Takdir Cinta Adira

Takdir Cinta Adira
Bab 24 : TCA


__ADS_3

Aaron menarik tangan Adira dan membawanya masuk kedalam kamar dengan nafas yang menggebu-gebu menahan marah. Sebenarnya ia ingin sekali menghajar Kevin. Kevin pasti sudah berani menyentuh tubuh istrinya. Tapi ia tidak ingin membuat keributan di rumah kakeknya. Ia akan membuat perhitungan nanti diluar.


Dilepaskannya tangan Adira dan Aaron mulai berbicara tanpa menoleh ke arah Adira. "Tidurlah! Besok pagi kita akan pulang"


Adira menahan lengan Aaron saat suaminya itu hendak melangkah pergi. Ia tau Aaron pasti sangat marah karena melihatnya keluar dari kamar Kevin dengan penampilan acak-acakan.


"Kakak mau kemana lagi?" tanya Adira


"Kamu tidurlah disini. Aku akan tidur dikamar lain" Aaron melepaskan tangan Adira dari lengannya dan berjalan keluar kamar tanpa menatap wajah Adira.


Badan Adira terasa lemas dan air matanya kembali jatuh. Ia tau apa yang dipikirkan oleh Aaron. Tapi kenapa Aaron tak memberinya waktu untuk menjelaskan dan malah memilih tidur di kamar terpisah.


"Kak.. kenapa kamu tidak meminta penjelasan ku dulu.. hiks..hiks..hikss" Adira menangis teduduk. Hatinya terasa sakit, ia sudah dilecehkan oleh adik iparnya sendiri dan sekarang suaminya bersikap dingin padanya.


Aaron masuk ke dalam salah satu kamar dan menyenderkan tubuhnya dipintu. Ia mengepalkan erat tangannya. Matanya memerah. Rasanya ia tidak sanggup untuk mendengarkan penjelasan dari Adira saat ini. Apalagi jika istrinya itu bilang Kevin telah mencumbuinya. Aaron sudah bisa membayangkan semua itu saat melihat Kevin dan Adira tadi.


Malam ini tidak ada yang bisa tidur diantara Adira, Aaron dan Kevin. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sepanjang malam. Hingga pagi pun tiba dan kini mereka sudah berkumpul kembali di meja makan.


Terjadi ketegangan antara dua kakak beradik itu dan mereka saling menatap tajam. Adira pun melihat bergantian ke arah suaminya dan Kevin yang sedang saling menatap. Ia bisa melihat tatapan Aaron yang penuh amarah. Belum pernah ia melihat Aaron semarah itu sebelumnya.


"Kakek, kami ijin pulang dulu. Aku juga harus berangkat ke kantor. Masih ada beberapa kerjaan yang harus aku selesaikan" ucap Aaron berpamitan.


"Baiklah, hati-hati dijalan. Sering-sering lah berkunjung kemari" jawab kakek Brama


"Baik kek" jawab Aaron lalu menoleh ke arah Adira. "Ayo"


Adira bangun dan membungkukan sedikit badannya ke arah kakek Brama. Lalu ia berjalan mengikuti langkah Aaron yang sudah berjalan lebih dulu.


Kevin hanya menatap nanar ke arah kepergian mereka sebelum akhirnya ikut pamit juga.


Di dalam mobil suasana nampak sunyi. Adira ingin sekali bicara dan menjelaskan apa yang terjadi semalam di kamar Kevin pada Aaron. Tapi ia tau kalau Aaron pasti masih marah padanya dan tidak ingin mendengarkan penjelasan darinya.


Tak berselang lama mereka sudah sampai didepan rumah Aaron. Aaron tak menoleh sedikitpun ke arah Adira, ia fokus menatap kedepan.


"Turunlah, aku sudah terlambat untuk berangkat ke kantor" ucap Aaron masih dengan nada dingin


"Kak aku..."


"Aku bilang turun!" Kali ini Aaron meninggikan suaranya hingga membuat Adira merasa sakit hatinya dan matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Baiklah aku akan turun" lirih Adira lalu membuka pintu mobil dan keluar.


Aaron segera memutar balik mobilnya saat Adira sudah turun dan pintu mobil sudah tertutup kembali.


Air mata Adira kembali menetes melihat perubahan sikap suaminya. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


Siangnya di gedung Maxim group.


Aaron meminta Jack untuk memesankan kamar hotel untuknya menginap malam ini.


"Pesankan satu kamar hotel untukku" perintah Aaron


"Tapi tuan. Apa tuan tidak akan pulang kerumah malam ini?" tanya Jack. Ia tau pasti sudah terjadi sesuatu semalam di rumah tuan Brama sampai Aaron tidak mau pulang kerumah. Tapi kejadian apa? Jack juga tidak mengetahuinya.


"Tidak usah banyak tanya. Pesankan saja!"


"Baik tuan" jawab Jack lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan Aaron.


Aaron yang sudah sendirian di ruangannya kembali teringat kejadian semalam. Bisa-bisanya Adira naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar Kevin? Mungkinkah Adira masih menyimpan rasa untuk Kevin? Pikiran Aaron dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Adira dan Kevin. Tapi ia tidak sanggup jika harus mendengar kenyataan itu langsung dari bibir Adira. Kali ini rasa cintanya telah membuatnya terbakar api cemburu.


Malamnya Adira sedang duduk menonton tv di ruang tengah sambil menunggu Aaron pulang. Tak berselang lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Adira bergegas keluar untuk menyambut kepulangan suaminya.


"Dimana kak Aaron?" tanya Adira


"Tuan tidak pulang nona. Malam ini tuan menginap di hotel" jawab Jack membuat Adira kecewa.


Jack bisa melihat kekecewaan dan kesedihan di wajah Adira.


Adira hanya terdiam dengan menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.


Adira masuk ke kamarnya dan berbaring tengkurap di atas ranjangnya, ia mulai menangis disana.


"Segitu marahkah kamu padaku kak? Sampai kamu tidak ingin melihat wajahku.. hikss....."


Hati Adira benar-benar diselimuti kesedihan. Hanya dalam satu malam semuanya berubah. Tidak biasanya Aaron bersikap sedingin ini padanya. Apakah Aaron sudah tidak ingin mendengar penjelasan darinya lagi. Apakah tidak ada kepercayaan dari Aaron untuknya lagi? Atau Aaron tidak benar-benar mencintainya?


Membayangkan semua itu semakin membuat hati Adira sakit. Disaat ia butuh Aaron untuk tempatnya bersandar tapi Aaron malah mengacuhkannya.


Adira mencoba menelfon ke ponsel Aaron tapi Aaron tak mengangkatnya. Adira pun kembali menangis sampai tak terasa ia tidur terlelap.

__ADS_1


Di pagi hari Adira sudah siap dan meminta Jack untuk mengajaknya karena Jack akan menjemput Aaron di hotel. Jack pun mengijinkannya dan membawa Adira ke hotel tempat Aaron menginap.


Jack mengantarkan Adira sampai ke depan lift.


"Nona benar tidak mau saya antar?" tanya Jack memastikan lagi.


"Tidak perlu. Aku sendiri saja. Lagi pula ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kak Aaron dulu" jawab Adira


"Baik nona. Kalau begitu saya akan menunggu di mobil"


Adira pun naik ke lantai yang sudah diberi tahukan oleh Jack. Sesampainya di atas ia mencari nomor kamar Aaron.


Kini Adira sudah berdiri didepan kamar Aaron. Tadi Jack memberi tau kalau ini nomornya. Adira menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu kamar itu.


Sekali ketukan tidak ada jawaban, akhirnya Adira mengetuk pintu itu sekali lagi dan terdengar seseorang mulai membukakan pintu untuknya.


Mata Adira membulat saat melihat Stella yang sudah berdiri membukakan pintu untuknya. Ia tidak salah nomor kan? Tadi Jack memberi tahu kalau nomor kamar ini yang ditempati oleh Aaron.


"Siapa yang datang?" terdengar suara Aaron dari dalam sana.


Deg!


Nafas Adira seketika memburu mendengar suara yang familiar itu.


Aaron kini sudah berdiri tepat dibelakang Stella dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Aaron terlihat kaget saat melihat Adira yang sudah berdiri didepan sana melihat ke arahnya dengan tatapan kekecewaan.


Badan Adira seketika terasa lemas. Dadanya seperti sesak untuk bernafas. ia benar-benar tidak percaya jika Aaron lebih memilih menginap di hotel bersama dengan Stella.


Adira sudah tidak sanggup lagi melihat pemandangan didepannya itu. Ia membalikkan badannya dan berlari kembali ke arah lift.


Aaron ingin menahan Adira tapi ia juga masih kecewa dengan apa yang Adira dan Kevin lakukan malam itu di dalam kamar Kevin.


Di dalam lift Adira mulai menangis sesenggukan. Ia benar-benar tidak menyangka jika Aaron akan mengkhianatinya hanya karena kesalah pahaman sebelumnya. Hatinya kini benar-benar sakit seperti di cabik-cabik.


"Tega sekali kamu kak melewatkan malam mu dengan perempuan lain.. hikss.. hikss..."


💢💢💢💢💢


💞Mohon dukungannya buat author ya kakak-kakak. Biar author semangat untuk menulis dan mencari ide. Silahkan beri kritik dan saran untuk author. Jangan lupa like, subscribe, vote dan hadiahnya juga ya 🙏🤭

__ADS_1


Terimakasih💞


__ADS_2