
Aaron menerima telefon dari Jack, saat ini Jack sedang mengikuti mobil yang dinaiki oleh pria yang hampir mencelakai Adira tadi.
Aaron hendak bangun dari sofa dikamarnya namun segera ditahan tangannya oleh Adira.
"Jangan pergi kak! Aku mohon...." pinta Adira dengan nada khawatir.
Aaron menatap wajah istrinya dan mengusap lembut pipi istrinya itu.
"Aku harus pergi sayang.. masalah ini harus cepat selesai" ucap Aaron.
"Tidak kak! Aku khawatir jika mereka akan melukai mu. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu kak. Aku takut..." Adira mulai terisak kembali.
Aaron mendekatkan wajahnya dan menempelkan keningnya di kening istrinya.
"Aku janji aku akan kembali dengan keadaan baik-baik saja" Aaron mencoba menenangkan dan meyakinkan istrinya.
"Aku takut kak... hiks....hiks...."
"Percayalah aku akan baik-baik saja. Maafkan aku, aku harus pergi. Aku mencintaimu.." Dikecupnya bibir istrinya lalu Aaron bergegas bangun dan berjalan cepat meninggalkan kamar.
"Kak...!!" Seru Adira yang tidak dihiraukan oleh Aaron lagi.
Adira pun hanya bisa pasrah dan kembali menangis karena mengkhawatirkan suaminya.
Aaron bergegas mengendarai mobilnya dan segera menyusul Jack.
💖💖💖
Sebuah mobil berwarna hitam menghadang mobil yang tengah dinaiki oleh Amira dan pria itu.
"Sial!! Siapa yang berani menghalangi jalan kita" Amira menengok kebelakang untuk memastikan mobil Jack tidak berada disana.
Tin..tin..tin...
Amira menekan klakson berkali-kali tapi pemilik mobil didepannya tidak kunjung menepikan mobilnya.
"Ayo kita turun!" ajak Amira pada pria yang duduk disampingnya.
Mereka pun bergegas turun dari dalam mobil dan berdiri didepan mobil.
Seseorang turun dari dalam mobil yang tengah menghalangi jalan mereka. Arya Adiguna, dia adalah orang yang turun dari dalam mobil itu. Sebelumnya Arya sudah mendengar percakapan istrinya dengan seseorang didalam telfon dan mereka berniat untuk mencelakai Aaron. Arya pun memilih mengikuti kemana istrinya itu pergi.
Amira terlihat kaget melihat suaminya yang ternyata turun dari dalam mobil. Saking paniknya karena tadi mobil Jack tengah mengejar mobilnya, Amira sampai tidak memperhatikan jika mobil yang berhenti didepannya itu adalah mobil suaminya.
"Kurang ajar kamu Amira! Aku sudah mendengar semua percakapan kalian ditelfon tadi!" seru Arya menahan amarahnya.
Amira hanya menatap sinis ke arah suaminya itu.
"Baguslah jika kamu sudah tau! Jadi aku tidak perlu berakting lagi" ucap Amira.
Arya melihat ke arah pria yang berdiri disamping Amira.
__ADS_1
"Siapa pria itu!!?" tanya Arya
Amira menoleh ke arah pria disebelahnya. Pria itu pun membuka penutup kepalanya.
"Kamu!???" Arya masih ingat dengan jelas itu adalah wajah pria yang tidur bersama Andini didalam foto 20 tahun lalu. Arya masih menyimpan foto-foto itu walaupun Aaron sudah mengambil satu tanpa sepengetahuan Arya.
"Ya!! Dia pria yang aku suruh untuk menjebak Andini didalam kamar hotel 20 tahun lalu!" seru Amira membuat Arya sangat geram karena istri keduanya itu bisa melakukan hal serendah itu.
"Aku tidak mau hanya menjadi istri keduamu! Aku ingin menjadi satu-satunya istrimu. Kamu begitu sangat mencintai Andini sampai kamu mengabaikan perasaanku!!"
"Amira!! Aku sudah berusaha adil pada kalian berdua" seru Arya kembali.
Amira kembali menatap sinis ke arah Arya.
"Adil kamu bilang?? Kamu bahkan tidak mempercayakan Kevin untuk mengurus perusahaan! Kamu malah menyuruh Aaron yang jelas-jelas tidak mau dan sudah bisa membangun perusahaan sendiri! Itu yang kamu bilang adil hah!!!" Amira menoleh ke arah pria disebelahnya. "Habisi dia!!"
Amira sudah tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi dari Arya Adiguna. Kali ini ia akan menghabisi Arya terlebih dahulu karena Arya sudah mengetahui semua kebusukannya.
Pria itu pun berjalan maju dengan membawa sebilah pisau ditangan kanannya.
"Tunggu! Satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu sebelum kamu mati menyusul Andini. Kevin bukanlah putra kandungmu! Laki-laki ini lah ayah biologis dari Kevin, hahahahaa" Akhirnya Amira mengatakan semua kejujurannya pada Arya dan membuat Arya sangat marah karena selama ini telah tertipu oleh istrinya itu.
Terjadilah perkelahian antara Arya dan pria itu. Amira hanya menjadi penonton disana.
Tak lama mobil yang dinaiki Jack datang dan disusul mobil Aaron dibelakangnya.
Mereka berdua turun dari dalam mobil dan melihat Arya tengah dihajar oleh pria itu.
"Hentikan!! Lepaskan ayahku!" teriak Aaron membuat tiga orang itu melihat ke arahnya.
Amira mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan mengarahkan pistol itu ke arah Arya dan pria itu.
"Turunkan pistol itu mama Amira!!" ucap Aaron dengan hati-hati.
"Mama Amira akan mendapatkan apa yang mama Amira inginkan. Kevin akan menjadi penerus perusahaan Adiguna, aku tidak menginginkan posisi itu" ucap Aaron kembali.
"Tidak Aaron!! Kamulah penerus keluarga Adiguna satu-satunya! Wanita sialan itu ternyata telah menjalin hubungan dengan pria ini dan membuat Kevin terlahir kedunia ini!" seru Arya yang sudah babak belur karena dihajar oleh pria didepannya.
"Kamu dengar sendiri kan Aaron! Ayahmu ini memang ingin mati!!!" Amira mengarahkan peluru ke arah Arya kembali dan melepaskan satu peluru
Dorrrr!!!
Satu peluru melayang dan menancap di dada Aaron yang tadi berlari untuk melindungi ayahnya.
Arya dan Jack nampak kaget melihat Aaron yang tertembak.
"Kurang ajar kamu Amira!!" Arya berlari ke arah Amira dan merebut pistol ditangannya. Amira berusaha lari tapi Arya terus mengejarnya hingga tertangkap kembali.
Sementara pria itu berusaha menolong Amira tapi Jack keburu menghadangnya dan mereka pun berkelahi. Jack pun berhasil membekukan pria itu dan tak lama polisi datang dan menangkap dua orang itu untuk diamankan.
Arya dan Jack membawa Aaron ke rumah sakit.
"Bertahanlah Aaron..." Isak Arya melihat putranya tak sadarkan diri.
Di rumah sakit...
__ADS_1
Dokter sedang berupaya didalam sana. Arya dan Jack menunggu dengan gelisah didepan ruang IGD.
Tak lama Adira pun datang dengan wajah panik dan khawatir.
"Ayah! Bagaimana keadaan kak Aaron? hiks...hiks..." Adira yang terus menangis sepanjang jalan saat mendengar kalau suaminya tertembak itu.
Arya memegang bahu Adira. "Tenang Adira, dokter sedang menangani Aaron. Kita tunggu disini saja ya...."
Setelah cukup lama menunggu akhirnya dokter pun keluar dari dalam ruangan itu.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya Arya.
"Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya tapi pasien masih belum sadarkan diri. Nanti kalian bisa menemuinya setelah pasien sudah dipindah ruangan ke ruang inap" ucap dokter itu.
"Boleh saya melihatnya sekarang dokter? Saya ingin melihat suami saya" pinta Adira.
"Tolong ijinkan dokter, dia istrinya dan sedang mengandung. Dia pasti sangat cemas" ucap Arya.
"Baiklah, silahkan masuk tapi sebentar saja ya? Nanti ibu bisa menungguinya jika sudah dipindah ke ruang inap" ucap dokter itu.
Adira pun mengangguk dan berjalan masuk untuk menemui suaminya.
Kini Adira sudah berdiri disamping suaminya yang tengah terbaring lemah itu. Ia pun memegang tangan suaminya dan mendekatkan wajahnya.
"Kamu sudah janji kak kalau kamu akan kembali dengan keadaan baik-baik saja. Tapi Kenapa kamu membuatku sangat khawatir" Isak Adira sambil menatapi wajah suaminya.
"Jika kamu pergi meninggalkan aku dan anak kita, aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku! apa kamu dengar itu?"
"Aku mendengarnya..." ucap Aaron dengan suara pelan dan lirih.
Adira pun terlihat senang mendengar suara suaminya itu.
Perlahan Aaron membuka matanya dan melihat istrinya yang sudah berada disampingnya dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
"Jangan menangis... Aku baik-baik saja.. " ucap Aaron.
"Hiks.. hiks... Kamu yang membuatku menangis... Kamu jahat... Sangat jahat.... Aku takut sekali kehilanganmu..." Isak Adira
Aaron tersenyum melihat istrinya itu.
"Dasar kucing betina, aku tidak akan mati hanya dengan satu peluru. Aku sudah berjanji akan terus menjaga mu dan calon anak kita ini bukan? Aku tidak akan membuat anak kita lahir dan besar tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Kita sudah mengalami itu, jadi anak kita tidak boleh mengalaminya.. apa kamu paham?" ucap Aaron.
"Sudah jangan bicara lagi! Kakak harus banyak istirahat biar cepat sembuh"
"hhhmmm baiklah.. kalau begitu beri aku ciuman dulu" goda Aaron.
"Ikhhh kak....masih sempat-sempatnya kamu meminta hal seperti itu" ucap Adira kesal.
"Biar aku semangat dan cepat sembuh sayang.. kamu ingin aku cepat sembuh bukan?"
Adira tersenyum mendengar permintaan suaminya itu. Tapi akhirnya ia pun mendekat dan mencium kening suaminya.
⭐⭐⭐
__ADS_1
Silahkan tinggalkan like, komen, vote dan hadiahnya 🥰