
Hari ketujuh
Monica sangat sedih melihat keadaan Zahra yang belum ada perkembangan juga. Bersama Adam, dia membesuk Zahra untuk yang ketiga kalinya.
“Mas Zidan bagaimana keadaan Ochi?” tanya Monica duduk di samping Zahra.
“Ochi masih koma” gumam Adam melihat mata Zahra masih terpejam.
“Iya, Dam, Mon. Zahra belum juga sadar” jawab Zidan dengan wajah sendu.
“Yang sabar, Zi. Serahkan kepada Yang Maha Kuasa” hibur Adam. Dia juga ikut merasakan kesedihan Zidan. Istri yang sedang koma dan juga kehilangan calon anaknya.
“Mas bacakan Quran aja. Soalnya Zahra kalau di kampus suka mendengerkan murotal Quran pakai headset. Tapi kalau Mas langsung yang membaca siapa tahu alam bawah sadar Zahra bisa merespon” saran Monica mengingat kebiasaan Zahra ketika di kampus.
“Iya, Zi. Coba aja. Selain banyak berdoa, kamu harus merangsang alam bawah sadar Zahra agar merespon” kata Adam ikut memberi semangat lalu menjabat tangan Zidan sekalian pamit pulang.
“Terima kasih atas support kalian. Akan ku coba” ujar Zidan membalas jabatan Adam.
__ADS_1
***
Sesuai saran Monica, Zidan meminta tolong mamanya agar membawakan Al Quran milik Zahra. Ya, Zidan juga sering mendengarkan Zahra membaca Quran setelah sholat subuh. Zidan malu sekali, sementara dia sudah lama sekali tidak menyentuh Al Quran apalagi membacanya. Bukannya dia tidak bisa membaca Quran, tapi karena sudah lama tidak membacanya, dia sedikit kagok. Untung Zidan tidak lupa huruf hijaiyah sehingga tetap bisa membaca Quran. Awalnya sering keseleo membacanya, tapi karena rutin setiap habis sholat Zidan membaca Quran di samping Zahra lama-lama lancar juga.
***
Hari kesepuluh
Mamanya menitikkan airmata setiap melihat Zidan membacakan Quran untuk Zahra. Sejak Zahra koma, sikap Zidan lebih religius. Ada hikmahnya juga buat anaknya. Pikir mama Zidan. Nancy menghampiri Zidan yang sedang khusyuk membaca Quran. Nancy mengoyang pundak Zidan saat melihat sudut mata Zahra mengeluarkan airmata.
“Zi, coba kamu lihat” tunjuk mamanya. Zidan memperhatikan mata Zahra. Sudut matanya menitikkan airmata.
“Walaupun belum sadar, tapi Zahra merespon bacaan Quran mu, Zi. Kamu jangan lupa baca terus, ya” kata mamanya semangat. Zidan mengangguk.
Alam bawah sadar Zahra.
Aku berjalan di padang yang luas yang tak berujung. Kenapa aku berada di sini sendirian. Di mana Mas Zidan, mama dan papa?. Tiba-tiba dua sosok orang muncul dari balik cahaya yang membuat mataku silau. Semakin dekat semakin jelas wajah mereka.
__ADS_1
"Ayah! Ibu!" Pekik ku melihat mereka.
Aku menangis. Aku merindukan mereka. Tapi ada jarak di antara aku dan mereka.
“Zahra, ikutlah bersama kami” kata Ibu.
“Iya, Zahra. Sebelum terlambat, ikutlah bersama ayah dan ibu” sambung ayah ku.
Tiba-tiba terdengar suara lantunan Quran seorang laki-laki di belakang ku. Aku menoleh melihatnya.
“Mas Zidan!” gumam ku melihatnya duduk sedang membaca Al Quran. Tapi Mas Zidan tidak melihat ku.
“Zahra, ayo” ibu mengulurkan tangannya kepada ku.
Aku bingung di depan ku ada ayah dan ibu yang mau mengajak ku pergi sementara aku juga melihat Mas Zidan sedang khusyuk membaca Al Quran. Aku bahagia melihatnya telah berubah.
“Tidak, ayah dan ibu sudah meninggal. Belum waktunya aku ikut kalian” tolak ku lalu menatap ke arah Mas Zidan.
__ADS_1
Aku baru ingat kalau ayah dan ibu ku sudah meninggal. Lama-lama bayangan ayah dan ibu ku menjauh lalu menghilang. Ayah! Ibu! Teriak ku memanggil mereka. Aku menangis sesegukan melihat mereka berdua pergi meninggalkan ku.