
"Silahkan bang" Dinda meletakkan secangkir kopi di meja kerja Arya.
"Makasih ya Yang" ujar Arya dengan senyum manisnya.
'Andai saja Abang gak buat salah sama kamu dimasa lalu Yang, mungkin saat ini Abang dengan berani tuk lamar kamu dan jadiin kamu satu-satunya milik Abang, tapi saat ini semuanya harus Abang mulai dari awal lagi, Abang harus nyakinin kamu lagi, Ya Tuhan... aku benar-benar menyesal, maafkan abang Khaiyang' ucap Arya dalam hati dan memandang Dinda yang sedang merapikan berkas-berkas di atas meja kerja Arya.
"Aku permisi dulu ya bang" ucap Dinda memegang berkas penting yang akan di editnya sesuai koreksi Arya.
"Tunggu Yang" seru Arya yang memegang cangkir kopinya.
"Ya bang, ada apa?" tanya Dinda mengerutkan keningnya bingung.
"Yang, kamu lupa kasih gula kopi abang ya?" jawab Arya yang masih memegang cangkir kopi itu ditangan kanannya.
"Gak kok bang, aku buat sesuai takaran yang abang suka... dua sendok teh kopi, dua sendok teh gula, seperti biasanya" jawab gadis manis itu.
Arya berusaha menahan tawanya "masak sih, tapi kok pait ya, kalau gak percaya sini deh kamu cobain?" ujarnya pura-pura binggung dan memberikan cangkir kopi yang ia pegang pada Dinda.
Dinda menuruti perintah Arya lalu berjalan mendekati kursi kerja lelaki tampan mempesona itu dan berdiri di sebelah kirinya.
"Sendoknya mana bang, boleh aku pinjam?" ujar Dinda.
"Gak usah pake sendok Khaiyang, langsung diminum dari cangkirnya aja, tapi tiup dulu masih panas" ucap Arya.
Dinda memegang cangkir kopi berwarna putih bercampur warna gold itu lalu meniup pelan cairan berwarna hitam yang ada di dalamnya. Dinda mengangkat cangkir kopi itu ke mulut tipisnya lalu mencicipi kopi itu.
'Apa yang pait ya, manis gini kok, apa bang Arya sakit ya? sampai gak berasa gitu lidahnya' ujar Dinda.
"Manis kok bang" seru Dinda lalu meletakkan kembali cangkir yang ada di tangannya di atas meja Arya.
__ADS_1
"Masak sih manis? sini aku coba lagi deh" ucap Arya lalu mengambil cangkir kopi yang ada di hadapannya dan meminumnya pas di bekas bibir gadis disebelahnya.
"mmm nikmatnya... kok bisa jadi manis gini ya Yang, apa karena kamu nyoba minumnya langsung dari cangkir kopinya ya? atau karena abang minum kopinya Sambil mandangi wajah manis kamu?" tanya Arya dengan senyum mengoda.
"iiish... bang Arya bikin kesel aja pagi-pagi, dasar Hrithik Roshan KW nyebelin" ucap Dinda dengan bibir bawah ia majukan pura-pura kesal dan berjalan ke pintu keluar ruangan Arya.
Arya pun tertawa geli dan memagang perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa melihat tingkah laku Dinda yang mengemaskan jika sedang kesal.
Dinda sebenarnya sangat suka dengan tingkah usil Arya, itu salah satu yang selalu membuatnya rindu pada lelaki itu. Disaat Mereka bahagia, ada yang tidak menyukai kedekatan mereka yaitu Tia sepupu Lania, ia pun menyebarkan gosip pada karyawan di kantor bahwa Dinda menggoda Arya dan merebut lelaki itu dari Lania.
Dinda sangat risih dan tidak nyaman dengan berita-berita miring tentang dirinya di kantor tetapi Arya selalu menguatkan Dinda dan selalu berusaha melindungi gadis cantik itu, sehingga Dinda tak memperdulikan omongan buruk orang lain tentangnya.
*****
Danu membelokan mobil sedan merahnya ke halaman gedung perusahaan yang Arya pimpin.
"Dan, berhenti di sini" ucap Adryan memerintahkan Danu menghentikan mobilnya saat melewati pintu masuk kantor.
"Lu aja yang parkir mobilnya, gue mau langsung masuk, gak sabar mau nemui pujaan hati" ucap Adryan, mengelingkan mata kanannya lalu meletakkan kedua tangannya di dada lalu ia tersenyum dan keluar dari mobil milik Danu.
"Dasar bule bucin" ucap Danu lalu mengelengkan kepalanya kiri dan ke kanan.
Adryan berjalan cepat seperti berlari kecil.
"Pagi Pak Adryan" sapa Pak Susanto yang berjaga di depan pintu kaca berwarna hitam.
"Pagi juga Pak" jawab Adryan dengan senyum lalu masuk ke dalam kantor dan berjalan kearah lift.
'Ya Tuhan, ni lift lama banget ya, gak tau apa orang udah kangen banget gini mau ketemu pujaan hati' ujar Adryan dalam hati.
__ADS_1
Dia menekan tombol naik ke atas pada lift dengan tidak sabar, akhirnya pintu lift terbuka. Adryan masuk ke dalam lift lalu menekan tombol lantai yang ia tuju.
Ting...
Bunyi lift saat sampai di lantai tiga, Adryan keluar dari lift dan berjalan cepat kearah meja kerja Dinda Mahkota jiwa yang sangat ia rindukan. Adryan melihat Dinda sedang berkutat dengan laptop di depannya, ia tersenyum melihat kearah gadis manis itu, gadis manis yang membuatnya setengah mati merindu.
"Hai cantik, Selamat Pagi" ucap Adryan saat berada di depan meja kerja Dinda.
Dinda menaikkan wajahnya, lalu tersenyum manis pada Adryan yang ada dihadapannya "Pagi, Mas Adryan" ujar gadis itu.
'Ya Tuhan, senyumnya manis banget, senyum ini yang selalu buat gue kangen, bisa diabetes gue kalau tiap hari di kasih senyum kayak ini' ujar Adryan dalam hati lalu senyum-senyum sendiri.
"Mas Ryan mau ketemu, Bang Arya" tanya Dinda menbuat Adryan terkejut.
"hah... gak kok, aku cuma mau antar ini buat kamu" ucap Adryan memberikan kantong kertas berwarna gold yang ia bawa pada Dinda.
Dinda mengerutkan keningnya, ia ragu-ragu menerima pemberian pria tampan yang ada di hadapannya itu. Adryan menangkap ke raguan yang terlihat di wajah Dinda. Adryan mengambil tangan Dinda lalu meletakkan kantong kertas yang ia bawa.
"Terima ya Din, jangan buat aku kecewa, please" ujar Adryan lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, memohon.
Melihat wajah memohon Adryan, Dinda merasa tidak tega dan Dinda terpaksa menerima kantong kertas yang dibawa lelaki tampan itu.
"Makasih ya bang" ucap Dinda menerima pemberian Adryan.
"Sama-sama Cantik" ujar Adryan.
Adryan tak puas-puas memandangi wajah gadis manis itu.
Cinta memang buta, ia tak tau akan memilih siapa yang akan ia singgahi.
__ADS_1
Bersambung...
Mohon bantuannya untuk author agar tambah semangat... tolong like, comen dan pencet tombol favorit ♥️ ya, terimakasih 🙏🙏