Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 9 Pulang


__ADS_3

Zahra Pov


Sejak bertemu dengan Mas Zidan di restoran, aku belum pulang ke rumah mertuaku. Lagipula aku kan sudah izin selama tiga hari. Aku malu bertemu dengan Mas Zidan. Dasar Monica!! Mulutnya kok ember sekali pakai menyebutkan tipe cowokku segala. Dia nggak tau kalau pria yang duduk di depanku itu adalah suamiku sendiri. Entah kapan Mas Zidan akan mengumumkan pernikahan kami. Atau dia tidak akan mengumumkannya sama sekali, dengan begitu dia akan mudah membuangku tanpa bekas. Ah, malang sekali nasibku.


Memang benar kalau ku perhatikan penampilan Pak Adam memang sedikit berbeda. Pak Adam memanjangkan jenggotnya. Selama ini aku kan jarang menatap mukanya langsung ketika sedang berbicara dengannya, jadi aku tidak begitu tahu persis perubahan di wajahnya.


Tok.Tok.Tok.


Suara pintu rumahku diketuk. Siapa, ya? Aku langsung membukakan pintu rumah karena memang sedang duduk di ruang tamu sambil mengerjakan skripsiku setelah Monica pulang. Aku tersentak kaget melihat pria berwajah tampan sedang berdiri di muka pintu.


“Ma ... Mas Zidan” gumamku gugup.


Ngapain dia ke sini?. Jantungku berdetak kencang melihat dia menatapku intens. Aku menunduk dan mempersilahkannya masuk. Ya Tuhan, aku lupa membereskan skripsiku di ruang tamu. Aku berjalan agak cepat lalu mengambil berkas-berkas yang berserakan di atas meja lalu membawanya ke kamar. Aku kembali menemuinya yang masih berdiri di ruang tamu.


“Bereskan semuanya. Kamu pulang sekarang juga” tegasnya menatapku tajam.


Aku cukup kaget mendengarkan perintahnya. Dia kok semakin dingin saja apalagi setelah pertemuan di restoran kemarin.


“Besok saja, Mas. Nanti Mas lama menunggu jika aku harus mengemasi barang-barangku sekarang” kataku menolak ajakannya.


“Aku tunggu!!” ucapnya seolah tidak mendengarkan ucapanku tadi.


Dia lalu duduk di sofa dengan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil melihatku yang masih berdiri mematung tidak jauh darinya.


Aku mendesah dan terpaksa menuruti kemauannya. Sebenarnya untuk apa juga aku ada di rumah jika kehadiranku saja tidak pernah dianggapnya. Kira-kira Mas Zidan tau nggak ya kalau aku bekerja di perusahaannya? Sebagai Office Girl pula. Atau dia udah tahu dari Pak Adam, yang baru aku tahu di restoran kalau Mas Zidan adalah atasan Pak Adam. Jangan-jangan Mas Zidan menjemputku karena marah setelah tahu kalau aku menjadi Office Girl di perusahaan papa mertuaku sendiri. Dan itu membuatnya malu. Aduh bagaimana ini. Aku cepat-cepat memasukkan laptop ke dalam ranselku lalu keluar menemuinya.

__ADS_1


“Ayo, Mas. Aku udah siap” ajakku. Dia berdiri lalu keluar rumah. Ugh, masih saja sedingin es sikapnya.


****


"Aku udah tahu semua tentangmu, Zahra. Kau takut sekali kalau aku tahu kau sedang mengerjakan skripsi kedokteranmu itu" batin Zidan.


Zidan fokus menyetir mobilnya tanpa melirik Zahra yang sedang duduk cemas di sampingnya. Zahra tidak tahu apa tujuan Zidan meluangkan waktunya untuk menjemputnya pulang. Harusnya Zidan senang kalau Zahra tidak ada di rumah.


Sepanjang jalan menuju rumah suasana di dalam mobil begitu hening. Tidak ada yang mau memulai percakapan di antara mereka. Mereka berdua pun sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Apa Mas Zidan marah, ya? Kok, diam aja. Emang orangnya irit bicara dan terkesan dingin denganku" batin Zahra.


Sesampai di rumah, mama Nancy sempat heran melihat Zidan dan Zahra keluar dari mobil yang sama. Nancy juga heran karena Zahra sudah pulang padahal Zahra pamitnya tiga hari mau menginap di rumah mendiang orang tuanya. Lha, ini baru dua hari udah pulang bersama Zidan pula.


“Lho, Sayang udah pulang? Udah selesai bersih-bersih rumahnya?” tanya mama Nancy tersenyum sambil melirik ke arah Zidan. Ternyata Zidan menjemput Zahra pulang. Zidan tampak tidak peduli dengan tatapan heran mamanya.


Sementara Zidan langsung menuju ke kamarnya. Dia belum sempat mandi sepulang dari kantor tadi.


“Nggak. Mama malah nggak tahu kalau Zidan mau menjemput kamu pulang, kan kamu sendiri yang bilang mau menginap tiga hari di sana” jawab mama mertuanya heran.


“Hmm, berarti Zidan sendiri yang ingin kamu cepat pulang” mama Nancy menjawil hidung Zahra. Zahra hanya tersenyum tipis.


“Ayo, sana panggil Zidan. Mama siapkan makan malam”


“Iya, Ma” Zahra bergegas menuju kamar memanggil Zidan sekaligus membersihkan diri.

__ADS_1


Tiba di kamar, Zahra melihat Zidan duduk bersandar di kepala ranjang. Dia tampak sibuk dengan ipadnya.


"Mas, ditunggu makan malam di bawah" ujar Zahra sambil meletakkan tas ranselnya.


"Hmm. Duluan aja aku belum lapar" tolak Zidan tanpa menoleh ke arah Zahra.


Zahra tidak menanggapi ucapan Zidan. Dia meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi tanpa mengajak Zidan lagi Zahra keluar kamar menemui mertuanya.


"Lho, mana Zidannya, Za?" tanya Nancy heran melihat Zahra ke meja makan sendirian.


"Katanya belum lapar, Ma" jawab Zahra apa adanya. Namun tak lama mereka makan Zidan mendekati meja makan dan duduk di samping Zahra.


"Udah lapar, Zi?" sindir Nancy melirik Zidan. Zidan menatap mamanya bingung.


"Kalau mau makan ya nunggu lapar lah, Ma" jawab Zidan santai.


Zidan mengambil nasi dan lauk karena jauh Zahra pun mengambilkan lauk untuknya.


"Oya, Zi. Papa mau hari sabtu nanti kamu dan Zahra mewakili mama dan papa ke undangan pernikahan anak Pak Yasir.


"Apa!!" Zidan tampak terkejut mendengarkan permintaan papanya. "Memangnya papa dan mama mau ke mana?" tanya Zidan.


"Ada dua acara di waktu yang sama, Zi. Kalau papa tidak datang dan diwakilkan juga, papa nggak enak dengan Pak Yasir. Bagaimana pun Pak Yasir itu rekan bisnis papa. Tiket PP untuk kalian berdua sudah papa siapkan"


Zahra juga terkejut dengan permintaan mertuanya.

__ADS_1


"Itu artinya aku akan melakukan perjalanan jauh bersamanya yang acuh seperti itu. Benar-benar membosankan" batin Zahra.


"Oke. Sepertinya ini sudah harga mati" dengus Zidan. Dirga dan Nancy tersenyum melihat Zidan yang pasrah menerima permintaan mereka.


__ADS_2