
Hari ini Adira sengaja mengambil shift siang karena ia terus merasakan mual di pagi hari.
Malamnya Adira tengah berjalan sendiri menuju kontrakan Reni. Adira sengaja memilih berjalan kaki karena ia ingin sekalian berjalan-jalan menikmati udara malam itu.
"Kak Aaron sedang apa ya??" ucap Adira yang merasa sangat merindukan suaminya itu.
Adira kembali sedih jika teringat Aaron tidak pernah mencarinya selama ia pergi. Mungkin sekarang Aaron benar-benar sudah kembali pada Alina.
Adira menghentikan langkahnya ketika diseberang sana ia melihat pria yang ia kenal. Itu adalah pria yang berada difoto waktu itu, pria yang sama yang waktu itu ia tabrak di hari pernikahan Kevin.
"Hei.. tunggu!' seru Adira yang tidak didengar oleh pria itu.
Jalanan memang cukup sepi, tapi Adira tetap melihat sekelilingnya sebelum ia berlari menyebrang jalan.
Adira terus berlari mengejar pria itu hingga akhirnya Adira bisa meraih lengannya.
"Tunggu paman!!" seru Adira yang membuat pria bertopi itu berhenti dan melihat kearahnya.
Pria itu pun melihat waspada ke arah Adira.
Adira masih dengan nafas tersengal. "Paman, paman pria yang ada di foto itu bukan?"
"Foto? Foto apa? Aku tidak mengenalmu!' pria itu melepaskan tangannya dari tangan Adira.
"Paman pria yang berada di foto bersama dengan ibu Andini bukan?" tanya Adira
Mendengar nama Andini, pria itu pun menatap tajam ke arah Adira dan berjalan mundur. Pria itu mulai panik karena gadis didepannya itu mengenalinya sebagai pria yang berada di foto bersama Andini dulu. Pria itu tau yang dimaksud foto adalah foto dirinya dengan Andini didalam kamar hotel 20 tahun lalu. Pria itu pun mulai bertanya-tanya bagaimana gadis didepannya itu bisa tau tentang foto itu. Karena takut ketahuan, pria itu pun lebih memilih lari meninggalkan tempat itu.
"Hei paman tunggu!!!" teriak Adira.
Adira pun ikut berlari mengejar pria itu, namun pria itu berlari dengan sangat cepat hingga Adira tidak sanggup mengejarnya lagi.
"Hoshh.. hoshhh" nafas Adira pun memburu, Adira memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit karena ia tadi berlari mengejar pria itu. Ia sampai lupa jika ia sedang hamil.
Seseorang menepuk pundak Adira dari belakang. Adira pun nampak begitu menegang takut jika orang jahat yang berada dibelakangnya. Apalagi jalanan disekitar situ sangat sepi dan tidak terlihat seorang pun disana.
"Hei cantik! Apa yang kamu lakukan malam-malam sendirian disini?"
Mendengar suara itu membuat tubuh Adira mulai bergetar. Sepertinya ia akan dalam masalah besar.
Orang itu pun melepaskan tangannya dari pundak Adira dan berjalan kedepan Adira. Sekarang ada dua orang pria berdiri didepan Adira.
"Wah.. cantik sekali..." Pria itu mengamati tubuh Adira dari atas sampai bawah. Sementara pria satunya yang berdiri dibelakangnya juga ikut mengamati Adira.
Adira hanya bisa terdiam takut melihat dua pria yang kini berdiri dihadapannya itu. Kakinya seperti berat untuk melangkah.
"Sedang apa kamu sendirian disini cantik? Bagaimana kalau kita bersenang-senang?" Pria itu pun berusaha menyentuh wajah Adira dengan tangannya namun segera ditepis oleh Adira.
"Pergi kalian!! Jangan sentuh aku!!" teriak Adira
"Percuma kamu berteriak! Tidak akan ada yang mendengarmu disini.. hahahaha"
__ADS_1
Adira pun melihat sekelilingnya yang memang tidak ada siapa-siapa disana. Jika saja tadi Adira tidak mengejar pria bertopi itu mungkin ia tidak akan terjebak ditempat itu sekarang.
Nampak dari jauh seorang wanita datang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Stella...." Lirih Adira saat wanita itu sudah berdiri tak jauh darinya.
"Hai Adira... Maaf sepertinya kamu akan bernasib malang malam ini" ucap Stella dengan senyum sinis diwajahnya.
"Apa maksudmu Stella? Jangan bilang kamu yang menyuruh dua orang ini??" tanya Adira dengan nada takut.
"Iya!! Aku yang menyuruh mereka.. untuk menghabisimu!!" seru Stella dengan penuh kekesalan. "Aku akan membalas apa yang sudah Aaron lakukan padaku! Alina hanya umpan yang aku pakai untuk membuatmu keluar dari rumah Aaron! Dengan begitu aku bisa lebih mudah untuk membalas dendam pada Aaron. Aaron telah membuat karirku hancur dan mempermalukan aku! maka aku akan menghancurkannya dengan cara melenyapkan mu!!"
"Kamu sudah gila Stella!!" seru Adira
"Ya! Aku memang sudah gila! Aku mencintai Aaron, tapi Aaron lebih memilih Alina! Susah payah aku membuat Alina pergi dari hidup Aaron. Sekarang kamu datang sebagai pengganggu! Aku akan menyingkirkan kalian berdua! Kamu dan Alina!!!". Stella melihat ke arah dua orang pria suruhannya. "Kalian berdua! Kalian bisa bersenang-senang dengan perempuan ini. Setelah itu kalian lenyapkan dia!!
Adira pun mulai panik dan ketakutan saat dua orang pria itu kembali melihat ke arahnya dan mulai berjalan mendekat.
"Tidak Stella.. jangan lakukan ini..." ucap Adira sambil berjalan mundur namun Stella tak menggubrisnya.
Terdengar suara tawa Stella yang melihat Adira mulai ketakutan. Adira pun berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu, namun kedua pria itu mulai mengejarnya. Adira terus berlari karena dua pria itu semakin dekat ke arahnya.
"Aaauuuuwwww" Adira tersandung hingga membuatnya jatuh tersungkur.
Adira memegangi pergelangan kakinya yang terasa sakit.
"Hahahaha... Kamu tidak bisa pergi kemana-mana cantik" ucap salah satu dari pria itu.
Pria itu mendekati Adira dan berjongkok dengan satu kaki didepan Adira.
Buukkkkkk
Seseorang datang dan menendang pria itu dari arah samping hingga pria itu jatuh tersungkur.
Adira menoleh ke arah seseorang yang datang menolongnya. "Kak Aaron..."
Pria satunya lagi hendak memukul Aaron namun dengan cepat Aaron melayangkan kakinya pada pria itu hingga ikut jatuh tersungkur.
"Jangan berani menyentuh istriku!" seru Aaron pada dua pria itu.
Dua pria itu bangun dan kembali menyerang Aaron. Jack pun datang untuk membantu Aaron. Terjadilah perkelahian antara empat pria itu.
Adira yang melihat perkelahian didepan matanya itu pun nampak begitu sangat ketakutan.
Tak berselang lama beberapa polisi datang dan melayangkan peluru ke udara.
Dooorrrrr!!
Perkelahian pun terhenti dan dua orang pria suruhan Stella pun berusaha lari saat melihat beberapa polisi berdiri disana. Para polisi itu dengan cepat menghadang mereka. Nampak dari arah sana dua orang polisi juga sudah menangkap Stella yang tadi berusaha untuk kabur.
Aaron mengarahkan pandangannya pada Adira yang masih diam terduduk disana. Ia pun melangkahkan kakinya dan berjalan mendekati istrinya itu.
__ADS_1
Aaron berlutut dengan satu kaki menghadap ke arah istrinya.
Adira hanya memandangnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Aaron menyeka air mata istrinya. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah pergi dari sisiku! Apa kamu masih belum paham juga?"
"Maafkan aku kak... hiks.. hiks..."
Aaron pun memeluk erat tubuh istrinya.
"Ayo kita pulang, besok Jack akan mengambil barang-barang mu" ajak Aaron.
Aaron melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah istrinya. Diciumnya kening istrinya sebelum akhirnya Aaron membopongnya dan membawanya masuk kedalam mobil.
Saat berada didalam mobil, Adira sudah menelfon Reni jika ia akan kembali kerumah suaminya hingga Reni tidak khawatir.
Dikediaman Al-devano...
Aaron merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang. Ia pun ikut merebahkan dirinya disamping Adira dengan kepala terangkat sambil memandangi wajah istrinya. Dibelainya rambut istrinya itu dengan lembut.
"Maaf karena aku sudah bicara kasar padamu tempo hari" ucap Aaron.
Adira menggeleng pelan dan menatap dalam mata suaminya.
"Tidak kak, justru aku yang minta maaf. Maafkan aku...."
"hhmmm.... Jangan mengulangi hal bodoh itu lagi" ucap Aaron sambil mencubit lembut pipi Adira.
"Tidak akan..."
Mereka pun saling terdiam dan saling memandang.
"Oya.. ada yang ingin aku beritahukan padamu kak.." ucap Adira
"Apa itu.." tanya Aaron
Adira melepaskan tangan Aaron dari wajahnya dan menuntun tangan itu ke arah perutnya.
"Aku hamil kak..." ucap Adira membuat Aaron ikut menatap tangannya yang kini berada diatas perut istrinya.
Aaron masih tidak percaya, ia benar-benar bahagia hingga air matanya mulai membendung dimatanya.
"Iya kak, aku hamil.. " ucap Adira kembali meyakinkan.
Aaron menatap dalam mata istrinya. Ia kembali mencium kening istrinya cukup lama. Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untuknya.
Ditatapnya kembali wajah istrinya itu.
"Terimakasih sayang.. besok aku akan menemanimu pergi menemui dokter kandungan untuk memeriksakan kandunganmu. Setelah itu kita akan berkunjung kerumah kakek" ucap Aaron yang dijawab anggukan oleh Adira.
Aaron mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir istrinya itu. Ia sangat merindukan istrinya dan merindukan ciuman mereka.
__ADS_1
⭐⭐⭐
💖 Jangan lupa like, vote dan hadiahnya ya kakak2ku untuk mendukung author 🤭🥰💖