
Hari itu Clara datang menghampiri Kevin yang tengah duduk bersama Brian dikantin kampus.
"Kevin, aku ingin bicara denganmu" ucap Clara
Kevin terlihat malas sekali saat melihat wajah Clara "Aku sedang malas melihat wajahmu, pergilah"
"Tapi Kevin! Aku ingin bicara hal yang sangat penting" nada suara Clara mulai meninggi karena kesal Kevin mengacuhkannya.
Kevin menghela nafas panjang "Bicara apa?
"Tidak disini Kevin. Kamu ikut aku" Clara memegang pergelangan tangan Kevin namun Kevin langsung menarik tangannya kembali.
"Ya sudah kalau tidak mau bicara disini maka tidak perlu..." ucap Kevin terpotong.
"Kevin aku hamil!!" suara Clara membuat seisi kantin menoleh ke arah mereka.
Kevin dan Brian pun nampak kaget dan melihat ke arah Clara. Kevin melihat sekelilingnya dan semua orang sedang menatap ke arah mereka. Kevin langsung bergegas bangun dan menarik tangan Clara keluar meninggalkan area kantin. Kevin membawanya ke tempat yang agak sepi.
"Kamu bisa gak sih jangan bicara seperti itu didepan banyak orang hah!" kesal Kevin
"Jangan salahkan aku Kevin! Kamu sendiri yang menolak ikut saat aku mengajakmu bicara tadi" ucap Clara tak kalah kesal
"Kamu bilang tadi apa? Kamu hamil?" tanya Kevin masih tak percaya
Clara memegangi perutnya "Iya Kevin, aku hamil"
Kevin nampak frustasi dan mengacak-acak rambutnya. Ia melihat kembali ke arah perut Clara.
"Kamu gugurkan saja kandungan itu!" ucap Kevin dengan nafas memburu menahan kesal
"Apa?!!" Clara nampak tak percaya dengan ucapan Kevin. Ia memegang lengan Kevin dengan erat. "Kamu jangan bercanda kevin! Ini anak kamu!!!"
Mata Clara mulai berkaca-kaca karena kesal Kevin menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku tidak mau tau Kevin. Kamu harus segera menikahi ku dan bertanggung jawab atas anak ini!" ucap Clara lalu pergi meninggalkan Kevin.
Kevin hanya menatapi kepergian Clara, ia benar-benar masih tidak percaya jika ia sudah menghamili gadis itu.
"Aagghhhh!!" Kevin menghantamkan pukulan pada tembok disebelahnya.
πππ
Adira dan Aaron memasuki sebuah restoran siang itu. Aaron sengaja menyuruh Jack untuk menjemput Adira di rumah tadi.
"Tumben sekali kakak mengajakku makan di luar?" Tanya Adira
"Kamu pasti bosan di rumah terus bukan? Jadi aku mengambil inisiatif sendiri sebelum kamu memilih pergi keluar sendiri" ucap Aaron yang membuat Adira tersenyum.
Mereka kini sudah berada di dalam restoran. Disana ada Denis dan Alina yang juga sedang makan. Denis yang melihat kedatangan pasangan suami istri itu pun langsung melambai dan memanggil mereka untuk bergabung.
"Kak, itu bukankah temanmu?" Adira menunjuk ke arah Denis dan Alina
Aaron melihat ke arah mereka, kemudian ia menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Jika kamu ingin duduk di meja lain, aku akan menolak ajakannya" ucap Aaron berharap Adira menolak karena Aaron sedang tidak ingin bertemu dengan Alina. ia tidak ingin semakin menyakiti hati gadis itu dengan melihatnya bersama Adira disana.
"Tidak masalah kak, kita duduk bersama mereka saja. Tidak enak menolak ajakan temanmu bukan?" ucap Adira yang membuat Aaron sedikit kecewa
"Baiklah" Aaron mempererat genggaman tangannya dan membawa Adira melangkah menuju meja Denis dan Alina.
Alina melihat ke arah genggaman tangan pasangan didepannya itu. Kemudian ia menaikan pandangannya pada Aaron.
"Ayo silahkan duduk" ucap Denis
Aaron menarikkan kursi untuk Adira dan ia pun duduk disampingnya.
"Tidak menyangka ya bisa bertemu dengan kalian disini" ucap Denis
Denis memanggil seorang pelayan untuk membantu memesankan makanan untuk Aaron dan Adira.
Aaron melihat ke arah Alina karena merasa gadis itu terus memandanginya. Suasana pun menjadi sangat canggung. Hanya sesekali terdengar candaan dari Denis.
Sementara Denis tidak mau ikut campur urusan pribadi temannya itu. Apalagi sekarang Aaron sudah menikah dan punya istri. Ia tidak membahas hal-hal lain selain pekerjaan didepan dua gadis itu.
"Oya, bagaimana kalau weekend aku ajak kamu dan istrimu ini untuk menginap dan berlibur di villa ku. Sudah lama kita tidak kumpul-kumpul seperti dulu" Ajak Denis
"Maaf Denis tapi aku tidak bisa ikut" tolak Aaron
"Baiklah kalau kamu tidak mau maka aku akan mengajak istrimu saja. Bagaimana nyonya Al-Devano? Apakah kamu mau menerima ajakanku. Kita akan bersenang-senang disana" ucap Denis melihat ke arah Adira
"Hah..." Adira terlihat bingung untuk menjawab apa dan menoleh ke arah suaminya. "Baiklah aku akan ikut"
Aaron ingin protes pada istrinya tapi Denis sudah berbicara lebih dulu.
Aaron akhirnya mengalah dan menyetujui "Baiklah aku juga akan ikut"
Denis menoleh ke arah Alina yang duduk disampingnya
"Alina, kamu juga akan ikut bukan?" tanya Denis
"Tentu saja. Aku pasti akan ikut" ucap Alina tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Aaron yang duduk didepan Denis.
Denis pun merasa jika Alina terus memandangi Aaron sejak tadi. Ia segera mengajak Alina kembali ke kantor karena tidak mau jika nanti istri Aaron memergokinya dan akan salah paham.
"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu. Kami harus kembali bekerja. Sampai bertemu besok" ucap Denis.
Denis dan Alina pun pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang hanya tinggal Aaron dan Adira yang masih duduk disana.
"Aku akan mengantarmu pulang dulu sebelum kembali ke kantor" ucap Aaron.
"Tidak perlu. Sebaiknya kita kekantormu saja dulu untuk mengantarkan mu. Nanti aku bisa pulang dengan sekertarismu itu. Biar dia saja yang mengantarku jadi kakak tidak perlu bolak-balik" ucap Adira
"Baiklah, ayo kita pulang"
Mereka pun bergegas bangun dan Aaron kembali menggenggam tangan istrinya itu.
Setelah mengantarkan Aaron sampai depan kantor. Jack melajukan mobilnya kembali hendak mengantarkan Adira untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Jack melihat Adira yang terus melamun dan terdiam sepanjang jalan. Padahal ia tidak terlihat seperti sedang bertengkar dengan Aaron tadi. Jack memberanikan diri untuk bertanya.
"Nona kenapa anda terlihat murung setelah makan siang dengan tuan tadi? Apa nona bertengkar dengan tuan lagi?" tanya Jack
Adira melihat ke arah Jack yang duduk didepannya sedang mengemudi.
"Tidak. Tapi tadi kami bertemu dengan teman kak Aaron disana" ucap Adira
"Oh temannya tuan"
"Iya.. yang kemarin mengadakan pesta. Namanya kak Denis dan ada seorang gadis lagi... Namanya Alina...." ucap Adira.
"Nona Alina?"
"Kamu mengenalnya?" tanya Adira penasaran.
"Ya nona. Nona Alina itu teman tuan Aaron dulu semasa kuliah" ucap Jack
"Apa mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar teman?" tanya Adira
"Kenapa nona bertanya seperti itu?" Jack tidak ingin menjawab rasa penasaran Adira karena biar nanti tuannya saja yang akan mengatakan kejujurannya.
"Setiap kali bertemu dengan kak Aaron, dia selalu memiliki pandangan yang berbeda. Begitupun dengan kak Aaron. Apa mungkin mereka pernah dekat lebih dari sekedar teman" Adira mulai menebak-nebak
"Sebaiknya nona tidak perlu memikirkan hal itu. Nona percaya saja kalau tuan Aaron tidak akan mengkhianati nona" ucap Jack
Adira pun hanya kembali terdiam sampai mereka tiba di rumah.
πππ
Malam itu Alina menemui Stella di apartemennya.
"Kenapa Alina? Apa kamu mulai merasa sakit hati melihat kebersamaan Aaron dan Adira?" tanya Stella yang melihat sahabatnya itu terus murung sejak datang ke apartemennya.
"Aku tidak tau Stell. Aku masih sangat mencintai Aaron. Hatiku begitu sakit setiap melihat mereka berdua" ucap Alina
Stella duduk disamping Alina
"Alina. Kamu dekati Aaron kembali. Aku yakin kalau Aaron juga masih sangat mencintai kamu" ucap Stella
"Tapi dia sudah punya istri. Tidak mungkin aku mendekatinya lagi"
"Hei.. Jika kamu sering bersama dengan Aaron, pasti Aaron akan menyadari kembali perasaannya untukmu. Aku tidak yakin jika Aaron benar-benar mencintai istrinya. Mungkin saja dia hanya kasihan pada Adira. Bagaimana tidak, Adira ditinggalkan oleh Kevin di hari pernikahan mereka. Percayalah Alina, kalau Aaron masih sangat mencintai kamu. Kamu harus merebut hatinya kembali" Stella coba meyakinkan Alina
"Apa aku tidak salah jika aku ingin mengambil Aaron kembali untukku?
"Tentu saja tidak Alina. Justru kamulah yang seharusnya berada disisi Aaron sekarang. Bukan Adira" ucap Stella.
Alina Kembali terdiam dan memandang lurus ke depan. Kali ini ia ingin bersikap egois untuk mendapatkan cinta Aaron kembali. Ia tidak rela jika Aaron benar-benar sudah melupakannya begitu saja. Setelah apa yang mereka lalui dulu. Mereka begitu saling mencintai. Itu adalah masa-masa terindah untuk mereka saat mereka memadu kasih dulu sebagai sepasang kekasih.
"Maafkan aku Aaron, tapi aku masih sangat mencintaimu. Sekalipun kakekmu tidak merestui hubungan kita. kali ini aku tidak akan meninggalkan mu lagi" batin Alina
πππ
__ADS_1
πMohon dukungannya buat author ya kakak-kakak. Biar author semangat untuk menulis dan mencari ide. Silahkan beri kritik dan saran untuk author. Jangan lupa like, subscribe, vote dan hadiahnya juga ya ππ€
Terimakasihπ