah minum terlalu banyak" ucap Clara


"Bukan urusanmu...." Kevin beranjak bangun dan berjalan sempoyongan.


Clara menaruh gelas itu kembali dan berjalan mengikuti Kevin keluar dari dalam bar. Clara mencoba membantu Kevin berjalan tapi Kevin terus mendorongnya.


Kevin sudah sampai pada mobilnya dan membuka pintu mobil itu. Clara menarik tangannya saat Kevin hendak masuk ke dalam mobil.


"Kevin! Kamu tidak mungkin menyetir dalam keadaan mabuk seperti ini" Clara nampak cemas


Kevin hanya terdiam dan mengedip-ngedipkan matanya. Wajah Clara seketika berubah menjadi wajah Adira dalam pandangan mata Kevin. Kevin begitu senang bisa melihat wajah itu dihadapannya. Ia menangkup wajah gadis itu.


"Adira.. kamu disini? Aku mencintaimu Adira..." Kevin langsung mencium bibir gadis didepannya itu.


💢💢💢💢💢

__ADS_1


💞Mohon dukungannya buat author ya kakak-kakak. Biar author semangat untuk menulis dan mencari ide. Silahkan beri kritik dan saran untuk author. Jangan lupa like, subscribe, vote dan hadiahnya juga ya 🙏🤭


Terimakasih💞


__ADS_2