
Aaron mendorong tubuh Stella keluar dan menutup kembali pintunya dengan cepat. Stella mencoba menggedor-gedor pintu tapi Aaron tak menghiraukannya. Aaron menyenderkan tubuhnya di pintu dan memijat pelipisnya. Ia berjalan ke samping ranjang dan diraihnya ponselnya di atas meja lalu ia coba menelfon Jack.
"Antarkan istriku pulang sampai kerumah. Pastikan dia tidak pergi kemana-mana" ucap Aaron lalu menutup kembali panggilan telefonnya. ia mengkhawatirkan istrinya itu dan tidak ingin Adira pergi dan tidak pulang kerumah.
Adira sudah sampai dirumah dengan di antar oleh Jack. Jack langsung kembali ke hotel untuk menjemput Aaron yang hendak berangkat ke kantor.
Di dalam mobil, Jack memperhatikan tuannya yang sedang melamun dari kaca spion depan.
"Eehheemm... Tuan, apa tuan semalam benar-benar bermalam dengan nona Stella di kamar hotel?" tanya Jack yang tadi juga melihat Stella keluar dari hotel saat hendak mengantarkan Adira pulang.
Aaron melirik ke arah Jack yang sedang menyetir didepan "Tentu saja tidak. Aku juga tidak tau dia pagi-pagi sudah datang bertamu saat aku baru selesai mandi"
"Bagaimana nona Stella bisa tau kalau tuan menginap di hotel semalam?" tanya Jack
"Aku juga tidak tau. itu tidak penting untukku" Aaron masih memikirkan bagaimana keadaan Adira sekarang. ia benar-benar sangat khawatir.
"Sepertinya nona Adira salah paham tuan. Tadi nona menangis sepanjang perjalanan pulang" ucap Jack yang membuat Aaron merasa bersalah pada istrinya itu.
"Apa anda tidak berniat untuk menjelaskan yang sebenarnya pada nona Adira?" tanya Jack
Aaron mulai berfikir bahwa dia sudah salah paham juga pada istrinya tentang kejadian di rumah kakeknya.
Harusnya ia mendengarkan dulu penjelasan Adira kenapa malam itu Adira bisa keluar dari dalam kamar Kevin. Tapi apa yang sudah ia lakukan? Ia malah bersikap dingin dan tidak pulang kerumah hanya karena cemburu pada Adira dan Kevin
"Kosongkan beberapa jadwal ku hari ini. Hari ini aku akan pulang lebih awal" ucap Aaron
"Baik tuan" jawab Jack
Di kediaman Al-Devano
Adira mengurung diri di dalam kamar. Ia terus menangis sepanjang hari. Ia benar-benar tidak menyangka jika Aaron tega mengkhianatinya. Hatinya begitu sakit setiap teringat kejadian di hotel tadi. Bahkan Aaron tidak mengejarnya untuk memberinya penjelasan sedikitpun.
๐ถDu.. du... du...๐ถ
Adira meraih ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari Kevin. Enggan sekali Adira mengangkat telefon dari Kevin tapi Kevin terus menghubunginya sampai berkali-kali.
"Halo..." ucap Adira yang dengan nada malas
'Adira, aku ingin bertemu denganmu" ucap kevin
__ADS_1
"Kevin aku tidak ingin bertemu denganmu atau siapapun" jawab Adira
"Tolong Adira. kali ini saja aku ingin menemui mu. kalau kamu tidak mau, maka aku yang akan datang kesitu untuk menemui mu". Kevin memaksa membuat Adira akhirnya menyetujui.
"Baiklah. Tapi setelah ini aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi. Dan kamu tidak perlu untuk menjemput ku, aku bisa datang kesana sendiri" ucap Adira
"Kalau begitu aku menunggu mu di cafe biasa"
Tut.. Tut..Tut...
Sambungan telefon pun terputus dan Adira Kembali meletakkan ponselnya di sampingnya.
Siang itu Adira menemui Kevin di dalam cafe tempatnya dulu bekerja. Kini Adira sudah duduk didepan Kevin dengan diam tertunduk.
Kevin menatap Adira dan membuka obrolan.
"Adira.. aku ingin minta maaf tentang masalah yang sebelumnya. Aku tidak bermaksud untuk melecehkanmu. Jujur hatiku terasa sakit setiap kali melihatmu bersama dengan kak Aaron" ucap Kevin
Adira mengangkat kelopak matanya dan menatap ke arah Kevin.
Kevin menggenggam tangan Adira yang berada di atas meja dan melanjutkan ucapannya
"Katakan sesuatu Adira. Jangan diam saja. Atau kamu bertengkar dengan kak Aaron?" diamnya Adira membuat Kevin merasa cemas dan khawatir
Adira mengerjip-ngerjipkan matanya agar air matanya tidak keluar.
"Aku tidak tau, Kenapa aku harus berada di antara kamu dan kak Aaron. Kenapa aku harus terjebak diantara kalian. Katakan kenapa Kevin? Kenapa??" Adira mulai meneteskan air matanya dan menangis
Kevin yang melihat Adira menangis menjadi merasa sangat bersalah pada gadis itu.
"Maafkan aku Adira. Seandainya aku bisa lebih tegas terhadap mamaku mungkin kamu tidak akan mengalami semua ini" Kevin semakin erat menggenggam tangan Adira
Adira menyeka air matanya dan melepaskan tangannya dari tangan Kevin.
"Maaf Kevin, aku harus pulang. Aku sudah memaafkanmu. Kedepannya kita tidak perlu bertemu seperti ini lagi" Adira meraih tas nya dan beranjak bangun
Kevin ikut bangun dan menahan tangan Adira tapi langsung ditepis oleh Adira yang kemudian melangkah pergi. Kevin hanya bisa memandangi kepergian Adira dengan tatapan sayu.
Adira menyetop taxi dan pulang dengan menaiki taxi. Taxi itu mengantarkannya sampai ke depan gerbang rumah. Adira melangkahkan kakinya masuk menuju halaman rumah.
__ADS_1
Aaron yang sudah pulang dan sedang berdiri di balkon pun langsung turun saat melihat Adira pulang.
Adira masuk ke dalam rumah dan melihat Aaron sudah berdiri disana. Mereka sempat bertatapan sebentar kemudian Adira melepaskan pandangannya ke arah lain. Adira kembali berjalan dan melewati Aaron.
Aaron menahan lengan Adira saat istrinya itu berjalan melewatinya. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan dari mana istrinya itu pergi. Tapi ia tidak ingin memperburuk suasana.
"Aku ingin bicara denganmu" Aaron bicara dengan sangat lembut karena ia tau suasana hati Adira sedang tidak baik.
"Lepaskan tanganku kak. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu atau siapapun". Adira mencoba menahan emosinya dan masih menghindari tatapan Aaron. Masih terekam dengan jelas kejadian di hotel tadi pagi.
"Adira aku..."
"Tolong kak! Biarkan aku sendiri" ucap Adira dengan nada meninggi.
Aaron tau Adira pasti benar-benar mengira jika ia semalam telah bermalam dengan Stella di kamar hotel. Aaron melepaskan tangan Adira.
"Baiklah" ucap Aaron tidak ingin memaksanya.
Hati Adira masih sangat sakit dan terluka. Ia tidak ingin menangis didepan Aaron karena itu akan membuatnya terasa lemah.
"Malam ini aku akan tidur di kamar tamu" ucap Adira
Mendengar itu Aaron ingin protes tapi ia mencoba mengerti dan mengalah.
"Tidak! Kamu tidurlah di kamar, biar aku saja yang tidur di kamar tamu" ucap Aaron
Adira kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, meninggalkan Aaron yang masih berdiri terdiam sambil menatap kepergiannya.
Aaron menyeka matanya agar air matanya tidak menetes. Hatinya begitu sakit melihat sikap istrinya. Aaron tau, diamnya Adira menyimpan banyak luka dalam hati gadis itu. Mungkin lebih baik jika Adira marah dan memakinya saja agar hati istrinya itu terasa lega.
Aaron melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar. Kini ia sudah berdiri tepat didepan pintu kamarnya. Ia bisa mendengar jika istrinya itu sedang menangis didalam sana. Hatinya ikut sakit mendengar tangis Adira. Ingin sekali ia memeluk istrinya itu dan meminta maaf padanya.
"Maafkan aku Adira, karena telah membuat hatimu terluka. Maafkan aku..." Aaron berbicara dalam hati. Disenderkannya tubuhnya di tembok dan ia memejamkan matanya. Air matanya pun menetes membasahi pipinya.
๐๐๐
๐Mohon dukungannya buat author ya kakak-kakak. Biar author semangat untuk menulis dan mencari ide. Silahkan beri kritik dan saran untuk author. Jangan lupa like, subscribe, vote dan hadiahnya juga ya ๐๐คญ
Terimakasih๐
__ADS_1