
Zidan Pov
Aku terkejut bukan main ketika melihat Zahra masuk ke ruangan rapat. Dia memakai seragam Office Girl-nya. Rasanya ingin ku maki dia Berani-beraninya dia berpakaian seperti itu di depan ku. Sepertinya dia baru menyadari kehadiran ku di sana. Wajahnya terlihat tegang.
Ya, dia tidak tahu kalau aku sudah mengetahui pekerjaannya di sini. Dan yang membuat ku kesal, Adam memperhatikan Zahra dari awal masuk sampai keluar ruangan.
Hati ku benar-benar panas melihat Adam di depan mata kepala ku sendiri, dia menatap istri ku seperti itu. Aku sudah tidak tahan lagi untuk memberitahu Adam, siapa Zahra yang sebenarnya.
Selesai rapat, pikiran ku jadi tidak konsentrasi lagi. Apa Zahra tidak tahu dengan gelagat Adam yang menyukainya? Atau dia hanya pura-pura tidak tahu.
Waktu pulang, aku menuju ke parkiran menanti Zahra lewat karena pintu karyawan berada di belakang, di dekat parkiran. Tak lama beberapa karyawan Office Girl keluar, ku lihat ada Zahra juga bersama mereka. Zahra sudah berganti pakaian dengan gamisnya. Beberapa di antara mereka pun menyapaku.
“Zahra” panggil ku. Beberapa temannya menatap Zahra ketika ku sebut namanya.
“Chi, Pak Zidan memanggil kamu” bisik Yeyen. Zahra melihat ke arah ku.
“Kami duluan, ya” pamit yang lain karena takut melihat ku menatap mereka dingin. Zahra tampak serba salah setelah ditinggal pergi teman-temannya.
“Aku pulang bareng mereka aja, Mas” kata Zahra berjalan melangkah menjauhi ku. Ku tarik tangannya agar dia berhenti.
“Ikut aku. Masuk ke mobil” perintah ku dengan tegas.
__ADS_1
Zahra melihat ku lalu beralih ke tangannya. Aku pun melepaskan pergelangan tangannya. Dia menurut lalu masuk ke dalam mobil.
Selama di mobil. Hening tidak ada suara. Sekali-kali aku meliriknya. Dia kelihatan gelisah sekali. Apa dia merasa takut aku mengetahui kalau dia bekerja sebagai Office Girl.
“Kenapa? Kamu tidak suka pulang bareng dengan ku ?” tanya ku dingin tanpa menoleh ke arahnya.
“Nggak, Mas” jawabnya singkat sambil menggenggam kedua tangannya gelisah.
Aku tidak mau membahas apa yang sudah mengganjal di hati ku di dalam mobil. Ku tahan hingga kami sampai di rumah.
Sampai di rumah. Zahra langsung menuju ke kamar, aku pun menyusulnya dengan gemuruh di dada. Sekelebat bayangan Adam sedang menatapnya di ruang rapat tadi melintas di kepala ku. Mama yang ada tidak jauh dari kamar melihat kami dengan tatapan heran.
“Zahra. Bisa jelaskan semuanya?” tanya ku menatapnya tajam lalu melepaskan jas ku dan ku hempaskan di atas ranjang.
"Tapi kau tahu kan kalau aku pimpinannya" ucap ku marah.
Zahra hanya tertunduk membisu. Aku seperti sedang mengintrogasi anak yang ketahuan melakukan kesalahan.
“Aku tidak mau melihat mu memakai seragam Office Girl itu lagi” tegas ku.
“Aku tidak bisa, Mas” katanya pelan.
__ADS_1
“Zahra!!!” teriak ku mulai emosi. Aku menatapnya yang masih menunduk.
“Oh, jadi kau lebih suka membuatkan kopi untuk Adam rupanya” tatap ku sinis.
“Kau bahkan tidak pernah membuatkan untuk ku, suami mu sendiri” lanjut ku marah.
“Bukan itu, Mas” cicitnya.
“Sudahlah!! Kau juga menyukai Adam, kan?” tanya ku dengan nada tinggi.
"Kenapa Mas berpikiran seperti itu?" Zahra memberanikan diri melihat ku.
"Ck, kau ini naif sekali" aku menggeleng tidak percaya. "Semua orang juga bisa menebak dari cara Adam menatap mu bahwa dia menyukai mu, Zahra!"
“Cukup, Mas!! Asal Mas tahu, sedikit pun aku tidak ada perasaan apa pun dengannya. Darimana Mas bisa menilai ku seperti itu?" ujarnya dengan nada tinggi sambil menatap ku.
Aku memalingkan muka. Ada perasaan lega ketika keluar dari mulutnya sendiri bahwa dia tidak menyukai Adam.
"Lantas kenapa kau suka sekali menerima bantuan darinya, bukan kepada suami mu atau mama dan papa?" tanya ku penasaran.
"Aku menerima bantuannya bukan berarti aku harus menyukainya. Aku terpaksa menerimanya karena suami ku tidak peduli dengan ku dan tidak pernah menganggap ku sebagai istrinya. Sementara untuk meminta bantuan mama dan papa, aku malu karena mereka sudah terlalu baik dengan ku. Aku tidak mau membebankan mereka meskipun masalah ku akan selesai jika mereka tahu" jawaban panjang lebar Zahra benar-benar menohok ku.
__ADS_1
Ku akui memang benar saat dia ada masalah yang berhubungan dengan kuliahnya aku tidak peduli sama sekali dengannya. Sementara saat itu aku juga belum tahu bahwa Zahra dan Ochi adalah orang yang sama.
Aku keluar dari kamar untuk menenangkan diri. Aku sedikit tersinggung dengan ucapannya.