Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 30 Wisuda


__ADS_3

Hari wisuda yang dinantikan Zahra telah tiba. Zidan menemaninya Zahra, dia merasa bangga ketika nama Zahra disebut sebagai mahasiswi yang mendapat predikat cumlaude. Zidan tak lupa mengabadikan moment ketika Zahra berdiri di panggung menerima ijazahnya.


“Selamat ya, Sayang. Mas bangga sekali punya istri seperti kamu” puji Zidan memencet hidung Zahra.


“Makasih, Mas, tapi nggak usah pake pencet hidung segala” ujar Zahra cemberut.


“Hehehe. Habisnya Mas gemas melihat istri Mas hari ini” ujar Zidan.


“Ayo kita pulang. Mama dan papa udah menunggu di rumah” ajak Zidan.


“Ochi, selamat, ya” peluk Monica menghampiri pasangan itu.


“Makasih, Mon” balas Zahra memeluk Monica.


“Doain aku cepet nyusul, ya” ucap Monica .


“Nyusul yang mana, Mon?” celetuk Zidan.


“Nyusul wisuda, Mas Zidan!!” teriak Monica sebel, pasti Zidan mengira dia minta didoakan cepat nyusul nikah. Monica belum kepikiran, dia masih mau fokus kuliah dan coas dulu.


“Iya, Insya Allah nggak lama lagi kamu wisuda. Semangat kerjakan skripsinya” ujar Zahra memotivasi Monica.


“Eh...nggak lama lagi Om Adam mau merried, lho” ucap Monica.


Zidan dan Zahra terkejut mendengarkan berita itu dari Monica. Terutama Zidan, nggak ada angin tiba-tiba Adam mau menikah.


“Sama siapa, Mon?” tanya Zahra penasaran.

__ADS_1


“Sama guru ngaji adik ku. Ternyata jodoh Om Adam selama ini ada di depan matanya. Hahaha” jawab Monica terbahak.


Zahra dan Zidan ikut bahagia, Adam sudah menemukan tulang rusuknya. Mereka berdua tinggal menunggu undangan langsung darinya. Ternyata Adam bisa juga move on dari Zahra.


***


"Selamat ya, menantu mama tersayang" sambut Nancy ketika Zahra dan Zidan tiba di rumah begitu juga dengan Dirga.


Kedua mertuanya sengaja tidak ikut ke acara wisuda Zahra karena mempersiapkan acara kecil di rumah untuk mereka berempat.


"Makasih, Ma"


Zahra mencium punggung tangan Nancy. Nancy pun menarik Zahra ke dalam pelukannya.


"Papa nggak diucapin makasih juga, nih" rajuk Dirga. Zidan hanya mesem-mesem melihat kedua orang tuanya begitu menyayangi istrinya.


"Iyalah. Makasih juga buat papa"


"Udah, ah. Laper nih, Ma" ujar Zidan melirik mamanya.


"Iya ... ya, ayo kita makan. Semua udah mama siapkan. Masakan spesial untuk hari ini" ajak Nancy kepada semua anggota keluarga.


"Zidan pasti makin sayang, iya nggak?" bisik Nancy ke telinga Zahra sembari berjalan menuju meja makan.


"Iya, Ma. Sayang dan cinta banget" balas Zahra lalu tertawa kecil. Zidan yang berjalan di belakang Zahra mengeryitkan dahinya.


"Apa sih yang mereka bicarakan sampai bisik-bisik segala" batin Zidan.

__ADS_1


***


"Mas, udah malam. Mas nggak ngantuk apa?" tanya Zahra menghampiri Zidan di ruang kerjanya yang tidak jauh dari kamar.


"Bentar lagi, kalau kamu udah ngantuk duluan aja. Nggak usah tunggu Mas" jawab Zidan masih fokus di depan layar laptopnya.


"Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada Mas" rengek Zahra manja.


Kehamilannya kali ini entah kenapa dia selalu ingin nempel terus dengan Zidan. Zahra baru bisa tertidur dalam pelukan Zidan sambil mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit.


"Iya, bentar Sayang. Lagi tanggung, duduk dulu di sofa sana, ya" perintah Zidan pelan.


Dengan malas Zahra menuju ke sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja. Zahra berbaring di atas sofa sambil memandang ke arah Zidan. Sesekali Zidan pun melirik ke arahnya sambil tersenyum.


"Aku tidak menyangka laki-laki yang dulunya begitu dingin dan tidak menginginkan ku sekarang sangat hangat, perhatian dan sayang kepada ku. Ayah, Ibu, anak mu ini tidak akan kesepian lagi karena Allah telah mengganti kalian dengan kedua mertua ku yang sayang sama seperti kalian menyayangi aku. Dan tidak lama lagi rumah ini akan diwarnai oleh tangisan buah cinta ku dan Mas Zidan, cucu kalian" tanpa disadari air mata Zahra mengalir deras lalu terisak menangis. Zahra cepat-cepat menghapus air matanya.


Zidan yang melihat Zahra menangis pun segera mematikan laptopnya dan menghampiri Zahra.


"Sayang, kamu jangan menangis, ya. Mas minta maaf" ujar Zidan dengan raut wajah bersalah. Zahra masih menghapus air matanya yang belum berhenti mengalir.


"Zahra!" panggil Zidan panik melihat istrinya banjir air mata.


Zahra kemudian duduk namun masih membisu. Membuat Zidan bingung dan bingsal.


"Sayang, Mas benar-benar minta maaf" Zidan meraih tangan Zahra lalu mengecup punggung tangannya.


Zahra tersenyum melihat Zidan yang begitu panik melihatnya menangis.

__ADS_1


"Mas sudah selesai?" tanya Zahra dengan mata masih bekaca-kaca.


"Iya, ayo ke kamar" ajak Zidan lega melihat Zahra berhenti menangis yang dipikir Zidan penyebab Zahra menangis karena dirinya.


__ADS_2