
Flash back
'gue harus menemui Arya, gue gak mau berpangku tangan dan menunggu cinta sejati gue direbut oleh cewek jelek itu, ternyata dia sangat beruntung, kenapa tuh cewek gak mati aja sih, jangankan mati, cacat aja dia enggak padahal gue udah nabrak dia dengan kecepatan mobil di atas rata-rata, kayaknya gue harus lakuin hal yang lebih gila lagi dari kemarin' Lania membatin, ia sangat kesal karena mengetahui Dinda tidak mengalami luka parah seperti yang ia inginkan.
Lania memasuki perusahaan yang di pimpin oleh Arya, sebelum menemui pujaan hatinya, gadis cantik nan seksi itu mampir ke ruangan Tia sepupunya. Setelah sampai di depan pintu ruangan Tia, Lania mengetuk pintu berwarna coklat tua itu.
tok... tok... tok...
Lania membuka pintu dan menyumbulkan kepalanya ke dalam ruangan, " Hai Lan, masuk" ucap Tia.
Lania memasuki ruangan yang bercat putih itu, lalu duduk di atas sofa yang ada di ruang kerja Tia. Wanita itu berdiri lalu mengikuti Lania duduk di sofa berwarna coklat itu.
"Ada Angin apa nih pagi-pagi dah datang keruangan gue ? tumben banget lu, biasanya langsung ke ruangan pujaan hati" goda Tia yang sudah duduk di sebelah kiri Lania.
"Emangnya harus ada alasan gitu kalau gue mau ketemu sepupu gue? emang gue gak boleh mampir ya?" ucap Lania pura-pura kesal dengan bibir bawahnya dimajukan.
"Hahahaha... boleh dong, masak gak boleh sih, oh ya lu mau minum apa nih? biar gue suruh OB ambilin"
"Gak usah repot-repot Ti, gue cuma bentar aja kok, gue harus temu Arya sebelum sekretarisnya yang jelek itu ngerebut dia dari gue, gue kesel banget Tia liat cewek jelek dan kampungan itu, dia menggoda Arya sampai Arya berani ninggalin gue, sikap Arya jadi aneh setelah sekretaris jelek itu ada, lu tau gak waktu acara birthdaynya Pak Suryo Arya datang bawa cewek jelek itu dan cuekin gue, lu bayangin gimana malunya gue, apa lagi ada Bella di sana dia bully gue karena liat Arya sama cewek kampung itu" ucap Lania panjang lebar dan berapi-api.
Tia ikut terpancing emosinya mendengar omongan Lania yang panjang lebar dan berapi-api.
__ADS_1
"Lu tenang aja Lan, Arya gak mungkin suka sama cewek jelek kayak gitu, lu lebih menarik, lebih seksi, Arya cuma belum bisa move on dari mantannya, lu harus berusaha lebih baik lagi itu aja, lu harus lebih perhatikan dan peduli sama dia, lama-lama Arya juga bakal luluh dan lupain mantannya, kalau soal sekretaris Arya biar gue yang urus, oke? lu tenang aja" ujar Tia menenangkan Lania.
"Ya udah, gue ke ruangan Arya dulu ya Ti" seru Lania lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Oke, lu yang semangat, oke? jangan hiraukan cewek jelek itu, gue yakin Arya pasti lebih milih lu dari pada cewek kampung itu" ucap Tia lagi.
"Gue pergi ya, bye" ujar Lania lalu mencium pipi kanan dan kiri sepupunya itu. Lania keluar dari ruang kerja Tia dan berjalan menuju lift.
Sesampai di depan pintu ruangan Arya, Lania melihat pintu coklat itu agak terbuka dan ia melihat Arya sedang berdiri membelakangi pintu ruang kerjanya, lelaki tampan yang berkharisma itu memegang sebuah map dan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Lania masuk ke dalam ruangan Arya dan memeluk lelaki itu dari belakang.
Arya terkejut saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya, lelaki itu membalikkan badannya, mengerutkan dahinya melihat wajah yang ia lihat ternyata Lania.
"Ada apa kamu datang ke sini?" ujar Arya dingin lalu melepaskan tangan Lania yang melingkar di pinggangnya.
Arya melepaskan tangan Lania dengan paksa yang memeluk lengannya.
"Maaf Lan, aku lagi banyak kerjaan" ucap Arya.
Mendengar ucapan Arya, Lania jadi sangat marah wajahnya menjadi memerah.
"Kamu kenapa sih Ar? kenapa sikap kamu ke aku jadi aneh gini? apa karena sekretaris kamu yang jelek dan kampungan itu?" tanya Lania dengan suara yang ditinggikan karena sangat marah dengan Arya.
__ADS_1
"Stop Lania, jangan pernah menghina Khaiyang, tolong keluar dari ruanganku sekarang juga, keluar" ucap Arya dengan rahang yang mengeras dan meninggi karena kesal mendengar wanita yang ia cintai dihina oleh orang lain.
Lelaki itu benar-benar marah dengan Lania sehingga ia tidak bisa lagi menahan amarahnya dan membentaknya. Lania terkejut mendengar bentakan Arya padanya, ia sangat kesal dan merasa terhina.
'Gue gak akan lepasin lu Arya, gue harus dapatin lu, liat aja, lu akan jadi milik gue, gue akan lakuin apa aja buat dapetin yang gue suka' janji Lania dalam hati dan menatap Arya tajam dan keluar dari ruangan pria itu.
Saat keluar dari ruangan Arya, di luar ruangan Lania bertemu dengan Dinda. Ia sangat kesal dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Lania berjalan dan menabrak bahu kanan Dinda dengan kasar sehingga membuat gadis itu terhuyung.
'Aww' gumam Dinda kesakitan memegang bahunya yang terasa nyeri.
Lania berbalik dan menghadap pada Dinda, ia tersenyum miring dan sulit diartikan pada gadis yang menjadi rivalnya itu.
"Kalau gue gak bisa dapatin Arya, maka yang lain juga gak akan bisa dapetin dia, termasuk Lo, Arya cuma milik gue, gue akan lakuin apa aja buat dapetin dia, gue bisa buat lu pergi dari kantor ini tuk selama-lamanya, Lo paham?" ucap Lania memegang pergelangan tangan Dinda kasar, gadis itu meringgis kesakitan. Setelah puas Lania pergi meninggalkan Dinda dengan pergelangan tangan yang memerah.
'Apa maksud mbak Lania sih, kenapa dia marah-marah ke aku ?, aku lakuin apa sama dia? dasar aneh, cantik-cantik kok sedeng sih? aduh tanganku jadi merah gini lagi, sakit banget... trus tadi mbak Tia sepupunya ngomel-ngomel gak tau kenapa trus lirik-lirik aku, emang aku salah apa ya, bingung' Dinda membatin.
Dinda berjalan mendekati ruangan Arya dengan pintu masih terbuka lebar, ia melihat lelaki tampan nan berkharisma itu sedang duduk di kursi kerjanya yang nyaman dan sibuk dengan pekerjaannya.
flash back Off
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa bantu Author dengan pencet tombol favorit ♥️, like 👍 dan komentar di setiap episodenya, terimakasih 😘
HAPPY READING ♥️♥️