
Tiba di Surabaya, Zidan dan Zahra menuju ke hotel yang telah dipesan oleh Dirga. Zidan merapikan setelan jas yang akan dipakainya besok ke pesta. Zahra tidak berani menentukan pakaian apa yang akan dia pakai. Mereka berdua membawa tas sendiri-sendiri untuk keperluan menginap semalam.
Zidan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi duluan. Tak lama dia keluar memakai baju casual.
"Buruan mandi, setelah itu kita cari makan" perintah Zidan.
"Iya, Mas" Zahra menurut, dia mengambil baju ganti terlebih dahulu kemudian baru masuk ke kamar mandi.
"Baru kali ini dia mau bicara, tapi tetap aja dingin" gerutu Zahra di dalam kamar mandi.
"Kenapa nggak makan makanan yang disiapkan hotel saja, Mas?" tanya Zahra ragu.
"Kelamaan, kalau kamu mau makan di hotel, ya, silahkan" jawab Zidan dengan ketus.
"Kalau Mas keberatan mengajakku, aku makan di hotel saja" ujar Zahra lagi.
"Yang bilang keberatan ngajak kamu itu siapa??" tatap Zidan emosi.
Zahra hanya menunduk, situasi bersama Zidan selalu kaku dengan sikap dinginnya.
Akhirnya Zahra hanya mengekor di belakang Zidan. Entah Zidan mau mengajaknya makan dimana.
Ternyata Zidan mengajaknya makan di sebuah cafe. Zahra duduk di hadapan Zidan sambil matanya mengedarkan pandangan di dalam cafe. Baru pertama kali makan berdua begini dengan laki-laki meskipun dengan Zidan yang berstatus suaminya.
"Pilih aja, mau makan apa terserah kamu" ujar Zidan datar sambil memberikan daftar menu setelah dia memilih.
"Ugh, jadi nggak nafsu makan kalau yang mengajak nggak ada manis-manisnya sama sekali" batin Zahra.
Mereka pun makan tanpa banyak bicara, sesekali Zidan mengamati Zahra ketika sedang makan. Pelan dan tenang.
"Assalamualaikum" sapa seorang laki-laki tampan mendekati meja mereka.
"Waalaikumsalam" jawab Zahra dan Zidan serempak. Zidan menatap laki-laki itu, dia merasa tidak mengenalinya. Atau Zahra yang dikenalnya.
"Ochi, kan?" tunjuknya ke arah Zahra.
"Iya, Mas" jawab Zahra tersenyum kecil.
__ADS_1
"Masih ingat saya, Chi ?"
"Iya, Mas Bayu, kan?. Senior yang jadi idola kaum hawa di kampus" jawab Zahra.
"Termasuk kamu kan, Chi?" tanya Bayu bercanda.
Zidan menatap tajam ke arah Zahra. Kehadirannya seolah tidak dianggap oleh Bayu. Zahra yang menyadari ekspresi wajah Zidan tidak menjawab pertanyaan Bayu.
"Ehem" Zidan berdehem agar Bayu tahu ada orang lain di antara mereka.
"Siapa, Chi?" tanya Bayu sambil mengulurkan tangannya kepada Zidan.
"Saya Zidan, suaminya" ujar Zidan memperkenalkan diri sambil menyambut tangan Bayu.
"dr.Bayu, senior Ochi" balas Bayu.
"Oh, kamu ternyata udah menikah, Chi. Maaf ya Mas, ucapan saya tadi hanya bercanda" sambung Bayu merasa tidak enak dengan Zidan.
"Ochi ini banyak yang ngefans lho, Mas. Selain pintar, dia juga aktif berorganisasi di kampus" puji Bayu.
"Oya? Saya tidak tahu hal itu" ujar Zidan sambil melirik Zahra. Memang dia belum banyak tahu tentang Zahra, karena memang Zidan tidak mau tahu.
"Hm, ternyata banyak juga laki-laki tampan yang menyukainya" batin Zidan tidak suka.
Sungguh dia merasa tersaingi dengan laki-laki yang menyukai Zahra, mula dari Adam, Agung kini Bayu.
Ada perasaan aneh yang menghinggapi hati Zidan. Setelah Bayu pergi, tak lama mereka berdua pun kembali ke hotel.
Keesokan paginya, Zidan dan Zahra siap berangkat ke pesta. Mereka tidak bisa lama di pesta karena mengejar jadwal pesawat.
"Lho, Zi kapan nikahnya? Kok, nggak ngundang Om?" tanya Pak Yasir ketika bersalaman hendak pamit pulang. Dia melihat Zidan menggandeng tangan Zahra naik ke atas panggung.
"Baru akad nikah, Om. Nanti resepsinya kita akan mengundang Om, kok" jawab Zidan.
"Oke, makasih ya udah datang. Salam buat papa kamu" ujar Yasir tersenyum. Zidan berlalu. Tanpa sadar tangannya masih menggandeng tangan Zahra sambil berjalan cepat.
"Mas, jalannya bisa pelan nggak?" tanya Zahra pelan dengan napas ngos-ngosan mengikuti langkah besar Zidan.
__ADS_1
Zidan yang baru sadar kalau dia telah menggenggam tangan Zahra segera melepaskan genggamannya dan bersikap cool seolah-olah tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Setelah tiba di hotel dan mengemasi pakaian mereka segera menuju bandara untuk pulang.
***
Zahra Pov
Sejak pulang dari Surabaya, sikap dingin Mas Zidan sedikit berkurang. Masih teringat ucapannya dengan Pak Yasir di pesta bahwa dia akan mengundang Pak Yasir di acara resepsi pernikahan kami nanti. Ya Tuhan, apa dia sudah membuka hatinya untukku. Entahlah, aku juga bingung melihat sikapnya.
Malam ini aku mau bergadang saja. Ku lihat Mas Zidan sudah terlelap tidur di atas ranjang. Kalau dia sudah ada di sana duluan, aku tidak mungkin tidur di sampingnya. Dia pasti akan marah.
Aku mengeluarkan laptopku dan melanjutkan ketikan skripsiku. Mumpung Mas Zidan tidur. Aduh tapi kenapa malam ini mataku sudah 5 watt aja baru juga jam 10. Dua minggu lagi aku harus bayaran SPP. Fix, aku sidang semester depan. Pak Koriq tidak menyetujui kalau bulan ini aku sidang. Skripsiku belum sempurna. Tanpa sadar aku sudah terlelap tidur karena kelelahan.
Zidan Pov
Karena tidur lebih cepat, jam 12 malam aku terjaga. Seingatku tadi, aku tertidur di atas ranjang lalu ke mana Zahra? Di sampingku dia tidak ada. Biasanya memang aku tidur di sofa. Aku bangun sambil mengerjapkan mata, ku lihat Zahra duduk di lantai dengan tangan sudah bersilang memangku kepalanya di atas meja. Laptopnya pun masih menyala, dia pasti melanjutkan skripsinya lagi. Setelah ku matikan laptopnya, ku angkat tubuhnya ke atas ranjang. Wajahnya terlihat pucat. Apa dia sakit? Lalu ku pegang keningnya. Ya Tuhan, panas sekali badannya. Aku cepat-cepat keluar kamar untuk membangunkan mama.
“Zi, kompres saja keningnya dengan air hangat kuku supaya panasnya turun. Nanti kalau belum turun juga besok pagi kita bawa ke rumah sakit” kata mama tersenyum melihat raut wajahku yang sedikit panik.
Aku menuruti perintah mama lalu kembali lagi ke kamar. Ku kompres kening Zahra dengan handuk kecil.
“Pak Koriq ... Pak Koriq” gumam Zahra memanggil nama laki-laki.
Hal itu membuatku terkejut. Siapa Koriq? Kenapa Zahra mengingau memanggil nama laki-laki itu. Rahangku mengeras mendengarnya memanggil nama laki-laki lain.
“Pak Koriq, saya mau sidang bulan ini. Tolong acc skripsi saya, Pak ... tolong, Pak” lanjut Zahra mengigau.
Aku bernapas lega sambil tersenyum menatap wajah Zahra dengan mata yang masih terpejam. Ternyata dosen pembimbingnya. Ku genggam tangannya yang masih terasa hangat karena demam.
“Pak, saya tidak punya uang. Semester ini harus sidang, Pak” Zahra masih mengigau dengan airmata yang mengalir dari sudut matanya.
Aku terkesima melihatnya. Ya Tuhan, dia sampai mengigau tentang skripsinya. Jika dia tidak sidang bulan ini artinya Zahra harus membayar SPP lagi. Dia bilang tadi apa? Tidak punya uang.
"Gadis bodoh!! Kau kan bisa memakai ATM yang sudah ku berikan" makiku sambil menatap wajah polosnya.
Aku mengganti lagi kompres di keningnya sambil berdoa di dalam hati semoga panasnya cepat turun. Tanpa sadar aku menggenggam tangannya lagi.
"Zahra hatimu terbuat dari apa? Mama dan papa sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri. Mereka sekarang lebih perhatian denganmu dibandingkan denganku. Tapi kenapa masalah ini kamu tanggung sendiri sampai demam begini. Kau tidak menganggapku sebagai suami, aku terima. Tapi orang tuaku jangan kau samakan" batinku kesal dengan sikapnya yang terlalu mandiri.
__ADS_1