
Malam merambat ke pagi. Hari ini jagat raya dihebohkan dengan foto-foto dan video seorang model yang sedang naik daun yaitu Stella Elisabeth tengah berduaan dikamar hotel dengan seorang pria beristri.
Bahkan beberapa pihak mulai memutuskan kerja sama dengan Stella. Stella hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Karir yang ia bangun selama ini hancur dalam waktu semalam. Seorang wanita dan anak perempuannya pun mendatangi apartemen Stella hanya untuk memberi tamparan diwajah Stella dan makian. Wanita itu adalah istri sah pria yang ia ajak tidur semalam.
Alina yang melihat berita itu pun langsung menemui Stella di apartemennya.
"Aaron pasti di balik semua ini!!" seru Stella dengan nada penuh amarah.
Alina yang mendengar nama Aaron pun langsung bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Stella.
"Apa yang kamu katakan Stella? Aaron tidak mungkin melakukan itu?" Alina mencoba membela pria pujaan hatinya itu.
"Tidak mungkin para reporter itu datang ke kamar hotel jika tidak ada yang menyuruh mereka Alina! Bahkan Aaron pernah mengancamku akan membuka kartuku didepan umum!" Stella kembali berseru.
"Itu karena kamu kurang berhati-hati Stella. Lagi pula untuk apa kamu melakukan hal seperti itu hanya untuk sebuah karir?" ucap Alina.
"Itu semua karena...!" Stella tidak melanjutkan ucapannya. Ia tidak mau jika Alina tau bahwa ia adalah dalang dibalik perpisahan Alina dan Aaron dulu jika Alina tau ia juga mencintai Aaron.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemui Adira?" Stella mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"hhhmmm" angguk Alina
"Lalu bagaimana? Apa dia bersedia meninggalkan Aaron?" tanya Stella yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Alina.
"Tidak, tapi dia bilang akan memikirkannya. Aku harap Adira mau memberiku kesempatan sekali lagi untuk berada disisi Aaron. Aku masih sangat mencintainya" ucap Alina.
"Itu memakan waktu terlalu lama Alina! Bagaimana kalau kita singkirkan saja gadis itu!!" seru Stella membuat Alina menatap kaget ke arahnya.
"Tidak Stella! aku tidak mau melakukan cara kotor seperti itu! Aku bisa memintanya baik-baik. Aku yakin Adira pasti akan memberikan Aaron kembali padaku" ucap Alina penuh keyakinan.
Stella hanya menatap nanar ke arah Alina. Alina benar-benar polos. Sekalipun Adira meminta pergi dari hidup Aaron, Aaron tidak akan pernah mau melepaskannya. Karena Aaron sudah benar-benar mencintai istrinya itu sekarang.
Di kediaman Al-Devano
Adira mengingat-ingat foto yang ia lihat semalam di ruang kerja suaminya. Ia pun kembali kesana dan mengambil foto itu dari dalam laci. Adira mengamati foto itu dengan seksama.
"Aku seperti pernah melihat pria difoto ini. Tapi dimana ya?" gumam Adira.
Pikiran Adira menjelajah dan mencoba mengingat-ingat kembali wajah pria di foto itu.
"Ah... Aku ingat sekarang. Dia pria yang aku tabrak waktu di acara pernikahan Kevin beberapa waktu lalu. Tapi untuk apa pria itu juga ada disana?" Adira mulai penasaran memikirkan hal itu.
"Sebaiknya aku temui kak Aaron saja dan bilang padanya langsung"
Adira menaruh foto itu kembali ke dalam laci sebelum melenggang keluar.
Adira sudah siap dan sekarang sudah berada didalam taksi hendak menuju Maxim group untuk menemui suaminya. Ditengah jalan ia melihat Clara yang turun dari sebuah mobil dan menghampiri seorang pria yang sedang mengecek ban mobilnya yang kempes, tapi pria itu bukanlah Kevin. Adira pun menyuruh supir taksi itu untuk berhenti sebentar. Ia ingin menyapa Clara disana.
"Clara! Apa yang kamu lakukan disini? Lalu dia siapa? Kenapa kamu tidak pergi bersama Kevin?" tanya Adira
Clara pun menoleh ke arah Adira.
"Eh ada kakak ipar disini. Kenapa? Kamu mau mata-matain aku dan lapor ke Kevin kalau aku pergi sama cowok lain gtu?!" ucap Clara dengan nada kesal.
"Tidak, aku kan hanya bertanya. Lagi pula kamu kan sedang hamil, akan lebih baik kalau kamu pergi kemana-mana di antar oleh suami kamu saja" ucap Adira.
"Suami?? Bahkan Kevin tidak pernah mau menyentuhku sedikit pun sejak kami menikah. Jadi apa salahnya jika aku mencari kesenangan diluar rumah" kesal Clara
"Jadi pria ini selingkuhan kamu?" Adira menunjuk ke arah pria disamping Clara
Clara dengan sengaja menggandeng pria disampingnya itu.
__ADS_1
"Iya! Kenapa? Mau lapor ke Kevin? Ya udah lapor aja sana. gue udah gak peduli!"
Adira pun geram dengan sikap Clara. Ia menarik tangan Clara hingga Clara melepaskan tangannya dari lengan pria itu.
"Ayo aku akan mengantarmu pulang!" Adira menarik tangan Clara hingga menyebrang menuju ke arah taksi yang sedang menunggunya.
Clara mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Adira.
"Hei!! Lepaskan tanganku!!" Clara menarik tangannya kembali.
"Jangan pernah ikut campur urusan gue! Gue cuma mau pulang sama cowok baru gue!" seru Clara.
Clara pun berjalan meninggalkan Adira yang masih berdiri mematung. Clara hendak menyeberang jalan kembali ketika sebuah motor lewat dan menyerempetnya hingga jatuh berguling diaspal.
Adira pun kaget dan berlari ke arah Clara bersamaan dengan pria yang Clara bilang sebagai cowok barunya.
"Clara bangun Clara!!" Adira terlihat begitu panik, apalagi saat ia melihat darah segar keluar dari bawah sana.
Adira pun menyuruh pria itu untuk membopong Clara yang tidak sadarkan diri masuk kedalam taksi.
💖💖💖
Kini Adira sudah berada di rumah sakit, Clara sedang ditangani oleh dokter didalam sana. Adira sudah menelfon Aaron dan juga Kevin untuk datang ke rumah sakit.
Tak berselang lama Kevin datang bersama dengan Amira. Belum sempat mengatakan apa-apa, dokter sudah keburu keluar hingga mereka langsung menghampiri dokter itu untuk menanyakan kondisi Clara.
"Bagaimana keadaan menantu saya dokter?" tanya Amira yang terlihat begitu khawatir.
"Ibu Clara tidak apa-apa. hanya luka ringan saja. hanya saja, kami mohon maaf karena kami tidak bisa menyelamatkan janin ibu Clara. Ibu Clara mengalami keguguran" ucap dokter itu.
Adira, Amira dan Kevin pun terlihat kaget mendengar penjelasan dokter itu.
"Maksud dokter? Saya kehilangan calon cucu saya?" Amira masih tampak syok dan tidak percaya.
Kevin pun langsung berhambur masuk kedalam sana. Sementara Amira menoleh dan menatap tajam ke arah Adira.
Plakkkk
Amira menampar pipi Adira dengan keras hingga mengeluarkan darah diujung bibirnya.
"Saya tau kamu pasti sengaja kan membuat Clara keguguran karena kamu masih mencintai Kevin!!" seru Amira dengan kesal.
Adira memegangi pipinya yang terasa sakit karena tamparan yang cukup keras dari mama mertuanya.
"Ma, Dira tidak melakukan apa-apa..."
"Cukup!!!"
Amira hendak menampar Adira kembali tapi Aaron datang dan menahan tangan Amira.
"Jangan pernah menyentuh istriku!" ucap Aaron sembari melepaskan tangan Amira.
Amira pun hanya menatap kesal pada dua orang didepannya secara bergantian. ia tidak akan bisa melawan Aaron sekarang. ia pun lebih memilih masuk untuk menemui Clara.
Aaron menatap ke arah istrinya yang merasa begitu ketakutan. Ia pun memeluk tubuh istrinya itu.
"Ayo kita pulang" Aaron membopong tubuh Adira dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Kevin keluar karena mengkhawatirkan Adira. Ia pun melihat Adira sudah pergi bersama dengan Aaron. Kevin hanya bisa mengepalkan tangannya melihat perlakuan Aaron pada Adira.
Mobil pun melaju menuju kediaman Al-Devano. Aaron kembali membopong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia mendudukkan Adira di sofa dan ia pun berjongkok didepan istrinya. Disentuhnya bibir istrinya itu yang tadi mengeluarkan sedikit darah akibat tamparan dari Amira.
__ADS_1
"Kak, aku tidak bermaksud untuk mencelakai Clara apalagi sampai membuatnya keguguran" Isak Adira
"Aku tau, maaf aku sedikit terlambat hingga kamu harus terluka seperti ini" ucap Aaron.
🎵Du... Du..Du...🎵
Ponsel Aaron berbunyi dan ada panggilan dari Jack disana. Aaron hanya mendiamkannya dan tidak mengangkatnya.
"Angkat saja kak, siapa tau itu penting" ucap Adira.
"Aku akan ke ruangan kerjaku dulu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kamu mandilah dulu dan bersihkan dirimu" ucap Aaron sembari membelai wajah istrinya.
Aaron pun bergegas pergi meninggalkan Adira sendirian didalam kamar.
💖💖💖
Dari sore Adira masih belum keluar dari dalam kamar mandi. Ia kembali teringat pada Clara yang harus kehilangan janinnya. Adira sangat merasa bersalah, seandainya ia tidak memaksa Clara untuk ikut dengannya mungkin semua itu tidak akan terjadi.
Di ruang kerjanya..
Aaron melihat jam dari layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia pun kembali teringat akan istrinya yang mungkin belum makan sejak siang tadi. Aaron segera menutup laptopnya dan bergegas turun. Dibukanya pintu kamarnya dan ia tidak mendapati istrinya disana. Aaron pun berjalan semakin masuk kedalam dan mendengar suara Isak tangisan dari dalam kamar mandi. Aaron sangat khawatir dan membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak dikunci dari dalam oleh Adira. Ia mendapati Adira yang tengah duduk meringkuk didalam sana sambil terus menangis. Aaron langsung menghampirinya karena sangat khawatir. Dipeluknya tubuh istrinya dari arah belakang.
"Jangan terus-terusan menyalahkan dirimu. Itu hanyalah sebuah kecelakaan" ucap Aaron.
Aaron melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuh istrinya membawanya ke arah ranjang dan menidurkannya disana. Ia pun mencium kening istrinya.
"Mama Amira pasti sangat membenciku dan tidak akan pernah memaafkan aku kak" ucap Adira.
Aaron pun menatap wajah istrinya itu.
"Tidak usah memikirkan hal itu. Selama kamu disisiku, aku akan terus menjagamu dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu" ucap Aaron
Adira tersenyum dan membelai wajah suaminya.
"Kak... jika aku pergi. Apa kamu bisa membuka hati kamu untuk orang lain" tanya Adira yang membuat Aaron merasa sedikit kesal.
"Apa yang kamu katakan! Jangan pernah mengatakan hal-hal seperti itu. Sampai matipun aku hanya akan mencintaimu, Adira Callysta!!" ucap Aaron
Adira begitu senang mendengar ucapan dari suaminya.
"Aku juga mencintaimu kak" ucap Adira.
"aku tau.."
Aaron mendekatkan wajahnya dan mereka pun berciuman.
"Mungkin aku pernah mencintai seseorang sebelum kamu. tapi sekarang aku hanya benar-benar mencintai kamu dan aku tidak akan bisa hidup tanpamu" batin Aaron.
⭐⭐⭐
💖 Untuk pembaca setia TCA, terimakasih untuk support dari kalian. Dan terimakasih karena masih setia menyimak TCA💖
__ADS_1